Bisnis dan Entrepreneurship | Lampu Islam

Hello world!

Pilar Kesuksesan
Bisnis Khadijah

Salah satu contoh mereka yang berhasil sukses dunia karena
melandasi setiap aktivitasnya dengan spiritualitas yang patut kita teladani
adalah beliau, yang mulia, ummul mukminin, Sayyidah Khadijah ra. Kita pasti
sangat mafhum dengan sejarah beliau semenjak sebelum hingga saat mendampingi
Rasulullah SAW.

Kesuksesan beliau sebagai perempuan, sebagai istri, dan juga
sebagai ibu, tidak akan lengkap jika kita tidak menyebut juga kesuksesan beliau
sebagai saudagar besar. Di zamannya, di saat sebagian besar perempuan
terkungkung dengan pekerjaan rumah tangga dan diremehkan oleh laki-laki,
Sayyidah Khadijah ra tampil menjadi perempuan yang malang-melintang di dunia
bisnis dan disegani oleh kaumnya.

Kita pasti akan heran sekaligus bertanya-tanya, apa gerangan
rahasia beliau sehingga bisa sukses, baik sebagai perempuan maupun sebagai
pebisnis. Tapi jika merunut sejarah secara teliti, maka kita akan menemukan
setidaknya 6 hal yang menjadi kunci sukses Khadijah ra.

Pertama, Sayyidah Khadijah ra memiliki level keimanan
yang kokoh serta tingkat spiritualitas yang mumpuni. Salah satu alasan kenapa
Rasulullah SAW memilih beliau menjadi pendamping hidupnya adalah karena
Rasulullah SAW tahu betul dengan kualitas keimanan Khadijah ra. Khadijah ra
merupakan satu dari sedikit wanita yang masih memegang teguh ajaran nabiyullah
Ibrahim as, sehingga di dalam dirinya telah terpatri kepercayaan akan keesaan
Tuhan semesta alam.

Mereka yang kuat iman, memiliki keberanian menghadapi segala model
kehidupan. Ia juga akan menaruh kepercayaan serta harapan 100% kepada Tuhan,
sehingga tidak ada dalam kamus mereka kata putus asa. Keimanan juga akan
mendorong tumbuhnya sikap percaya diri dalam setiap tindakan, karena tidak ada
satu pun yang melenceng dari takdir yang telah digariskan oleh Allah SWT. Sikap
simpatik, toleran, bersahabat, supel, tidak mudah tersinggung, hanya bisa
dimunculkan oleh mereka yang kesehatan jiwanya baik, sedangkan kesehatan jiwa
sangat bergantung pada tingkat kepercayaan diri yang dilandasi iman dan taqwa.

Dengan spiritualitas yang tinggi, seseorang akan mawas dengan
harta duniawinya, karena pada dasarnya semuanya adalah milik dan titipan dari
Allah SWT semata. Sikap mawas ini akan mendorong tumbuhnya jiwa aktris dan
dermawan dalam diri seseorang, karena merasa apa yang diperoleh tidak semata
untuk pribadi, namun juga terdapat hak-hak orang lain di dalamnya.

Kedua, Sayyidah Khadijah ra memiliki mental
wirausaha yang ulet. Beliau juga mempunyai tipikal pebisnis yang pandai
memanfaatkan lingkungannya sebagai bagian dari perkembangan bisnis. Beliau
bukan tipe pebisnis yang asyik dengan kegiatan bisnisnya, perfeksionis,
sehingga tidak bisa mempercayai hasil karya orang lain. Beliau juga bukan tipe
pebisnis yang ultra-organisatoris, di mana segala hal harus dimatangkan dulu
baru dikerjakan, sehingga sering kali bertele-tele dan berlarut-larut.

Beliau adalah tipikal pebisnis yang mampu melihat kemampuan orang
lain dan memanfaatkannya. SDM yang direkrut tidak hanya ulet, tapi juga handal
kemampuannya, termasuk di antaranya adalah Rasulullah SAW sendiri. Strategi
bisnisnya dengan mampu mendelegasikan tugas kepada orang yang tepatlah yang
membuat imperium bisnisnya berkembang pesat.

Ketiga, Sayyidah Khadijah ra punya modal dan mampu mengelolanya dengan baik. Seperti kita tahu, sebelum beliau menikah dengan Rasulullah SAW, beliau telah menjanda 2 kali. Suami pertamanya adalah Abu Halah at-Tamimi, dan setelah suami pertamanya meninggal beliau menikah dengan Atiq bin Abid al-Makhzumi. Dari suami pertamanya itulah dia mendapatkan warisan besar, selain juga dari ayahnya yang juga pedagang yang disegani, yang digunakan sebagai modal untuk memulai bisnisnya.

Kemahirannya dalam memutar modal usaha sangat diakui di
kalangannya. Bisnisnya tumbuh pesat karena beliau sangat mahir melihat peluang
dan tidak ragu dalam mengambil keputusan yang dianggapnya tepat.

Keempat, Sayyidah Khadijah ra sangat jeli dalam
merekrut Sumber Daya Manusia (SDM) serta menjalin mitra bisnis. Mungkin justru karena
perempuan, beliau sangat perhatian dengan karakter SDM dan mitra bisnis yang
dipilihnya. Hal yang paling diutamakan dalam pemilihan SDM adalah seberapa
jujur dan adil SDM tersebut. Tidaklah heran jika Rasulullah SAW adalah salah
satu SDM favoritnya sehingga sering menjadi delegasi dagangnya keluar daerah.
Hal itu dikarenakan Rasulullah SAW sudah terkenal menjadi orang yang jujur dan
adil sebelumnya. Beliau juga tidak melakukan bisnis dengan pebisnis yang sudah
cacat secara karakter, sehingga bisnisnya jarang sekali mengalami gejolak
akibat perseteruan dengan mitra bisnis.

Kelima, Sayyidah Khadijah ra merupakan sosok
dermawan. Harta yang didapatnya tidak serta merta diakui dan dinikmati sendiri,
tapi sebagian juga disebar dan didermakan kepada lingkungannya. Ini kunci yang
menyebabkan beliau sangat dihormati dan disegani. Di sisi lain, derma ini juga
akhirnya mendorong tumbuhnya rasa empati di lingkungan beliau. Mereka yang
sering mendapatkan derma pada akhirnya menjadi konsumen potensial bagi bisnisnya.
Hal ini sekaligus sebagai bukti kebenaran al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 261
yang artinya:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat
gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 261)

Yang keenam, Sayyidah Khadijah ra adalah sosok yang
berani dalam mengambil keputusan serta membaca peluang bisnis. Insting beliau
dalam mempercayai seseorang terbukti brilian dan jarang salah. Seperti halnya
saat beliau mempercayai Rasulullah SAW untuk membawa dagangannya ke Negeri Syam
(Syiria), padahal Rasulullah SAW hanya pernah sekali ke Syam, itu pun ikut
dengan rombongan pamannya Abu Thalib. Tapi karena melihat karakter Rasulullah
SAW, beliau tidak ragu untuk itu, dan terbukti benar bahwa ternyata Rasulullah
SAW adalah juga tipikal pebisnis yang ulung.

Sebenarnya masih banyak lagi keunggulan Sayyidah Khadijah ra, baik
dalam hal bisnis maupun personal. Namun cukup dari 6 kunci sukses bisnis
Sayyidah Khadijah ra, kita dapat menyimpulkan bahwa berbakat saja dalam bisnis
tidaklah cukup, karena untuk mendapatkan kebahagiaan spiritual, kita juga harus
memupuk iman kepada Allah SWT, yang ditunjang dengan jiwa spiritual yang
mumpuni, yang nampak dalam aktivitas-aktivitas keseharian kita.

Perencanaan
Keuangan dari Kisah Nabi Yusuf as

Kisah tentang nabi Yusuf as merupakan cikal bakal salah satu
praktek ekonomi Islam. Praktek ekonomi tersebut terangkum dalam QS. Yusuf ayat
43-49 yang artinya:

“Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya):
“Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk
dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum)
yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering”. Hai orang-orang yang
terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat
mena’birkan mimpi. Mereka menjawab: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan
kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu”. Dan berkatalah orang yang
selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa
waktu lamanya: “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai)
mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).” (Setelah pelayan itu
berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya,
terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan
tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku
kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.” Yusuf berkata:
“Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang
kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.
Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan
apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari
(bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang
padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras
anggur.” (QS. Yusuf: 43-49)

Diceritakan dalam al-Qur’an bahwa pada saat itu, seorang raja
Mesir mendapat mimpi yang sangat unik dan mengganggu pikiran dan hatinya.
Mimpinya yaitu ada 7 ekor sapi yang gemuk yang kemudian mati dimakan oleh 7
sapi yang kurus. Raja berpikir mimpi ini ada kaitannya dengan posisinya sebagai
penguasa Mesir.

Mimpi itu tersebar dan banyak masyarakat yang bingung dengan mimpi
sang raja. Namun salah seorang pelayan raja bahwa dia mengenal seorang pemuda
yang bernama Yusuf AS yang mampu menafsirkan mimpi. Mereka saling mengenal
ketika masih bersama di dalam penjara.

Nabi Yusuf kemudian menafsirkan mimpi raja. Arti mimpi tersebut
adalah bahwa Mesir akan mengalami 7 tahun masa makmur dan 7 tahun kemudian
mengalami masa yang paceklik. Raja sangat kagum dengan kemampuan nabi Yusuf AS
dalam menafsirkan mimpinya. Raja akhirnya mengangkat nabi Yusuf as sebagai
pejabat tinggi yang khusus menangani masalah pangan dan logistik di wilayah
kerajaan Mesir.

Berdasarkan kisah nabi Yusuf as tersebut, menggambarkan contoh
usaha manusia dalam membentuk sistem proteksi menghadapi kemungkinan yang buruk
di masa depan. Hal ini sejalan dengan salah satu bentuk muamalah kontemporer
yaitu asuransi. Dalam kehidupan ini tidak seorangpun yang menginginkan
datangnya musibah atau bencana. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu berdoa
kepada Allah SWT dihindarkan dari musibah dan berbagai bencana itu. Walaupun
pada kenyataannya musibah tidak bisa dihindarkan dari kehidupan manusia dan itu
merupakan qadla dan qadar Allah SWT, kita hanya diminta membuat perencanaan
untuk hari depan. Hal ini sebagaimana terangkum dalam QS. al-Hasyr ayat 18 yang
artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr: 18)

Oleh karena itu, kita harus berikhtiar dan berusaha melakukan
tindakan berjaga-jaga, memperkecil risiko yang ditimbulkan dari bencana dan
musibah tersebut. Salah satu cara yang biasa dilakukan masyarakat untuk
menghadapi kemungkinan terjadinya bencana atau musibah adalah dengan menyimpan
atau menabung uang. Namun, upaya ini seringkali tidak mencukupi. Hal ini
disebabkan karena biaya yang harus ditanggung ternyata lebih besar dari yang
diperkirakan. Untuk itulah eksistensi lembaga asuransi tidak bisa dielakkan
dalam kehidupan masyarakat saat ini. Praktek asuransi yang tentunya hanya
bertujuan untuk memproteksi berbagai kemungkinan musibah yang terjadi, dan
tentunya praktek asuransi tersebut diharapkan dalam bingkai syariah Islam.

Jujur: Prinsip
Bisnis Rasulullah SAW

Diceritakan oleh Mu’adz bin Jabal ra bahwa Rasulullah SAW bersabda
yang artinya: “Sungguh penghasilan yang terbaik ialah penghasilan para pedagang
yang apabila berbicara, ia tidak bohong; apabila ia diberi amanah, tidak
berkhianat; apabila ia berjanji, tidak mengingkarinya; apabila ia membeli,
tidak mencela; apabila ia menjual, tidak berlebihan (dalam menaikkan harga);
apabila ia berhutang, tidak menunda-nunda pelunasan; dan apabila ia menagih
hutang, tidak memperberat orang yang sedang kesulitan.” (HR. al-Baihaqy,
al-Hakim, dan al-Dailami)

Tujuh etika bisnis yang diajarkan nabi SAW di atas bermuara pada
satu sifat, yaitu kejujuran. Kejujuran menuntut apa adanya, kejelasan,
keterbukaan, keberanian dan tanggung jawab. Semua integritas seseorang dalam
manajemen diukur pertama kali dari sudut kejujuran. Dengan demikian, kejujuran
berdampak pada kesuksesan, dan sebaliknya ketidakjujuran berdampak pada
kejatuhan.

Sifat jujur dan amanah adalah sifat utama Nabi SAW. Kedua sifat
ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dua sifat ini tidak bisa dimiliki
seseorang secara spontan, melainkan memerlukan pembiasaan panjang hingga
menjadi tabiat. Nabi SAW pernah menjelaskan pengaruh kejujuran terhadap
kebaikan dan pengaruh kebohongan terhadap kejahatan:

“Wajib atas kalian berbuat jujur, karena sesungguhnya kejujuran
akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga.
Sungguh jika seseorang senantiasa berlaku jujur maka ia akan dicatat sebagai
orang yang jujur. Sungguh dusta itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan
sungguh kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Sungguh jika seseorang selalu
berdusta maka ia akan dicatat sebagai seorang pendusta.” (HR. Ahmad, al-Bukhari
dan Muslim, Malik, al-Turmudzi, Ibnu Hibban, Ibnu Asakir dari Abdullah bin
Mas’ud radhiyallahu anhu)

Dalam berbisnis, kejujuran semata tidaklah cukup, tapi memerlukan
juga kecerdasan. Kejujuran terkait dengan kredibilitas, sedangkan kecerdasan
terkait dengan kapabilitas. Dua aspek ini akan menghasilkan kepercayaan (trust)
yang dibutuhkan dalam semua bisnis. Kepercayaan dapat berperan sebagai modal,
strategi, maupun identitas. Nabi SAW mendapat identitas sebagai manusia
terpercaya atau al-amin. Dengan identitas ini, masyarakat Mekah tidak
mempersoalkan kekayaan Nabi ataupun garis keturunannya, melainkan pada
identitas beliau sebagai al-amin tersebut. Identitas inilah yang membawa
keberhasilan nabi ketika berbisnis ataupun ketika berdakwah. Subhanallah, jika
orang sudah mengenal Anda dengan identitas al-amin, saya yakin seyakin-yakinnya
Anda tidak akan mengalami kesulitan berbisnis dengan siapapun. Mereka justru
mendapat kenikmatan berbisnis dengan Anda.

“Ada empat sifat yang jika semuanya ada pada dirimu, maka tidak
akan (menjadi sebab) kesusahanmu apapun (harta dunia) yang telah lepas (dari genggamanmu),
yaitu menjaga amanah, bicara jujur, berakhlak mulia, dan selalu menjaga
kesucian diri.” (HR. Ahmad bin Hanbal, al-Hakim dalam al-Mustadrak,
al-Thabrani, al-Kharaithi dalam Makarim al-Akhaq, al-Baihaqi dalam Syuab
al-Imam dari Abdullah bin ‘Amr ra, Ibnu Adi, dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas)

Berdasar hadist di atas, maka siapapun yang memegang teguh amanah
(kepercayaan), jujur, berinteraksi yang baik dengan sesama manusia, dan menjaga
diri dari sifat-sifat yang mengotori hati, yaitu iri, dengki, dendam dan
sebagainya, maka ia dipastikan hidup penuh kemudahan, termasuk dalam berbisnis.
Sebaliknya, jika kita bertemu dengan orang yang hidupnya serba susah, maka
berdasar hadist di atas, bisa jadi itu karena ia mengabaikan sifat-sifat mulia
yang diajarkan Rasulullah SAW tersebut.

Pebisnis yang jujur tidak hanya mendapat surga duniawi berupa
banyaknya orang yang ingin bermitra bisnis dengannya, tapi juga surga akhirat,
yaitu banyaknya para syuhada yang bersamanya dalam surga. Rasulullah SAW,
mensejajarkan pebisnis yang jujur dengan kemuliaan para pejuang muslim yang
mati sebagai syuhada. Luar biasa. Nabi SAW bersabda yang artinya:

“Pedagang yang amanah, jujur dan muslim kelak pada hari kiamat
akan bersama para syuhada.” (HR. Ibnu Majah, al-Baihaqi, al-Hakim, dan
al-Thabrani dari Ibnu akan tetapi derajat hadist ini dhaif).

Bisnis syariah hanya tumbuh dan berkah jika semua pelakunya
mengedepankan kejujuran. Memang perjuangan pebisnis muslim untuk jujur dan
terpercaya sangat berat, lebih-lebih di tengah masyarakat yang hanya bicara
uang tanpa memperhatikan etika dan prinsip-prinsip syariah. Tapi, kita sebagai
pengikut Rasulullah tidak boleh menyerah, sebab berbisnis syariah bukan sebuah
pilihan melainkan keharusan.

Sebagai penutup, saya bacakan firman Allah SWT tentang perintah
menjadikan Rasulullah SAW sebagai idola dan tauladan dalam segala hal, yaitu:
amanah, kejujuran, semangat bekerja dan semangat berbagi serta tauladan dalam
rukuk dan sujudnya kepada Allah SWT:

“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21).

Kiat Bisnis
Rasulullah SAW

Sekalipun secara detail aktivitas bisnis Muhammad SAW sebelum menjadi
rasul itu tidak terekam dalam sejarah Nabi, dan hal itu wajar karena dilakukan
sebelum menjadi nabi, tetapi ada prinsip-prinsip moral yang harus dipegang
teguh oleh setiap Muslim. Prinsip-prinsip itu terdapat khususnya dalam
al-Qur’an. Oleh ‘Aisyah ra disebutkan bahwa akhlak Rasulullah SAW itu adalah
al-Qur’an, kana khuluquhu al-Qur’an.

Dalam konteks itulah, kita bisa menyebut beberapa prinsip bisnis
yang menjadi landasan moral, yang bahkan telah dilakukan Rasulullah SAW sejak
sebelum menjadi rasul atau sebelum turunnya al-Qur’an.

Ayat-ayat al-Qur’an mengajarkan pentingnya kejujuran. Dalam surat
al-Muthaffifin 1-3, Allah SWT berfirman yang artinya:

“1. Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang 2. (yaitu)
orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi
3. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka
mengurangi.” (QS. al-Muthaffifin: 1-3)

Rasulullah SAW juga melarang umatnya yang sengaja merugikan dengan
cara menyembunyikan barang-barang yang jelek agar tidak diketahui oleh
pembelinya. Praktek itulah yang dikenal dengan bay’ul gharar, yang dilarang.
Itu pulalah yang disaksikan oleh Maisarah, pembantu Khadijah ra, atas perilaku
bisnis Muhammad, dan itulah yang membuatnya kagum. Katanya, jika barang dagangannya
yang dijual jelek maka dikatakan jelek. Begitu pun sebaliknya, jika
barang-barang itu baik dikatakan baik. Beliau tidak menyembunyikan
barang-barang yang jelek di balik barang-barang yang baik.

Di samping kejujurannya dengan mitra dagangnya, Muhammad SAW juga
dikenal sebagai orang yang memegang teguh amanah. Ketika dipercaya untuk
mengelola barang dagangan, beliau melaksanakan sebaik-baiknya. Setelah menjadi
rasul, beliau pernah bersabda:

“Janganlah engkau mengkhianati orang memberimu amanah meskipun
kepada orang yang pernah mengkhianati engkau.” (Riwayat ini terdapat dalam
Musnad Ali bin Abi Thalib, riwayat yang senada dalam diriwayatkan oleh
al-Baihaqi dalam Syuab al-Iman).

Betapa luhurnya akhlak Nabi Muhammad SAW. Dikisahkan bahwa beliau
selalu menjual barang kepada pembeli dengan harga yang disepakati dengan
Khadijah ra. Ia tidak mengambil untung di luar yang disepakati. Oleh karena
itu, banyak pembeli yang terkesan dan tertarik dengan cara berdagang beliau.
Keluhuran sifat beliau ini kemudian diceritakan oleh Maisarah kepada
majikannya, Khadijah ra. Dan ia pun merasa kagum dan terkesan dengan
sifat-sifat Nabi Muhammad SAW. Hubungan perdagangan antara keduanya berlanjut
ke jenjang perkawinan.

Kejujuran yang menjadi ciri utama bisnis ala Nabi Muhammad SAW itu
ditopang oleh filosofi yang bersumber dari nilai-nilai spiritual yang diajarkan
oleh Allah SWT. Nilai-nilai ada pada keyakinan bahwa bisnis yang dilakukan
tidak terlepas dari pengawasan Tuhan. Sekecil apapun yang dilakukan oleh
manusia pasti dilihat oleh Allah SWT:

“7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya. 8. Dan barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS.
al-Zalzalah: 7-8).

Kemudian, prinsip yang dipegang teguh adalah kesukarelaan. Orang
tidak boleh dipaksa untuk membeli sesuatu. Jual beli haruslah berjalan dengan
kerelaan, ‘an taradlin minkum.

Prinsip yang juga sangat penting ialah keadilan dan menjauhkan
kezaliman. Larangan Allah dan Rasul-Nya atas riba menunjukkan bahwa berbisnis
haruslah dengan prinsip keadilan, yakni tidak adanya eksploitasi. Makna
larangan riba adalah terhapusnya hubungan eksploitatif, yakni mengejar
keuntungan di atas kesulitan atau penderitaan orang lain. Eksploitasi akan bisa
dihilangkan jika berbisnis didasari niat saling membantu atau saling
menguntungkan,

“… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. …” (QS.
al-Maidah: 2).

Dengan kejujuran, keadilan, dan semangat tolong-menolong itu,
Insya Allah akan memberikan barakah kepada kita semua. Allah SWT berjanji akan
menurunkan barakah bagi masyarakat, umat, dan bangsa yang menjunjung tinggi
ketaqwaan dalam berbisnis. Taqwa tidak boleh hanya difahami secara global,
tetapi haruslah tercermin dalam setiap langkah kita, baik yang kecil maupun
yang besar. Allah berfirman dalam surat al-A’raf ayat 96 yang artinya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa,
pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,
tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96).

Meneladani Sifat
Khadijah sebagai Pebisnis

Rasulullah SAW seringkali mengkait-kaitkan semua hal yang beliau
lakukan dengan keterlibatan Sayyidah Khadijah ra. Hal yang selalu sukses
membuat istri-istri Rasul yang lain merasa hormat, segan, sekaligus cemburu,
terutama Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar ra. Secara khusus bahkan Rasulullah
SAW memuji Khadijah ra dalam ucapan beliau SAW yang artinya:

“Allah tidak memberiku pengganti yang lebih baik dari Khadijah. Ia
telah beriman kepadaku saat orang lain kufur, ia mempercayaiku ketika yang lain
mendustakanku. Ia memberikan hartanya padaku ketika tidak ada orang lain
membantuku. Dan Allah SWT juga menganugerahiku anak-anak melalui rahimnya,
sementara istri-istriku yang lain tidak memberiku anak.” (HR. Ahmad,
al-Haitsami berpendapat bahwa sanad hadist ini berderajat hasan, dan Thabrani
juga dengan sanad yang hasan).

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki pernah menggambarkan Sayyidah
Khadijah ra dengan bahasa ta’dzim beliau:

“Nama Khadijah memang tidak dapat dilupakan dalam sejarah karena
perjalanan hidupnya yang selalu dihiasi bunga-bunga keberuntungan dan
kemuliaan, tidak akan dapat dipisahkan dari perjalanan hidup Muhammad. Tidak
pernah disebut kisah tentang wahyu, tentang diutusnya Muhammad sebagai utusan
Allah, melainkan nama Khadijah tertera dalam kisah itu.”

Secara tersirat, beliau menggambarkan keutamaan ummul mukminin
pertama ini dengan bahasa yang lugas. Namun bila kita mau sedikit cermat dengan
sejarah, kita setidaknya akan menemukan 5 keutamaan Sayyidah Khadijah ra
sehingga beliau pantas dijuluki orang yang sukses dalam dua dimensi sekaligus:
material (sebagai pebisnis) maupun spiritual (sebagai ummul mukminin).

Pertama, Sayyidah Khadijah ra adalah orang yang kuat
iman serta salah satu yang paling dalam pemahamannya mengenai Islam. Jika
merujuk pada kenyataan bahwa beliau adalah salah satu yang paling pertama
memeluk Islam, hal ini kelihatan pantas-pantas saja. Namun yang istimewa
adalah, bahkan sejak sebelum Rasulullah SAW secara resmi diangkat oleh Allah
SWT menjadi rasul, atau sejak zaman Jahiliyyah, Sayyidah Khadijah ra ternyata
adalah salah satu orang yang teguh memegang ajaran agama yang dibawa oleh
Nabiyullah Ibrahim AS, agama yang Hanif, memegang teguh manhaj tauhid.

Beliau sama sekali tidak pernah tersentuh kotornya paganisme atau
budaya Jahiliyyah yang lain. Salah satu alasan mengapa Rasulullah SAW memilih
beliau, dan bukan wanita lain, adalah karena keimanannya yang teguh ini.

Kedua, Sayyidah Khadijah ra adalah wanita terbaik
di dunia, perempuan terbaik yang menghuni surga, serta perempuan terbaik dari
golongan Islam. Hal ini pernah disebutkan sendiri oleh Rasulullah SAW dalam
statemen beliau yang artinya:

“Wanita terbaik di dunia, yaitu Maryam binti Imran, Khadijah binti
Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asiyah istri Fir’aun,” (HR. at-Tirmidzi,
Ibnu Hibban, dan Abu Ya’la).

Hadist ini secara tegas menunjukkan kepada kita tentang ketinggian
derajat beliau di hadapan manusia maupun di hadapan Allah SWT. Bayangkan!
Sebagai istri Rasulullah SAW, mau tidak mau secara otomatis beliau menjadi
role-model muslimat di seantero jagad. Tapi meski menyandang beban itu,
Sayyidah Khadijah ra sama sekali tidak berubah menjadi lebih tinggi hati atau
justru minder, beliau justru terpacu untuk menguatkan diri ke dalam, inner
beauty. Tidak heran, semenjak menjadi istri Rasul, beliau justru tampak semakin
bersahaja, tetap optimis, semakin tegar, tangguh, dan bijaksana, meski
konsekuensinya adalah kemerosotan finansial beliau yang didharma-bhaktikan
sepenuhnya untuk perjuangan Rasulullah SAW untuk menegakkan panji tauhid. Di
saat beliau berlebih secara finansial, beliau dihormati karena kedermawanan dan
jiwa bisnisnya. Di saat beliau kurang secara finansial, beliau tetap harum
namanya justru karena kebersahajaan dan kebijaksanaannya.

Ketiga, Sayyidah Khadijah ra adalah satu dari
sedikit perempuan yang pernah mendapat salam dari Allah SWT dan berita gembira
dengan sebuah rumah di surga. Rasulullah SAW sendiri yang mengabarkan kepada
beliau tentang keistimewaan itu, seperti yang tersebut dalam sebuah hadist yang
artinya:

“Al-Qasim bin Abi Buzzah radhiyallahu anhu menuturkan: “Ketika
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Gua Hira bersama dengan Jibril
alaihissalam, tiba-tiba Jibril berkata kepadanya: “Wahai Muhammad ini Khadijah
binti Khuwailid radhiyallahu anha membawa makanan istimewa (kurma yang
dihaluskan dan minyak samin) dan secawan air, maka sampaikan salam dari Allah
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, kemudian sampaikan salamku kepadanya,
“maka Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam tersanjung, dan tiba-tiba Khadijah
radhiyallahu anha hadir, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‘(wahai) Khadijah’, ia menjawab: ‘Aku penuhi panggilan engkau wahai Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam’, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bertanya: ‘Apakah engkau membawa cawan berisi khaisah (kurma yang dilembutkan
dengan campuran minyak samin), ia menjawab: ‘Ya, sambil bertanya: ‘Siapa yang
menyampaikan informasi ini pada baginda? Demi yang memilihmu dari seluruh
manusia yang ada, tidak ada yang tahu kecuali Tuhan semesta alam’, nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Jibril alahis salam yang mengucapkan
salam kepadamu dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, kemudian
menitipkan salam kepadamu’, maka Khadijah radhiyallahu anha menjawab: “Sungguh
Allah Ta’ala adalah Yang memberikan keselamatan dan salam teruntuk Jibril
alaihis salam (Akhbar Makkah oleh Al Fakihi).

Pernahkah Anda membayangkan mendapatkan salam dari Presiden? Atau
orang terkenal yang Anda idolakan lainnya? Tentu tak tergambarkan perasaan yang
berkecamuk dalam dada kita, padahal yang memberi salam kepada kita baru sebatas
manusia biasa. Sedangkan beliau Khadijah ra mendapat salam dari Tuhan semesta
alam, serta kepala dari para malaikat. Lalu bagaimanakah perasaan Anda saat mendengar
menjadi juara dari sebuah lomba yang sulit untuk dimenangkan? Yang bahkan untuk
mencapai final saja tidak pernah terbayang sebelumnya? Hidup kita ini adalah
perlombaan dengan finis surga atau neraka. Dengan kata lain, berhasil masuk ke
dalam surga saja sudah merupakan kemenangan besar bagi kita. Lalu jika masuk
saja sudah merupakan kebanggaan terbesar, terus apa jadinya jika kita ternyata
mendapat hadiah tambahan berupa rumah di dalamnya? Kita tahu tidak banyak
manusia yang secara eksplisit oleh Rasulullah SAW disebut sebagai ahli surga
pada saat mereka masih hidup, dan dari sangat sedikit perempuan, Sayyidah
Khadijah ra adalah pemimpin para perempuan ahli surga.

Keempat, Sayyidah Khadijah ra adalah pusat
keberlangsungan keluarga Rasulullah SAW, karena hanya dari beliau-lah keturunan
Rasulullah SAW bisa terus menjadi mutiara jagad hingga hari kiamat nanti.

Sebut saja: Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan
Fatimah. Semuanya terlahir dari rahim beliau. Setiap orang yang masih bisa
melihat garis darah Rasulullah SAW sudah selayaknya berterima kasih
sebesar-besarnya kepada beliau ra.

Yang terakhir, Rasulullah SAW senantiasa menyebut kenangan
cinta Khadijah ra serta terus menjaga hubungan baik dengan keluarga beliau.

Ada 2 hal penting yang bisa kita petik dari keutamaan ini. Satu,
Rasulullah SAW begitu mencintai Sayyidah Khadijah ra, begitu juga sebaliknya.
Chemistry yang terbangun di antara keduanya begitu kuat, hingga bahkan
sepeninggal Sayyidah Khadijah ra, Rasulullah SAW tetap menyebut-nyebut beliau
di banyak tempat seakan-akan beliau masih hidup. Yang perlu digarisbawahi, dicintai
oleh Rasulullah SAW saja sudah merupakan anugerah tak ternilai bagi seorang
manusia, apalagi jika dicintai sedalam itu hingga Rasulullah SAW sendiri selalu
menyebut-nyebut namanya, tentu saja Allah SWT yang tahu ketinggian derajatnya. Dua,
Rasulullah SAW memang memiliki pergaulan yang luas, namun hanya mereka yang
berkualitas luar dan dalam sajalah yang benar-benar dijadikan sahabat oleh
Rasulullah SAW. Dan jika Rasulullah SAW memutuskan untuk tetap menyambung
silaturahmi dengan sahabat-sahabat dan keluarga Sayyidah Khadijah ra, tentu
kita akan mafhum sekali bahwa selain keluarga beliau jelas merupakan orang yang
saleh luar dalam, juga menunjukkan bahwa meski Sayyidah Khadijah ra terkenal
supel, tapi beliau tidak begitu saja bergaul dengan sembarang orang, hanya
mereka yang juga sama-sama bersih hati dan bersih pikir saja yang beliau
akrabi, hingga akhirnya sepeninggal beliau, Rasulullah SAW tidak begitu saja memutus
silaturahmi dengan sahabat dan keluarga Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra.

Tentu masih banyak lagi keistimewaan dan kehebatan beliau,
Sayyidah Khadijah ra, yang belum tersebutkan. Namun dari 5 itu saja kita bisa
dengan mudah menyimpulkan bahwa penghulu surga yang satu ini memang benar-benar
wanita luar biasa. Beliau sukses sebagai perempuan, sukses sebagai istri,
sukses sebagai pebisnis, dan juga sukses sebagai makhluk sosial.

Kiat Sukses
Sahabat dalam Bisnis

Dalam kitab-kitab tarikh, tercatat bahwa jauh sebelum Islam
datang, bangsa Arab sudah terkenal sebagai komunitas yang suka berbisnis.
Bahkan Rasul SAW sendiri hidup dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga
pebisnis.

Setelah Islam datang, para sahabat Nabi SAW masih tetap
mempertahankan aktivitas mereka di bidang bisnis. Hanya saja aktivitas bisnis
mereka tidak lagi berorientasi pada perolehan keuntungan semata, melainkan
sudah didasari kesadaran akan pentingnya kualitas bisnis mereka agar kelak bisa
dipertanggungjawabkan di akhirat. Kesadaran ini semakin mendalam terutama
setelah Allah SWT menurunkan firman-Nya dalam surat as-Shaff ayat 10-11 yang
artinya:

“10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan
suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih. 11. (yaitu)
kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan
harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS.
as-Shaff: 10-11).

Menurut Imam Ahmad, seorang sahabat yang bernama Abdullah ibn
Salam yang dahulu beragama Yahudi dan memegang tampuk perekonomian kota
Madinah, menceritakan bahwa para pebisnis sahabat Nabi SAW, baik yang berasal
dari kaum Muhajirin maupun kaum Anshar, pernah berunding untuk menghadap dan
memohon petunjuk Nabi SAW terkait sikap apakah yang paling baik yang harus
diambil untuk membina bisnis kaum Muslimin menghadapi dominasi bisnis Yahudi di
kota Madinah saat itu.

Dalam riwayat at-Tirmidzi dari Abdullah ibn Salam disebutkan:
“kami berunding dan kami sependapat bahwa andaikata kami mengetahui langkah
yang paling disukai Allah SWT, tentu langkah itu kami kerjakan.”

Ibnu Hatim dalam riwayat yang diterima dari Abdullah ibn Salam
juga menceritakan bahwa:

“Sesungguhnya beberapa pebisnis dari sahabat Nabi SAW berunding
dan berpendapat untuk mengirim utusan kepada Nabi SAW dalam rangka menanyakan
usaha apakah yang paling disenangi oleh Allah. Namun tidak ada seorang-pun
bersedia menghadap beliau SAW, karena besarnya wibawa Nabi SAW. Akhirnya Nabi
SAW memanggil kami satu persatu, sehingga kami semua berkumpul di hadapan Nabi
SAW. Lalu turunlah surat as-Shaff (terdiri dari 14 ayat), sebagai jawaban atas
persoalan yang kami tanyakan.”

Ayat tersebut di atas, merupakan bagian akhir dari surat as-Shaff
yang berarti “barisan”. Ini menegaskan bahwa untuk melawan dominasi ekonomi
Yahudi, kaum Muslimin harus merapatkan barisan dalam arti bersatu dan
bersinergi dalam semua bidang perekonomian, seperti halnya berjihad menegakkan
kebenaran ajaran-Nya.

Jadi tidaklah heran bila sejaran mencatat bahwa kaum Quraisy di
Makkah terkenal sebagai pelaku-pelaku bisnis yang sukses mengembangkan
perdagangan bahkan dengan negara-negara di luar jazirah Arab. Rempah-rempah di
Timur diekspor ke Barat. Jalur sutera yang sangat terkenal menjadi bukti akan
pentingnya posisi jazirah Arab sebagai lalu lintas perdagangan yang
menghubungkan Timur dan Barat. Surat al-Quraisy dalam al-Qur’an, secara
eksplisit menggambarkan aktivitas para sahabat Nabi SAW dalam dunia bisnis.

Di samping itu, para pedagang Madinah yang memiliki wilayah yang
subur mengekspor hasil pertanian mereka berupa kurma dan gandum ke Syria dan
wilayah-wilayah kekuasaan Romawi bahkan ke Eropa. Seiring dengan perkembangan
zaman, maka para sahabat Nabi SAW, baik di Makkah maupun Madinah, tidak lagi
sekadar berdagang hasil pertanian, melainkan juga mengembangkan ke arah
bermacam industri, baik kecil maupun besar.

Menurut Abul Hasan ibn Mas’ud al-Khuza’i al-Andalusy, sebagaimana
dikutip Zainal Abidin Ahmad, tidak kurang dari 12 macam industri besar dan
kecil yang diperdagangkan oleh komunitas Muslim pada saat itu, seperti:
Pembuatan senjata dan barang-barang yang menggunakan material besi, perusahaan
tenun, perusahaan kayu, dan sebagainya.

Dibanding dengan bangsa-bangsa lain, aktivitas bisnis komunitas
Arab pasca Islam dapat dikatakan sudah sangat maju. Tidak dapat dipungkiri
bahwa kemajuan ini berkat prinsip-prinsip ekonomi yang mereka praktekkan dalam
setiap kegiatan bisnis mereka didasarkan atas wahyu Allah SWT antara lain
seperti termaktub dalam surat as-Shaff tadi.

Dalam ayat 10 sampai 13 surat as-Shaff itu dapat disarikan dua hal
penting yang harus dijadikan landasan dalam berbisnis, antara lain:

  • Dimulai dengan niat yang bersih.

Hal ini hanya bisa terwujud bila aktivitas
bisnis yang dilakukan didasarkan atas keimanan terhadap Allah SWT dan
Rasul-Nya. Dengan demikian, pelaku bisnis yang menempatkan nilai keimanannya
sebagai landasan aktivitasnya, tidak semata-mata mencari keuntungan material,
melainkan akan selalu memperhatikan proses semua bisnis yang dilakukannya dan
perolehan keuntungan yang didapatnya. Sebaliknya, apabila menderita kerugian,
ia tidak akan terlalu kecewa dan putus asa. Ia akan selalu optimis menjalankan
usahanya.

Semangat jihad, dalam arti bersungguh-sungguh
dan serius ketika bisnisnya sedang berjalan dan pada saat keuntungan telah
diperoleh. Dengan semangat ini, maka keuntungan yang diperolehnya akan
mendorong yang bersangkutan memanfaatkan sebagian keuntungan yang diperolehnya
untuk kegiatan-kegiatan sosial keagamaan. Bahkan dengan semangat jihad ini,
iapun akan rela mengorbankan jiwanya untuk kegiatan-kegiatan “fi sabilillah”.

Dua prinsip itulah yang menjadi pedoman para
sahabat Nabi SAW dalam melakukan transaksi bisnis mereka. Para sahabat Nabi SAW
sangat memahami makna kata “itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu
mengetahuinya”.

Dengan dua prinsip itu, komunitas Muslim mulai
bangkit dari tekanan ekonomi materialistik Yahudi menuju ekonomi Islami. Di
kota Madinah, mulai didirikan pasar Madinah (Suq al-Madinah) yang didominasi
oleh para sahabat Nabi SAW untuk menyaingi pasar Bani Qainuqa’ (Suq Bani
Qainuqa’) yang didominasi oleh komunitas Yahudi. Semakin lama semakin kelihatan
karakteristik kedua pasar tersebut.

Abdurrahman al-Syarqawi mencatat bahwa perang
ekonomi mulai terjadi antara sifat-sifat pintar dan busuknya para rentenir
Yahudi dengan para pedagang Muslim yang jujur dan santun. Al-Syarqawi
selanjutnya menyatakan bahwa para pedagang dari luar kota Madinah,
berduyun-duyun mendatangi Suq al-Madinah. Mereka bertransaksi dengan para
saudagar Muslim dan merasakan manfaat kejujuran kaum Muslimin dalam melakukan
transaksi bisnis mereka. Akibatnya seluruh pedagang itu bukan hanya sekadar
memperoleh keuntungan material, tetapi juga mendapatkan pencerahan dari sikap pelaku
bisnis Muslim yang jujur, sopan, dan santun. Sejarah kemudian mencatat, bahwa
tidak sedikit dari para pelaku bisnis pendatang itu yang tertarik dengan ajaran
Islam bahkan kemudian mereka berbondong-bondong menganut agama Islam.

Dengan demikian, perekonomian di Madinah dan
jazirah Arab pada umumnya dapat berdiri tegak dan menjadi pesaing potensial
bagi perekonomian Yahudi pada saat itu, karena dimotori oleh para sahabat Nabi
SAW yang dengan teguh melaksanakan prinsip-prinsip ekonomi Islami. Wallahu A’lam
bis Shawab.

Membuka
Pintu Berkah dengan Bisnis Berbasis Syariah

Hampir semua orang di dunia ini senantiasa
mendambakan rezeki yang berlimpah dan berkah. Dengan kata lain, kaya raya
berlimpah harta dan diselimuti oleh ridha Allah SWT. Harta atau kekayaan
memiliki peran penting dalam kehidupan duniawi dan jika dikelola dengan baik
akan dapat membawa kepada kehidupan akhirat yang baik pula. Dengan harta
manusia dapat memenuhi berbagai kebutuhannya yang terus berkembang seiring
dengan perkembangan kehidupannya. Dengan harta pula seorang Muslim dapat
memenuhi kewajibannya kepada Allah SWT seperti, zakat, infaq, shadaqah,
berjihad di jalan Allah, berkurban, menunaikan ibadah haji dan berbagai ibadah
lainnya.

Ketika muncul pertama kali di dunia manusia membutuhkan
segala sesuatu yang dapat digunakan memelihara dan mempertahankan kehidupannya.
Manakala kebutuhan untuk mempertahankan hidup telah terpenuhi, manusia
membutuhkan barang dan jasa lainnya. Secara hierarkis berdasarkan skala
prioritasnya, kebutuhan manusia terdiri dari: 1) Kebutuhan fisiologis
(physiological needs). Kebutuhan ini mencakup kebutuhan dasar manusia, seperti
makan dan minum. Jika belum terpenuhi, maka kebutuhan ini menjadi prioritas
utama dan mengesampingkan yang lain. 2) Kebutuhan keamanan (safety needs) yang
meliputi kebutuhan akan perlindungan dari gangguan fisik, kesehatan dan krisis
ekonomi. 3) Kebutuhan sosial (sosial needs) yang mencakup kebutuhan akan cinta
dan kasih sayang serta persahabatan. 4) Kebutuhan terhadap penghormatan dan
pengakuan diri. 5) Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), mencakup
kebutuhan untuk memberdayakan seluruh potensi dan kemampuan diri.

Jumlah dan keragaman kebutuhan manusia
dipengaruhi, antara lain oleh: Perkembangan zaman, Kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi, tingkat perekonomian, keadaan tempat, waktu pemenuhan, tingkat
pendidikan, agama, atau kepercayaan. Dan faktor lainnya. Semakin tinggi tingkat
pendidikan dan budaya seseorang maka semakin banyak pula kebutuhan terhadap
barang dan jasa, baik dari segi jenis maupun jumlahnya.

Oleh karena itu, Islam senantiasa mendorong
umatnya untuk bekerja keras mencari rezeki. Pada QS. al-Jum’ah ayat 10 Allah
SWT juga mengingatkan agar umat Islam tidak bersantai-santai setelah menunaikan
ibadah mahdhoh melainkan segera bekerja mencari rezeki yang tersebar di muka
bumi ini.

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka
bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jum’ah: 10)

Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh
at-Thabrani dan al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya bekerja mencari rezeki yang
halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah fardhu”. (HR. al-Thabrani dan
al-Baihaqi bersumber dari Abdullah bin Mas’ud ra, namun al-Baihaqi
melemahkannya).

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh
al-Baghawie, Rasulullah SAW juga bersabda yang artinya:

“Tiada seorang yang makan makanan yang lebih
baik dari makanan dari hasil usahanya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Daud,
itupun makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. al-Baghawie dalam Syarh
al-Sunnah)

Baik ayat al-Qur’an maupun hadist Nabi
Muhammad SAW di atas jelas memberikan isyarat agar manusia bekerja keras
mencari rezeki, sekaligus memberikan motivasi yang begitu kuat bagi umat Islam
untuk berupaya mencari kekayaan. Bekerja keras adalah langkah nyata yang dapat
menghasilkan rezeki. Kendati demikian bukan berarti betapapun kerasnya usaha
yang dilakukan, harus selalu dalam bingkai syariah Islamiyah. Kerja keras yang
dilakukan keluar dari bingkai syariah Islamiyah akan menjadikan rezeki yang
diperolehnya tidak membawa berkah.

Berkah sering diartikan sebagai tambahan
kebaikan yang memberikan kebahagiaan pada manusia. Kekayaan yang berlimpah
tetapi tidak berkah tidak akan dapat membawa pemiliknya kepada kebaikan dan
kebahagiaan, sebaliknya, membawa kepada kesengsaraan. Kita tidak jarang
menjumpai, orang memiliki harta yang berlimpah, tapi istrinya menyeleweng, atau
anak-anaknya melakukan tindakan amoral, seperti memakai narkoba, berzina, dan
kegiatan amoral lainnya. Hal demikian, bisa jadi karena harta yang dipakainya
tidak berkah.

Berkah sepenuhnya hak Allah SWT. Maka jika
kita menghendaki berkah, tidak ada pintu lain kecuali mendekatkan diri kepada
Sang Pemberi berkah. Dalam al-Qur’an surat al-A’raf ayat 96 Allah SWT berfirman
yang artinya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami
siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96)

Dari ayat itu, tampak jelas bahwa syarat untuk
meraih berkah dari Allah SWT adalah iman dan taqwa. Beriman secara literal dan
teoritik meyakini keberadaan Allah yang Maha Kuasa dengan seluruh sifat yang
melekat pada-Nya, dan bertaqwa merupakan manifestasi atau implementasi secara
faktual dari perintah dan larangan-Nya. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa syarat
iman dan taqwa itu adalah hatinya beriman pada apa yang di bawa oleh Rasulullah,
membenarkan dan mengikutinya, bertaqwa dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan
dan meninggalkan perbuatan yang diharamkan.

Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur
seluruh aspek kehidupan. Islam mengatur tidak hanya hubungan manusia sebagai
‘abd (hamba) kepada Allah Sang Khaliq, tetapi juga mengatur hubungan manusia
dengan manusia dan manusia dengan harta benda. Islam mengatur tidak hanya aspek
aqidah, ibadah, akhlak, melainkan juga mengatur muamalah. Aturan Islam tidak
hanya tentang syahadat, shalat, puasa, haji, dan ibadah ritual lainnya, tetapi
juga harta dan cara mencarinya. Islam memiliki wawasan yang komprehensif
tentang etika bisnis, mulai dari prinsip dasar, pokok-pokok perdagangan,
faktor-faktor produksi, tenaga kerja, modal organisasi, distribusi kekayaan,
masalah upah, barang dan jasa, kualifikasi dalam bisnis, sampai kepada etika
sosio-ekonomik menyangkut hak milik dan hubungan sosial.

Aturan-aturan tersebut harus dipenuhi jika
menghendaki bisnis yang dijalankan menghasilkan rezeki atau harta yang berkah.
Diantara prinsip-prinsip tersebut antara lain:

Pertama, prinsip Halal. Artinya bisnis yang
dilakukan dalam lingkup barang dan jasa yang diperbolehkan untuk diperdagangkan
menurut Islam, baik berdasarkan al-Qur’an, Hadist, maupun pendapat ulama.
Dengan kata lain bisnis tidak dilakukan pada barang dan jasa yang diharamkan,
seperti narkoba, prostitusi, babi, dan barang barang haram lainnya. Dalam
al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 168 Allah SWT berfirman yang artinya:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal
lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang
nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)

Kedua, Bebas Unsur Judi. Judi diartikan
sebagai suatu kegiatan pertaruhan untuk memperoleh keuntungan dari hasil suatu
pertandingan, permainan atau kejadian yang hasilnya tidak dapat diduga
sebelumnya. Sesuatu dikatakan judi jika ada unsur pertaruhan sesuatu yang
bernilai ekonomis, kegiatan bersifat permainan dan adanya tidak pastian hasil.
Bisnis yang mengandung unsur perjudian adalah dilarang karena membawa kerugian
bagi para pelakunya dan menyebabkan penyakit sosial. Dalam terjemah al-Qur’an
surah al-Maidah ayat 90 dinyatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya
(meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan
panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu
agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. al-Maidah: 90)

Dalam ayat di atas, tampak jelas bahwa Allah
SWT melarang segala bentuk perjudian dengan larangan yang sangat keras; Judi
disifati sebagai sesuatu yang najis dan keji; Judi dimasukkan dalam perbuatan
syaitan dan tentunya perbuatan hina; Allah SWT menggunakan perkataan ‘Jauhilah’
untuk menunjukkan pengharamannya; Judi tidak akan membawa keberuntungan.

Ketiga, Bebas Riba. Kata riba dari segi bahasa
berarti “kelebihan”. Riba secara istilah berarti kelebihan atas pokok hutang
yang dipungut bersama jumlah hutang. Dalam al-Qur’an ditemukan kata riba
sebanyak delapan kali dalam empat surat, tiga di antaranya turun setelah Nabi
SAW hijrah dan satu ayat lagi ketika beliau masih di Makkah. Di antara larangan
riba adalah al-Baqarah ayat 275 yang artinya:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak
dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan
lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan
riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus
berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu
(sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang
kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah: 275).

Dalam konsep riba, uang adalah barang
komoditas dan kelebihan atas pokok dipandang sebagai harta yang harus dibayar
oleh pembeli. Riba dapat mengakibatkan distribusi kekayaan secara tidak adil
dan merata, karena kekayaan hanya terpusat pada mereka yang mampu membayar
harga tinggi, sementara mereka yang lemah, tersingkir karena tidak mampu membayar
harga tersebut. Hal ini akan mengakibatkan si lemah yang berdaya beli lemah
pada akhirnya tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Orang yang memakan
riba digambarkan sebagai orang yang kerasukan syaitan karena ia memiliki sifat
syaitan yaitu sombong. Ia sombong atas kekayaannya dan tidak peduli pada si
miskin.

Keempat, Bebas Unsur Zalim. Zalim berarti
tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Zalim dalam kegiatan bisnis berarti
tidak memberikan hak-hak kepada yang memilikinya, seperti berbuat curang,
ingkar janji. Dengan demikian perbuatan zalim mengakibatkan kerugian pada salah
satu pihak. Di antara perbuatan zalim mengakibatkan kerugian pada salah satu
pihak. Di antara perbuatan zalim adalah batil yaitu tidak melakukan sesuatu
dengan benar. Dalam al-Qur’an arti Surah al-Baqarah ayat 188 dinyatakan:

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta
sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah)
kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian
daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu
mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 188).

Etika
Bisnis Berbasis Syariah

Beberapa etika bisnis syariah adalah sebagai
berikut:

  • Jujur dalam tindakan. Salah satu etika yang penting dalam berbisnis adalah masalah kejujuran. Bisnis tidak akan jalan apabila seseorang mengatakan tidak sebenarnya. Pebisnis tidak akan mau bermitra dengan pihak-pihak yang berkata bohong. Karena sudah pasti akan merugikan pihak-pihak lain. Allah SWT berfirman QS. al-Muthaffifin 1-2 yang artinya:

“1.
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang 2. (yaitu) orang-orang yang
apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (QS.
al-Muthaffifin: 1-2)

Ayat
di atas diturunkan pada periode makkiyyah yang merupakan periode penanaman
aqidah namun tetap tidak melupakan sisi ekonomi. Ayat tersebut menunjukkan
bahwa orang yang curang (tidak jujur) akan menimbulkan sifat egois yang akan
berdampak buruk pada pihak lain.

Ayat
itu telah menjelaskan bahwa ketika seseorang itu memihak pada dirinya, maka dia
minta porsi lebih, tetapi apabila untuk keperluan orang lain, maka dia akan
beri sedikit. Dengan kejadian ini, tidak tercipta keharmonisan yang diinginkan
dalam Islam. Justru Islam menyarankan seseorang untuk mendahulukan orang lain.
Orang lain harus mendapat porsi lebih banyak. Dalam konteks jual beli, maka
penjual disarankan untuk memberi bonus kepada pembeli. Dengan demikian maka
keharmonisan akan tercipta.

Allah
SWT berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 70-71 yang artinya:

“70.
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah
perkataan yang benar. 71. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan
mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya,
maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. al-Ahzab:
70-71)

Ayat
ini menjelaskan bahwa kita diminta untuk berkata jujur dalam segala hal. Dengan
berkata yang sebenarnya maka Allah akan memperbaiki amalan-amalan kita dan juga
akan mengampuni dosa-dosa kita. Intinya, kita dituntut untuk mentaati Allah SWT
dan Rasul-Nya, dengan demikian kita akan mendapatkan kemenangan yang besar.

  • Amanah. Etika kedua yang penting dalam
    berbisnis adalah dalam Amanah. Etika ini wajib dijalankan oleh pelaku bisnis.
    Seseorang yang menerima amanah harus menjalankan amanah tersebut
    sebaik-baiknya. Contoh, bank syariah mendapatkan amanah dari deposan untuk
    memutar dananya agar dapat menghasilkan laba untuk kemudian dibagikan sesuai
    dengan kesepakatan. Sungguh sangat tercela apabila bank syariah tidak bisa
    menjalankan amanah tersebut dengan baik. Sebagaimana firman Allah SWT dalam
    surah al-Ahzab ayat 72 yang artinya:

“Sesungguhnya
Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka
semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia
itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzab: 72)

  • Menjual barang yang halal dan baik. Manusia
    adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, baik dalam bentuk barang dan
    jasa. Oleh karena itu, barang dan jasa yang diperjual belikan haruslah halal,
    misalnya tidak mengandung alkohol dan babi. Barang dan jasa yang baik misalnya
    minuman yang menyehatkan bagi kesehatan. Dalam salah satu arti hadist, Nabi SAW
    menyatakan bahwa:

“Nabi
SAW melarang menjual buah-buahan hingga jelas baiknya.” (HR. al-Bukhari, Abu
Dawud, al-Darimi, al-Baihaqi, dan al-Baghawie).

  • Memberikan informasi yang lengkap tentang
    keadaan barang yang diperjualbelikan
    . Keberkahan akan terjadi apabila
    pembeli dan penjual sama-sama ridha. Keridhaan akan muncul ketika penjual
    menginformasikan semua hal atas barangnya. Biasanya penjual akan
    menginformasikan kualitas barang yang baik-baik saja, tetapi untuk kecacatan
    barang biasanya tidak diinformasikan. Ini yang tidak sejalan dalam Islam. Etika
    Islam menyarankan agar penjual menginformasikan juga ke pembeli tentang
    kecacatannya. Dalam hal ekonomi, harga yang terbentuk atas kecacatan yang tidak
    terinformasikan akan bias. Sebaliknya apabila kecacatan itu dilaporkan kepada
    pembeli maka harga yang terbentuk adalah harga yang sebenarnya. Ibnu Umar
    menurut riwayat Imam Bukhari, memberitakan bahwa seorang lelaki menceritakan
    kepada Nabi bahwa ia tertipu dalam jual beli. Sabda Nabi yang artinya:

“Seorang
muslim itu saudara bagi muslim lainnya, (karena itu) tidak dihalalkan bagi
seorang muslim jika menjual sesuatu yang ada cacatnya dari saudaranya kecuali
ia menjelaskan aibnya itu). (HR. al-Thabrani)

  • Jangan main sumpah. Ada
    kebiasaan pedagang untuk meyakinkan pembelinya dengan jalan main sumpah agar dagangannya
    laris. Dalam hal ini Rasulullah SAW memperingatkan:

“Jauhilah
(olehmu) banyak sumpah dalam jual-beli, karena (hal) itu melariskan tapi
menghilangkan berkah.” (HR. Ibnu Abi Awanah dalam musnadnya).

  • Longgar dan bermurah hati. Sabda
    Rasulullah SAW:

“Allah
mengasihi orang yang bermurah hati waktu menjual, waktu membeli, dan waktu
menagih hutang”. (HR. Abu Ya’la al Mushili, al-Haitsami)

Kemudian
dalam hadist lain Abu Hurairah memberitakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Ada
seorang pedagang yang mempiutangi orang banyak. Apabila dilihatnya orang yang
ditagih itu dalam kesempitan, dia perintahkan kepada pembantu-pembantunya.”
Berilah kelonggaran kepadanya, mudah-mudahan Allah memberikan kelapangan kepada
kita”. Maka Allah pun memberikan kelapangan kepadanya.” (HR. Bukhari).

  • Larangan riba.
    Sebagaimana Allah SWT telah berfirman:

“Allah
menghapuskan riba dan menyempurnakan kebaikan shadaqah. Dan Allah tidak suka
kepada orang yang tetap membangkang dalam bergelimang dosa”. (QS. al-Baqarah:
276).

  • Anjuran berzakat. Yakni
    menghitung dan mengeluarkan zakat barang dagangan setiap tahun sebanyak 2,5%
    sebagai salah satu cara untuk membersihkan harta yang diperoleh dari hasil
    usaha. Keuntungan dari bisnis tersebut haruslah dikeluarkan zakatnya agar
    bisnis kita menjadi berkah.
  • Toleransi dan keramahtamahan. Dalam
    berbisnis, keramahan harus ditunjukkan oleh kedua belah pihak, yaitu penjual
    dan pembeli. Berbisnis tidak hanya masalah keuntungan saja, tetapi juga
    bagaimana bisnis bisa menjaga ukhuwah Islamiyah antara pihak-pihak terkait,
    Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:

“Dari
Jabir bin Abdullah r.a. bahwasanya Allah merahmati seseorang yang ramah dan
toleransi dalam menjual, membeli, dan menagih.” (HR. al-Bukhari dan
at-Tirmidzi).

Bentuk-bentuk
toleransi dan keramahtamahan yaitu tidak menarik keuntungan yang melampaui
batas kewajaran, serta menerima kembali dalam batas tertentu barang yang
dijualnya jika pembeli merasa tidak puas.

Ini adalah
beberapa etika bisnis dalam Islam. Islam tidak hanya menjelaskan masalah akad
saja tetapi juga etika bisnis yang tidak kalah penting. Marilah kita jalankan
etika bisnis ini sebaik-baiknya. Mudah-mudahan Allah SWT meridhai segala upaya
kita.

Produktivitas
adalah Kunci Sukses Pebisnis Muslim

Kita sadari atau tidak, bahwa pada tahun 2015 ini menjadi titik
awal telah dimulainya kesepakatan perdagangan bebas antara negara ASEAN, atau
yang disebut kesepatakan MEA. Dimana satu negara sama lainnya bebas masuk ke
negara-negara yang tergabung dalam ASEAN tersebut untuk melebarkan sayap
usahanya atau membuka usaha baru, dan memasarkannya kepada penduduk setempat.
Tentu hal ini mendorong kita untuk selalu waspada dan segera bangkit,
berikhtiar dan berdoa kepada Allah SWT disertai dengan usaha yang bersungguh-sungguh,
dan bekerja keras. Tidak hanya duduk manis menjadi penonton atau budak di
negeri sendiri. Bahkan bekerja keras saja tidak cukup, namun juga menuntut
kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Inilah yang disebut produktivitas
yang berkualitas.

Sebagai seorang muslim, kita dituntut menjadi orang yang selalu
berkarya, berprestasi, ada output yang baik dari hari ke hari. Maka untuk itu,
al-Qur’an menekankan untuk terjadinya kompetisi satu sama lain dalam hal
kebaikan. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap
kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu
berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat).
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah: 148)

Hal ini juga diperjelas dengan arti mutiara hikmah dari al-Hasan
bin Ali rahumahullah berikut ini:

“Orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin maka dia
tergolong orang yang beruntung. Dan barang siapa yang hari ini sama dengan hari
kemarin maka dia tergolong orang yang rugi. Sedangkan orang yang hari ini lebih
buruk dari hari kemarin maka dia tergolong orang yang celaka.”

Menjadi seorang muslim yang produktif merupakan sesuatu yang urgen
di saat ini. Produktivitas itu berarti kemampuan untuk menghasilkan sesuatu
atau membuatnya memiliki nilai tambah. Islam sebagai pedoman hidup yang turun
dari Sang Pencipta, sangat menghargai bahkan amat mendorong produktivitas.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

Dari Ibnu ‘Umar ra dari Nabi saw, ia berkata: “Sesungguhnya Allah
mencintai orang yang beriman yang berkarya (produktif menghasilkan berbagai
kebaikan -pen).” (HR. Thabrani, Ibnu Adi, dan al-Baihaqi).

Dalam hadist lain, Nabi juga bersabda:

Dari ‘Aisyah ra. Beliau berkata, telah bersabda Rasulullah SAW,
“Barangsiapa yang di senja harinya merasa letih karena bekerja (mencari nafkah)
maka pada senja hari itu dia berada dalam ampunan Allah.” (HR. at-Thabrani).

Islam membenci pengangguran, sebagaimana yang disampaikan oleh
seorang sahabat Nabi saw, Ibnu Masud ra:

“Sesungguhnya aku benci kepada seseorang yang menganggur, tidak
bekerja untuk kepentingan dunia juga tidak untuk keuntungan akhirat.” (HR.
at-Thabrani).

Bahkan Rasulullah SAW menghargai seorang hamba yang sanggup
mandiri, hidup dengan hasil kemampuannya sendiri:

“Makanan yang terbaik yang dimakan seseorang adalah dari hasil
karya tangannya sendiri dan sesungguhnya Nabi Dawud as pun makan dari hasil
kerjanya sendiri.” (HR. al-Bukhari).

Dalam keterangan lain, beliau SAW menyebutkan bahwa sebaik-baik
usaha adalah apa yang menjadi ekspresi dari keterampilan diri dan segenap
tanggung jawab ekonomi yang dia berikan kepada keluarganya, dinilai sebagai
sedekah yang terus menerus menghasilkan pahala. Sementara pekerjaan terbaik
seseorang adalah apa yang dikerjakan berdasarkan keterampilannya, dan apapun
yang dinafkahkan seseorang untuk dirinya, keluarganya, anaknya dan pembantunya
adalah sedekah. (HR. Ibnu Majah).

“Sesungguhnya Allah mencintai seorang beriman yang sekalipun lemah,
tetapi ia produktif dan selalu menjaga harga dirinya (tidak mau meminta-minta)
dan Allah membenci tukang peminta-minta yang pemaksa.” (Tafsir al-Qurthubi, Juz
11 hal 321).

Produktivitas itu tetap harus dipertahankan dalam segala situasi
dan kondisi, dengan sebuah penggambaran yang ekstrim: bahkan sekalipun Anda
tahu besok akan kiamat, tidak boleh membuat kita berhenti berkarya dan
kehilangan produktivitas. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya:

“Andaipun besok kiamat, sedang di tangan salah seorang di antara
kamu ada tunas pohon kurma, maka tanamlah ia!” (HR. al-Bukhari).

Sedemikian besarnya penghargaan Islam atas produktivitas,
sampai-sampai disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa produktivitas juga erat
kaitannya dengan jalan untuk memperoleh pengampunan dari dosa-dosa yang justru
tidak akan bisa diampuni dengan cara yang lainnya.

“Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu ada beberapa dosa yang tidak
akan terhapus dengan shalat, shaum, haji, dan umrah.” Para sahabat bertanya,
“dengan apa menghapuskannya ya Rasulullah?” Jawab beliau: “dengan semangat dan
bersungguh-sungguh mencari nafkah.” (HR. at-Thabrani).

Tentu ini disampaikan agar kita kaum muslimin tidak hanya terfokus
pada rutinitas ritual semata, tetapi mereka diingatkan bahwa ada aktivitas lain
yang juga harus mereka tekuni, jika mereka ingin agar dosa-dosa mereka
diampuni. Bahwa mereka pun mesti memiliki semangat yang tinggi dan
bersungguh-sungguh dalam mencari nafkah.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan kepada kita
bersama untuk menjadi seorang muslim yang selalu produktif, berkarya dan
berprestasi, selalu berbuat baik hingga ajal menjemput kita dalam khusnul
khatimah. Aamiin.

Rasulullah SAW
Teladan bagi Entrepreneur

Nabi SAW adalah satu-satunya manusia yang mendapat pujian
tertinggi dari Allah SWT sebagai manusia paling berbudi luhur, sebagaimana
firman Allah SWT dalam surat al-Qalam ayat 4 yang artinya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. al-Qalam: 4)

Berpijak dari ayat ini, saya akan menyampaikan tentang budi
pekerti Rasulullah SAW. Kita sudah sering mendengar sejarah atau perjalanan
hidup Nabi SAW, sebagai da’i teladan, panglima perang teladan, dan suami
teladan. Pada khotbah siang ini, saya akan menjelaskan sejarah Nabi SAW dari
sisi yang lain, yaitu sebagai entrepreneur teladan.

Nabi SAW berasal dari suku Quraisy, sebuah suku yang menguasai
kawasan Makkah, yang tidak pernah sepi manusia, karena Ka’bah yang ada di
wilayah ini benar-benar menjadi objek wisata religi penduduk Arab dari semua
suku. Abdul Muthalib sebagai kepala suku yang juga kakek Nabi SAW memanfaatkan
potensi ekonomi ini dengan membangun pasar-pasar dan kegiatan-kegiatan yang
menarik pengunjung, antara lain festival budaya di tengah pasar ‘Ukazh.
Keberhasilan meramaikan Makkah sebagai objek kunjungan wisata membuat suku
Quraisy terkenal dan disegani. Hubungan dagang yang terjalin semakin memperkuat
hubungan kekerabatan dan diplomatik, sehingga kota Makkah terlepas dari
penjajahan Kerajaan Persia maupun Romawi.

Hampir semua kerabat Rasulullah SAW di Makkah adalah para
pedagang. Ayahnya sendiri, Abdullah, juga bermitra dagang dengan para eksportir
dan importir dari dan ke Makkah. Ketika Nabi SAW berada dalam kandungan ibunya,
sang ayah wafat saat melakukan perjalanan berdagang. Jadi darah bisnis ayahanda
mengalir ke Muhammad kecil. Aktivitas bisnis suku Quraisy di Makkah inilah yang
digambarkan Allah SWT dalam surat al-Quraisy ayat 1-2 yang artinya:

“1. Karena kebiasaan orang-orang Quraisy 2. (yaitu) kebiasaan mereka
bepergian pada musim dingin dan musim panas.” (QS. al-Quraisy: 1-2)

Sebagaimana kita ketahui, Nabi SAW lahir sebagai yatim. Inilah
yang membuat Muhammad kecil berlatih mandiri. Kemandirian ini sangat diperlukan
sebagai mental awal bagi setiap wirausahawan. Selama dua tahun ia berada dalam
pengasuhan Halimah as-Sa’diyyah. Perempuan ini selalu menanamkan pada Muhammad
kecil kecerdasan sosial, yaitu kemampuan menjalin pertemanan dan kecepatan
beradaptasi dengan lingkungan. Kecerdasan sosial ini merupakan mental kedua
yang wajib dimiliki oleh wirausahawan setelah mental kemandirian.

Suatu saat, Muhammad kecil tiba-tiba berani duduk di kursi
istimewa kakeknya. Anak-anak seusianya tidak ada yang berani melakukannya. Ia
sempat diusir oleh para kerabatnya, namun Abdul Muthalib, kakeknya membela dan
menyayanginya. Sejak kecil Rasulullah menunjukkan sikap menyukai tantangan dan
tidak suka mengeluh. Ummu Aiman, wanita yang juga pernah mengasuh Rasulullah
mengatakan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah mengeluh lapar maupun haus
saat dewasa maupun masa kecilnya. Di pagi buta, ia pergi dengan minum seteguk
air zam-zam. Tatkala kami menawarkan sarapan kepadanya, ia menjawab: “aku masih
kenyang.” (Kitab Subulul Huda war Rosyad Vol II: 135). Hanya manusia tahan
banting dan suka tantangan seperti beliau inilah yang bisa menjadi pebisnis
sukses.

Di usia hampir remaja, Rasulullah SAW hidup dalam pengasuhan
pamannya, Abu Thalib, yang tak berharta. Kondisi ini memaksa dirinya untuk
bekerja sebagai pengembala hewan ternak milik hartawan Makkah. Profesi sebagai
pengembala sekian tahun ternyata menjadi media pelatihan kepemimpinan untuk
kelak bisa memimpin umat dengan sukses.

Oleh sebab itu bisa difahami jika hampir semua nabi pernah
berprofesi sebagai pengembala hewan. Profesi ini menanamkan jiwa amanah atau
jiwa menerima tanggung jawab dan kepercayaan. Tidak ada pengusaha yang bisa
berkembang atau bertahan lama tanpa trust atau kepercayaan dari pihak lain.
Subhanallah, benar sekali, sejak terkenal sebagai pegawai yang amanah, banyak
pengusaha dan pemilik hewan ternak Makkah yang berebut untuk menjadikan
Muhammad muda sebagai mitra usahanya.

Muhammad muda tidak pernah berhenti belajar. Ketika sang paman
mengajaknya pergi berdagang ke luar Makkah, ia mempelajari seluk-beluk
perdagangan dengan seksama. Inilah pelajaran magang seorang wirausaha, yaitu
mampu menganalisis sirkulasi bisnis. Kecerdasan berbisnis yang diperoleh dari
magang pada bisnis sang paman itulah yang membuatnya berani mengajukan proposal
sebagai mitra dagang wanita kaya Makkah, Khadijah ra.

Apa yang terjadi selama bermitra dagang dengan Khadijah ra?
Khadijah terheran-heran karena omzet perdagangannya melonjak tinggi sejak
ditangani Muhammad muda nan tampan ini. Janda kaya raya ini sampai menunjuk
Maisarah untuk meneliti apa saja yang telah dilakukan Muhammad muda dalam
berbisnis. Utusan itu kemudian menyimpulkan, “Muhammad bekerja dengan orientasi
kepuasan pelanggan melalui bisnis yang transparan.” Hingga saat ini, kepuasan
pelanggan dijadikan sasaran bisnis para wirausaha, namun belum banyak dari
mereka yang memperhatikan transparansi bisnis. Akhirnya, kekaguman Khadijah
berbuah cinta. Melalui seorang perantara, Khadijah menyampaikan maksudnya untuk
bersanding dengan Muhammad sebagai suami. Pernikahan ini sekaligus menguatkan
posisi Muhammad SAW sebagai entrepreneur.

Setelah menjadi suami istri, harta Muhammad dan Khadijah ra
dimerger hingga bisnisnya membesar. Tidak sedikit para wirausahawan melakukan
merger bisnis dengan strategi pernikahan. Muhammad pun menjadi manajer
sekaligus owner perusahaan dengan banyak mitra bisnis dan pelanggan. Untuk
menjaga loyalitas mereka, Muhammad melakukan silaturrahim. Dari silaturrahim
ini, terungkap ragam permasalahan para mitra, lalu Muhammad segera memberikan
solusi kepada mereka.

Muhammad SAW selalu memberikan jamuan istimewa untuk setiap
customer yang menemuinya. Ia sangat terkenal sebagai penyambut tamu yang
terbaik dan paling peduli kepada orang-orang kecil atau masyarakat ekonomi
lemah. Inilah yang menjadikan Khadijah berani memberikan jaminan bahwa Nabi SAW
tidak akan menerima kesengsaraan apapun, sebab ia selalu berpihak kepada kaum
kecil. Ketika Nabi SAW gelisah usai menerima wahyu pertama, Khadijah menghibur
Nabi SAW sebagai berikut:

“Demi Allah, tidak akan terjadi apa-apa. Allah tidak akan
membuatmu hina, karena engkau selalu menyambung sanak kerabat, menanggung beban
orang lain, memberikan pekerjaan kepada pengangguran, menghormati tamu, dan
membantu orang-orang yang tertimpa musibah.” (HR. al-Bukhari).

Pertanggungjawaban sosial bisnis yang diterapkan Muhammad SAW di
atas dapat dirasakan oleh masyarakat internal perusahaan (stockholders) maupun
masyarakat eksternal (stakeholders). Menurut pengalaman Khadijah ra, kebajikan
pengusaha berhubungan dengan kelangsungan bisnis. Semua yang pernah menikmati
keuntungan bisnis akan ikut menjaga dan membelanya.

Puncak harapan kaum wirausahawan telah dicapai oleh Rasulullah SAW
saat usia 40 tahun. Di waktu yang sama, Rasulullah SAW menerima wahyu untuk
pertama kalinya. Sejak saat itu, ia meninggalkan usaha bisnisnya dan fokus pada
tugas kenabian, bahkan semua kekayaan beliau sedikit demi sedikit habis untuk
pendanaan tugas-tugas kenabian. Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan
sedikitpun warisan, karena para nabi dan rasul tidak meninggalkan warisan
harta. Subhanallah.

Saya mengajak kaum muda untuk menjadi entrepreneur. Saatnya tidak
lagi mencari pekerjaan dengan hanya mengandalkan ijazah dari perguruan tinggi, tapi
membuka lapangan kerja untuk saudara-saudara kita. Dengan cara itu, kita
mendapat dua pahala, yaitu pahala mencari rezeki dan pahala memberi sumber
rezeki kepada orang lain. Yakinlah Anda pasti sukses selama Anda berbisnis
secara syariah dengan etos kerja seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Kita
dianjurkan untuk menjadi muslim kaya, sebab dengan kekayaan itulah kita bisa
berbuat lebih banyak untuk percepatan pengembangan Islam ke seluruh penjuru
dunia.

Mewarisi
Profesionalitas dan Entrepreneurship Rasulullah SAW

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. al-Qalam: 4)

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang
beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan
mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan
(jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan
sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam
kesesatan yang nyata.” (QS. ali-‘Imran: 164)

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri,
berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan
keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang
mukmin.” (QS. at-Taubah: 128)

Kalau ada sosok sempurna yang dapat diteladani dalam segala aspek
kehidupan, maka sosok tersebut tidak lain adalah Nabi besar Muhammad SAW.

Dengan sumpah, Allah Yang Maha Agung sendiri menegaskan hal
tersebut. Diri beliau SAW adalah teladan terbaik dalam segala hal, apalagi bagi
orang-orang yang beriman dan selalu ingat Allah SWT. Beliaupun sosok yang
berakhlak agung dan mulia, diutusnya beliau ditengah-tengah kita adalah
anugerah Allah SWT yang sangat luar biasa dan rahmat buat totalitas alam
semesta. Di antara rahmat beliau untuk umat ini adalah dikenalkannya ayat-ayat alam
semesta yang membuktikan keberadaan Allah SWT Sang Maha Pencipta alam semesta,
Penata, dan Pemeliharanya. Dengan mengenal rahasia-rahasia dibalik
penciptaannya, telah beliau semaikan benih-benih ilmu pengetahuan yang akhirnya
berkembang pesat menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini. Beliau
pula yang memperkenalkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan mewajibkan
umatnya untuk mencari ilmu mulai lahir sampai liang lahad (long life
education). Beliau pula satu-satunya sosok manusia yang berani dengan lantang
menyatakan:

“Keutamaan ilmu jauh di atas keutamaan ibadah.” (HR. al-Hakim
& al-Baihaqi)

“Tinta yang dihabiskan para ilmuan untuk ilmu itu di hari kiamat
nanti dinilai/ditimbang sama dengan darahnya para syuhada.” (al-Syirazie, al-Marhabie,
al-Dailami, Ibnu Abdul Bar, dan Ibnu al-Jauzi)

Tentu benarlah sabda beliau SAW, sebuah ibadah justru dapat
menyesatkan bila tidak dimulai dengan menguasai ilmu ibadah tersebut. Belum
lagi dewasa, beliaupun menjadi orang kepercayaan penduduk Makkah dan digelari
dengan al-Amin, yang berarti “orang terpercaya.” Di saat itu pula sudah mulai
belajar memimpin dengan menggembala domba dan belajar berbisnis bersama
pamannya Abu Thalib keluar negeri Mekkah, yaitu negeri Syam (saat ini menjadi
Palestina, Yordania, Syiria, dan Lebanon). Tahun-tahun berikutnya sudah
berbisnis secara mandiri keluar negeri dengan menjalankan amanat modal dari
seorang wanita kaya dan terkemuka Khadijah binti Khuwailid yang selanjutnya
menjadi istri beliau yang dermawan, penyandang dana hampir seluruh kebutuhan
dakwah beliau. Inipun terjadi setelah mendapatkan keuntungan yang sangat besar
dari bisnis yang dikelola oleh sosok yang amanah, terpercaya, yang dikenal
dengan nama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib.

Begitu dipilih dan diangkat sebagai Nabi dan Rasul, beliaupun
memulai dakwahnya dengan prinsip keteladanan dan pelayanan, beliau SAW
bersabda:

“Pemimpin sebuah bangsa adalah pelayannya dan teladannya.” (HR.
Abu Nuaim)

Dakwahpun dilalui dengan tahapan-tahapan yang jelas dan terencana,
dengan rahasia dan pendekatan man to man, keluarga, dan berlanjut secara
terbuka kepada penduduk Makkah. Ketika dirasa Makkah semakin menutup pintunya
untuk dakwah beliau, sementara umatpun semakin tertindas dan terancam,
beliaupun mengalihkan sasaran dakwah kepada Raja Najasi di seberang Afrika yang
terkenal jujur, adil, dan toleran. Kalangan bawah yang tertindas pun
dihijrahkan kepada Raja tersebut, agar mendapat perlindungan dan jaminan
keselamatan sambil berdakwah kepada Raja tersebut.

Selanjutnya dakwah pun diarahkan kepada penduduk Thaif, sekitar
100 km arah tenggara Makkah, penduduk yang sudah lama menjalin hubungan dengan
Bani Hasyim di Makkah, nenek moyang beliau. Berikutnya kepada jamaah Haji yang
datang dari segala penjuru Jazirah Arab. Di sinilah dakwah beliau disambut
dengan antusias oleh penduduk Yatsrib (di kemudian hari menjadi kaum Anshar)
yang membaiat beliau, siap membela beliau dan para sahabat seperti mereka
membela keluarga mereka sendiri dan meminta beliau dan para sahabat agar berhijrah
ke Yatsrib dan menjadikannya pusat dakwah Islam. Pada tahun 10 kenabian,
terjadi peristiwa bersejarah: hijrah ke kota Yatsrib sebagai solusi dan
kebuntuan dakwah di Makkah dan mendobrak status quo. Tentu ini setelah
direncanakan dan dipersiapkan dengan mengirim dai Mush’ab bin Umair ke Yatsrib
sebelumnya.

Hijrahpun dimulai dengan mendahulukan penyelamatan umat yang
tertindas di Makkah, sementara beliau beserta Abu Bakar ra adalah orang
terakhir yang meninggalkan Makkah berhijrah setelah umat terselamatkan.

Langkah awal di Yatsrib dalam rangka mewujudkan masyarakat
Madani (berperadaban) dan Negara baru adalah membangun pusat peradaban dan
komunikasi yang bernama masjid untuk menjalankan berbagai macam aktivitas.

Langkah kedua, konsolidasi internal umat Islam dengan
mempersaudarakan antara imigran dari Makkah (muhajirin) dengan penduduk
Yatsrib-Aus dan Khazraj (kaum Anshar), sampai tingkat waris mewarisi dan baru
berakhir dengan turunnya ayat waris.

Langkah ketiga, konsolidasi seluruh penduduk Madinah (nama
baru Yatsrib) baik Yahudi, Muslim, maupun Arab animisme (masyarakat heterogen)
yang dituangkan dalam perjanjian HAM tertulis pertama di dunia yang disebut
“Piagam Madinah”.

Piagam ini pula yang sangat menginspirasi piagam PBB saat ini,
yang prinsip utamanya:

  1. Pengakuan atas eksistensi masing-masing
    kelompok dengan kebebasan hak politik, agama, maupun budaya.
  2. Jaminan kebebasan beragama dan menjalankan
    ajaran agama masing-masing.
  3. Bersatu padu dalam menghadapi musuh, baik
    eksternal maupun internal.
  4. Rasul sebagai kepala/pemimpin umum yang
    bertanggung menyelesaikan masalah-masalah besar yang menyangkut kepentingan
    bersama.

Harus kita akui pula bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok
yang paling sukses menyiapkan dan mewujudkan generasi penerus yang unggul dalam
hampir setiap aspek kehidupan: negarawan kaliber dunia, panglima dan tentara
yang tangguh, penegak hukum yang handal, saudagar yang punya kepedulian sosial,
bahkan juga masyarakat dan Negara Madani dan berperadaban.

Kita sudah barang tentu tidak bisa meremehkan profesionalitas
beliau SAW sebagai entrepreneur yang handa. Masalahnya bukan “mampukah
kita,” tapi maukah kita mewarisi dan meneladani beliau SAW? Sebab Allah
SWT tidak membebani hamba-Nya diluar batas kemampuannya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia
mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan
kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan
kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau
bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami;
ampunilah kami; dan rahmatillah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah
kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. al-Baqarah: 286).

Abdurrahman bin
Auf Sang Entrepreneur Sejati

Siapa Abdurrahman bin Auf itu? Beliau termasuk salah seorang
sahabat Nabi SAW yang tergolong generasi pertama pemeluk Islam. Nama lengkap
beliau adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdu al-Manaf bin Abdu al-Harits bin
Zuhrah bin Kilab bin Murrah al-Qurasyi al-Zuhri. Beliau lahir di Makkah pada
tahun 581 M. Dan nasabnya bertemu dengan Nabi SAW pada “Kilab bin Murrah”.
Ibunya bernama Asysyifa binti ‘Auf bin Abdu bin al-Harits bin Zuhrah.
Abdurrahman bin Auf wafat pada tahun 31H, ketika berusia 75 tahun dan
dimakamkan di pemakaman Baqi’, Madinah, Allahummaghfirlahu warhamhu, wa’afihi
wa’fu ‘anhu.

Beliau ikut hijrah ke Madinah bersama para sahabat Rasulullah SAW
lainnya, dengan meninggalkan seluruh harta yang dimilikinya, sehingga
sesampainya di Madinah beliau tidak memiliki harta sedikit pun dan bahkan
beliau tidak memiliki istri.

Anas bin Malik meriwayatkan: Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu
tiba di Madinah, lalu Rasulullah SAW mempersaudarakan antara dia dengan Sa’ad
bin al-Rabi’ al-Anshari ra. Kemudian Sa’ad bin al-Rabi’ al-Anshari menawarkan
kepada Abdurrahman bin Auf untuk membagi dua harta dan istrinya, Abdurrahman
bin Auf ra berkata: “Semoga Allah memberkahi dirimu, keluargamu dan hartamu,
cukup tunjukkanlah di mana letak pasarmu.” Lantas ia memperoleh sedikit
keuntungan berupa keju dan samin, Rasulullah SAW pada suatu hari melihat ada
bekas kekuning-kuningan, Nabi bersabda: “Apa yang terjadi pada dirimu wahai
Abdurrahman bin Auf?,” Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, aku telah menikahi
seorang wanita dari kaum Anshar,” Rasulullah bertanya: “Mahar apa yang engkau
berikan kepadanya?,” Ia menjawab: “seberat biji kurma berupa emas,” maka Nabi
bersabda: “Adakanlah walimah meskipun dengan seekor kambing.” (HR. al-Bukhari
dan al-Bazzaar)

Rasulullah sangat menghargai sikap, kemandirian, dan
profesionalisme Abdurrahman bin Auf dalam masalah harta (ekonomi) sebagaimana
arti hadist berikut ini:

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘
“Seorang yang mencari kayu bakar lalu memanggulnya (untuk dijual di pasar)
hasilnya jauh lebih baik daripada orang yang mengemis yang kadangkala diberi
atau ditolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian Abdurrahman bin Auf pun pergi ke pasar dan mengadakan
survei serta mengamatinya secara cermat. Dari hasil pengamatannya beliau
mengetahui, bahwa pasar itu menempati tanah milik seorang saudagar Yahudi. Para
pedagang berjualan di sana dengan sistem menyewa tanah tersebut, yang dalam
perbankan Syariah disebut dengan istilah akad Ijarah.

Langkah selanjutnya beliau minta tolong saudara barunya, yakni
Sa’ad bin al-Rabi’ al-Anshari untuk membeli tanah yang kurang terawat yang
terletak di samping tanah pasar itu. Setelah tanah tersebut dibeli lalu
dipetak-petak secara baik dan proporsional. Siapapun yang berminat untuk
menempatinya, boleh berjualan di tanah itu tanpa membayar sewa. Bila dari berdagang
itu terdapat keuntungan, beliau menghimbau mereka untuk memberikan bagi hasil
seikhlasnya. Para pedagang merasa senang dengan tawaran itu, karena mereka
terbebas dari biaya operasional. Mereka berbondong-bondong pindah ke pasar baru
yang dikembangkan Abdurrahman bin Auf dan beliau mendapat keuntungan (margin)
dari bagi hasil itu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Abdurrahman bin Auf
keluar dari kemiskinan yang membelitnya. Keuletannya dan kegigihan dalam
berdagang serta doa dari Rasulullah SAW, menjadikan perdagangannya semakin
berhasil, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang paling berada.
Kegigihan dan keuletannya dalam berdagang juga seperti yang beliau ungkapkan
sendiri: “Aku melihat diriku kalau seandainya aku mengangkat sebuah batu, aku
mengharapkan mendapatkan emas atau perak.”

Dalam mengembangkan bisnisnya, Abdurrahman bin Auf selalu
berpedoman pada panduan dan rambu-rambu yang diajarkan Rasulullah SAW dalam
sebuah riwayat dari sahabat Rifa’ah bahwa ia pernah bersama Rasulullah SAW
menuju Baqi’ dalam suatu urusan. Di tengah perjalanan beliau berdua melewati
pasar dengan banyak orang yang sedang bertransaksi jual beli. Kemudian
Rasulullah bersabda, “Wahai para pedagang.” Kemudian para pedagang menjawab:
“labbaik, ya Rasulullah.” Lalu pandangannya tertuju kepada Rasulullah, lalu
Rasulullah melanjutkan dengan sabdanya, “Sesungguhnya para pedagang kelak
dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat dalam keadaan jahat (banyak dosa),
kecuali pedagang yang memiliki sifat taqwa, berbuat baik dan jujur (illa
manittaqa wa barra wa shodaqa).”

Bahwasanya Abdurrahman bin Auf adalah sosok sahabat Rasulullah SAW
yang kaya dan berada. Keuntungan dari hasil bisnisnya yang semakin meningkat
dari hari ke hari, tidaklah menyebabkan beliau lupa diri, menjadi manusia pelit
dan kikir serta jauh dari jalan Allah SWT. Bahkan sebaliknya, beliau seorang
yang rendah hati dan dermawan serta kekayaannya digunakan untuk sarana berjuang
di jalan Allah SWT (jihad fi sabilillah).

Di antara sifat kedermawanan beliau adalah beliau penyandang dana
Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi) sepeninggal Nabi wafat, mendanai perang
Tabuk, memerdekakan budak. Dalam sebuah riwayat dari Ja’far bin Burqan, beliau
berkata: “Saya pernah mendengar bahwa Abdurrahman bin Auf telah memerdekakan
hamba sebanyak tiga puluh ribu (30.000) jiwa,” dan juga membantu orang-orang
yang membutuhkan (fuqara’ dan masakin).

Bahwasanya pada diri Abdurrahman bin Auf memiliki banyak
keistimewaan dan di antara keistimewaannya adalah sebagai berikut:

Diriwayatkan dalam sebuah hadist shahih,
bahwasanya Sa’id bin Zayd berkata yang artinya:

Rasulullah SAW bersabda: “Abu Bakar di surga,
Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di
surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’ad di Surga, dan Abu Ubaidah bin
al-Jarrah di surga.” (HR. al-Hakim dan at-Tirmidzi).

Beliau adalah sosok sahabat Nabi SAW yang
berada (konglomerat), namun hidupnya tetap bersahaja dan salah satu sahabat
yang mendapat doa dari Nabi untuk dimasukkan ke dalam syurga. Namun demikian
beliau tetap rendah hati dan tidak lupa diri. Sebagaimana komentar Sa’id bin
Jubair: “Abdurrahman bin Auf tidak dapat dibedakan di antara hamba sahayanya.”

  • Kecintaan Rasulullah SAW terhadap Abdurrahman
    bin Auf

Bahwasanya Ummu Salamah RA. menceritakan bahwa
Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya yang akan menjaga kamu sekalian
sepeninggalku adalah al-Shadiq al-Bar (Abdurrahman bin Auf), Ya Allah
hidangkanlah minuman mata air syurga kepada Abdurrahman bin Auf.” (HR. Ahmad,
at-Thabrani, al-Hakim, dan al-Ashbahani)

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda:

“Engkau adalah orang kepercayaan penduduk bumi
dan engkau juga orang kepercayaan penduduk langit.” (HR. al-Hakim, Abu Nu’aim,
dan Ibnu Abi Ashim)

  • Sifat dermawan yang dipuji Allah lewat
    firman-Nya

Tercatat kedermawanan Abdurrahman bin Auf,
seperti hadist dari Anas bin Malik ra, beliau berkata yang artinya:

Ketika Aisyah ra di rumahnya, tiba-tiba ia
mendengar suara yang menggemparkan Madinah, maka ia berkata: ‘Suara apa ini?’
Para sahabat menjawab: ‘Kafilah dagang Abdurrahman bin Auf ra dari Syam telah
tiba, jumlah kafilah dagangnya sebanyak 700 unta. Maka Aisyah ra berkata:
‘Sungguh aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Aku melihat Abdurrahman
bin Auf ra masuk surga dengan merangkak’. Informasi ini terdengar oleh
Abdurrahman bin Auf ra, lantas ia mendatangi Aisyah ra sekaligus menanyakan
perihal apa yang disampaikan Aisyah ra. Abdurrahman bin Auf berkata: ‘Sungguh
aku saksikan di hadapan engkau bahwa seluruh kafilah dagang yang terangkut
diinfaqkan di jalan Allah.” (HR. Ahmad, al-Hakim, dan al-Ashbahani)

Demikian pula ketika Rasulullah SAW mengadakan
mobilisasi dana untuk menghadapi perang Tabuk, yaitu sebuah peperangan yang
membutuhkan banyak perbekalan. Maka datanglah Abdurrahman bin ‘Auf dengan
membawa dua ratus ‘uqiyah emas dan menginfakkannya di jalan Allah SWT. Maha
benar firman Allah SWT yang memuji tindakan Abdurrahman bin Auf dan sahabat
Nabi lainnya, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di
jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu
dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si
penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (al-Baqarah:
262)

  • Menjadi Imam Shalat Rasulullah SAW

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa dalam
satu peperangan Rasulullah SAW pernah menjadi makmum Abdurrahman bin Auf.
Sahabat Amr bin Wahab menuturkan bahwa al-Mughirah bin Syu’bah menyebutkan
bahwa menjelang shubuh Rasul mengajak al-Mughirah untuk menemaninya membuang
hajat. Setelah buang hajat Rasul memintanya untuk mengambilkan air wudhu’, namun
ternyata mereka sudah terlambat karena rombongan sedang menunaikan shalat yang
diimami oleh Abdurrahman bin Auf. Ketika itu al-Mughirah berusaha untuk
menghentikan shalat jemaah tersebut dengan kembali mengumandangkan adzan, namun
Rasul melarangnya sehingga Rasulullah menjadi makmum yang diimami Abdurrahman
bin Auf.

  • Pendapatnya menjadi rujukan Umar bin Khaththab

Sahabat Anas bin Malik menceritakan, bahwa
hukuman bagi peminum khamar, Nabi SAW menjatuhkan hukuman jilid dengan pelepah
kurma sebanyak empat puluh (40) kali dan demikian pula dilakukan oleh Abu
Bakar. Seterusnya Anas menceritakan, ketika Umar bin Khaththab diangkat menjadi
khalifah: “Sesungguhnya orang kampung telah datang ke kota, apa pendapat kalian
tentang hukum peminum khamar?” Lalu Abdurrahman bin Auf berkata: “Kita
menetapkan hukumannyadi bawah hukuman hudud,” maka Umar pun menetapkan hukuman
sebanyak delapan puluh (80) kali jilid.

Sahabat Ibnu Abbas ra meriwayatkan, bahwa
ketika Umar bin Khaththab menuju Syam dan manakala sampai di desa Sara’ beliau
mendapat berita bahwa Syam telah dilanda oleh penyakit waba’ (penyakit
menular). Kemudian Umar mengumpulkan semua sahabat Rasulullah SAW dan meminta
pendapat, sehingga muncullah berbagai pendapat. Namun beliau menyetujui
pendapat untuk kembali (agar tidak meneruskan perjalanan). Tiba-tiba muncullah
Abdurrahman bin Auf ra karena buang hajat. Lalu beliau berkata: Sesunggunya
saya sangat mengerti masalah ini, karena aku pernah mendengar Rasulullah SAW
bersabda yang artinya:

“Apabila terjadi penyakit menular di suatu
tempat, maka janganlah kamu masuk ke dalamnya dan apabila terjadi di suatu
tempat, sedangkan kamu berada di dalamnya maka janganlah kamu keluar darinya
karena lari dari penyakit tersebut.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban,
Malik, dan Abdur Razzaq dalam al-Mushannaf).

Di samping keistimewaan yang dimiliki Abdurrahman bin Auf
sebagaimana yang disebutkan di atas, masih banyak keistimewaan lain yang tidak
kami sebutkan.

Abdurrahman bin Auf meninggal dunia di usia 75 tahun dan
meninggalkan 28 (dua puluh delapan) anak lelaki dan 8 (delapan) anak perempuan.
Hal yang sangat menarik bahwa walaupun Abdurrahman bin Auf sudah menyumbangkan
hampir keseluruhan hartanya di jalan Allah SWT. Namun beliau masih meninggalkan
harta warisan yang sangat banyak.

Dalam sebuah riwayat dari Muhammad, beliau menceritakan bahwa di
antara harta peninggalan Abdurrahman bin Auf adalah emas murni sehingga tangan
para tukang bagi (amil) merasa kewalahan untuk membagikannya dan empat orang
istrinya masing-masing menerima harta warisan sebanyak 80.000 (delapan puluh
ribu) dinar.

Abu Amr berkata: Abdurrahman bin Auf adalah seorang pedagang
sukses dalam bidang perniagaan dan seorang entrepreneur sejati, sehingga
mendapatkan laba yang sangat banyak dan meninggalkan sebanyak 1.000 unta, 300
kambing, dan 100 kuda perang yang digembalakan di daerah Naqi’ dan mempunyai
lahan pertanian, sehingga kebutuhan keluarganya setahun dipasok dari hasil
tanaman tersebut.

Abdurrahman bin Auf adalah sosok yang dapat menjadi inspirasi dan
teladan bagi umat Muslim, serta dapat mengambil hikmah dari kehidupannya dan
mencontoh kepribadian beliau Sang Entrepreneur sejati dalam mengarungi hidup
dan kehidupan ini, Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Karakter Utama
Entrepreneur Muslim

Islam memberikan perhatian yang cukup besar terhadap kesejahteraan
hidup umatnya. Islam tidak hanya mengajarkan kepada pemeluknya untuk beribadah
mahdah, tapi juga sangat mendorong umatnya untuk bekerja keras meraih
kesejahteraan hidup duniawi. Kendati demikian bukan berarti betapapun kerasnya
usaha yang dilakukan, harus selalu dalam bingkai hukum Islam. Dalam QS.
at-Taubah ayat 105 Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan
kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu
diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 105)

Pada arti QS. al-Jumu’ah ayat 10 Allah SWT juga mengingatkan agar
umat Islam tidak bersantai-santai setelah menunaikan ibadah mahdhoh melainkan
segera bekerja mencari rezeki yang tersebar di muka bumi ini.

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka
bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung.” (QS. al-Jum’ah: 10)

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Baihaqi,
Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya bekerja mencari rezeki yang halal itu merupakan
kewajiban setelah ibadah fardhu.” (at-Thabrani dan al-Baihaqi)

Baik ayat al-Qur’an maupun hadist Nabi Muhammad SAW di atas jelas
memberikan isyarat agar manusia bekerja keras dan hidup mandiri dan sekaligus
memberikan motivasi yang begitu kuat bagi umat Islam untuk berwirausaha.
Bekerja keras adalah langkah nyata yang dapat menghasilkan kesuksesan (rezeki)
dan merupakan esensi dari kewirausahaan yang didengung-dengungkan pemerintah
saat ini.

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan bahwa
beliau adalah seorang wirausahawan sejati yang menjalankan usahanya hingga ke
mancanegara. Dalam kitab Musnad Imam Ahmad juz 4 dan The History of Islam
diceritakan bahwa, pada saat usia 12 tahun, Nabi Muhammad SAW telah pergi ke
Syiria, berdagang bersama pamannya Abu Thalib. Kemudian, ketika pamannya
meninggal dunia, beliau tumbuh dan berkembang sebagai wirausahawan yang mandiri
dengan melakukan perdagangan keliling di kota Makkah dengan rajin dan penuh
dedikasi pada usahanya sampai akhirnya dipercaya oleh seorang janda kaya,
pemilik modal terbesar ketika itu, yang bernama Khadijah ra. untuk menjalankan
bisnisnya. Kecerdasan Muhammad SAW sebagai seorang wirausahawan telah
mendatangkan keuntungan besar bagi Khadijah, karena tidak satupun jenis bisnis
yang ditangani Nabi Muhammad SAW mengalami kerugian. Lebih kurang dua puluh
tahun Nabi Muhammad berkiprah sebagai seorang wirausahawan, sehingga beliau
sangat dikenal di Syiria, Yaman, Basrah (Iraq), Yordania, dan kota-kota
perdagangan di jazirah Arab.

Keberhasilan Rasulullah SAW dalam menjalankan bisnisnya tidak
lepas dari karakter yang dimilikinya. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak
atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang. Karakter inilah yang
menentukan respon atau tindakan seseorang terhadap suatu keadaan. Abraham
Lincoln berkata, “Reputasi adalah bayangan dan karakter adalah pohonnya”.
Karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan
seorang individu.

Karakter yang diajarkan Rasulullah SAW dalam menjalankan bisnis
dan harus dipegang teguh oleh para pengusaha Muslim antara lain sebagai
berikut:

Pertama, Shiddiq yang berarti berkata benar atau
jujur. Dalam kata lain, jujur adalah satunya kata dan perbuatan. Orang yang
bersikap jujur berarti tidak ada kontradiksi dan pertentangan yang disengaja
antara ucapan dan perbuatannya. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Hendaklah kalian berlaku jujur, sebab kejujuran itu akan
mengantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan mengantarkan ke dalam
surga. Dan seseorang senantiasa berlaku jujur, dan membiasakan diri dengan
kejujuran, hingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.” (HR. Bukhari
dan Muslim)

Bentuk kejujuran dalam bisnis antara lain adalah pemberian
informasi ataupun penjelasan yang benar kepada konsumen terkait keunggulan
produk dan sekiranya terdapat cacat dan kelemahan maka disampaikan secara benar
dan transparan. Dari Hakim bin Hizam, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Jika kedua orang yang melakukan transaksi jual beli, maka
masing-masing dari keduanya boleh memilih selama mereka belum berpisah. Jika
mereka berdua memilih atau salah satu dari keduanya memberikan pilihan (khiyar)
pada lainnya, maka pilihan salah seorang dari keduanya lantas dilanjutkan jual
beli maka transaksi jual beli menjadi wajib, jika keduanya berpisah setelah
terjadi transaksi jual beli dan salah satu dari keduanya tidak meninggalkan
jual belinya maka transaksi jual beli ini berlaku’. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pengusaha yang jujur berpandangan bahwa harta tidak akan bertambah
dengan berlaku curang sebagaimana juga tidak akan berkurang karena berlaku
jujur. Triliunan rupiah yang diberkahi oleh Allah jauh lebih baik daripada satu
rupiah yang dicela dan dijauhkan dari berkah yang barangkali menjadi sebab
kehancuran bagi pemiliknya di dunia dan akhirat. Keuntungan akhirat adalah
keuntungan hakiki nan abadi. Dan hal itu jauh lebih baik daripada keuntungan
dunia dan seisinya. Keuntungan harta dunia hanya akan habis dengan habisnya
umur manusia, sementara kezhaliman seseorang dan dosanya akan tetap abadi. Dan
sumber kebaikan itu hanya ada pada keselamatan agama.

Kedua, Amanah artinya dapat dipercaya, bertanggung
jawab, dan kredibel. Lawan dari sikap amanah adalah khianat. Orang yang amanah
memiliki komitmen untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan. Orang yang
amanah senantiasa memberikan setiap hak kepada pemiliknya tanpa mengurangi
sedikitpun, baik sedikit ataupun banyak, dan tidak mengambil bagian kecuali
yang menjadi haknya. Perintah untuk bersikap amanah tertera jelas dalam
al-Qur’an surah an-Nisa’ ayat 56, Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara
manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. an-Nisa’: 58)

Di antara bentuk manah dalam bisnis adalah tidak mengurangi
takaran dan timbangan dari barang-barang dagangannya, sehingga tidak merugikan
konsumen, selalu menepati janji baik kepada rekan bisnis, pelanggan atau
pihak-pihak lain. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Aku adalah pihak ketiga dari
kedua belah pihak yang berserikat selama salah seorang dari keduanya tidak
mengkhianati temannya. Jika salah satu dari keduanya telah mengkhianati
temannya, Aku berlepas diri dari keduanya” (HR. Abu Dawud dan al-Hakim).

Ketiga, Fathanah, artinya cerdas atau memiliki
intelektualitas yang tinggi. Intelektualitas adalah anugerah istimewa dan
termahal yang hanya diberikan pada manusia, tidak kepada makhluk-makhluk
lainnya. Dengan intelektualitas manusia dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan
ide-ide kreatif inovatif yang sangat berguna bagi dalam menjalani kehidupan,
juga berguna dalam memahami ayat-ayat kauniyah yang terbentang dimuka bumi
sehingga meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Oleh karena itu dalam
al-Qur’an, Allah SWT selalu mendorong manusia untuk menggunakan akalnya. Dalam
al-Qur’an Allah SWT menyatakan yang artinya:

“Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan
gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua
buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi
kaum yang memikirkan.” (QS. al-Ra’d: 3).

Implikasi fathanah dalam bisnis adalah segala sesuatu aktivitas
didasari dengan pertimbangan yang matang, tidak asal-asalan dan dijalankan
secara profesional. Intelektualitas juga melahirkan ide-ide inovatif yang
bermanfaat dalam menciptakan nilai tambah untuk meraih keunggulan sehingga
dapat memenangkan persaingan. Dengan intelektualitas, pebisnis juga dapat
dengan cermat memprediksi situasi persaingan ke depan dengan kemajuan teknologi
komunikasi yang demikian pesat, yang sudah tidak mengenal batas garis wilayah
dan teritorial suatu negara.

Keempat, Tabligh, artinya komunikatif. Orang yang
memiliki sifat tabligh, akan menyampaikan sesuatu gagasan dalam format yang
sesuai dengan kondisi umat sehingga dapat dengan mudah dipahami. Allah SWT
dalam al-Qur’an arti surah Ibrahim ayat 4 menyatakan:

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya,
supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah
menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang
Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.
Ibrahim: 4).

Pengertian “Berbicara dengan bahasa kaumnya” pada ayat tersebut
memiliki makna yang luas. Bisa dalam lingkup wilayah, lingkup tingkat
intelektual, maupun lingkup profesi. Pengertian dalam lingkup wilayah, misalnya
orang-orang Cina hendaknya diajak bicara dengan bahasa Cina atau orang-orang
Rusia harus menggunakan bahasa Rusia. Pada lingkup tingkat intelektualitas,
ayat tersebut bermaksud bahwa orang-orang berpendidikan diajak berbicara dengan
bahasa ilmiah, sedangkan orang-orang awam dengan bahasa yang sederhana dan mudah
dipahami. Pada lingkup jenis profesi bisnis, orang-orang bisnis diajak bicara
dengan menggunakan bahasa bisnis.

Dalam dunia bisnis, wirausahawan haruslah menjadi komunikator yang
mampu mengkomunikasikan visi dan misinya dengan benar kepada investor, mitra
bisnis, karyawan dan stakeholder lainnya. Seorang pemasar harus mampu
menyampaikan keunggulan-keunggulan produknya dengan jujur, benar dan tanpa
menyinggung perasaan pelanggan.

Kelima, Toleran, yaitu sikap memberi kemudahan
pihak-pihak terkait dalam menyelesaikan kewajiban-kewajibannya dan berupaya
menghilangkan kesempitan dan kesulitan yang dihadapi oleh saudaranya. Dalam
al-Qur’an surah al-Maidah ayat 2 Allah SWT berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar
Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu)
binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula)
mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia
dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji,
maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu
kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu
berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat
siksa-Nya.” (QS. al-Maidah: 2)

Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla senantiasa membantu hamba-Nya
selama hamba-Nya membantu saudaranya, siapa yang meringankan kesulitan dari
seorang mukmin atau mukminah karena Allah, maka Allah akan meringankan
kesulitannya di dunia dan akhirat, dan siapa saja yang menutup aurat seorang
mukmin atau mukminah, maka Allah Ta’ala akan menutup auratnya pada hari
kiamat.” (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’ie, at-Thabrani, Abu Dawud,
at-Tirmidzi, al-Baghawi, al-Baihaqi, dan Ibnu Hibban)

Implementasi toleran dalam bisnis antara lain pemberian hak kepada
pembeli untuk memilih barang-barang yang dikehendaki, memberikan kelonggaran
kepada mitra bisnis dalam menyelesaikan hutang-piutangnya baik mengenai
perpanjangan waktu maupun pemberian keringanan lainnya.

Etos Kerja
Entrepreneur Muslim

Jika kita mencermati data yang dikeluarkan oleh Biro Pusat
Statistik pada bulan Februari 2015 maka kita jumpai bahwa dampak dari lambatnya
pertumbuhan ekonomi di negeri ini baik ekonomi makro ataupun ekonomi mikro
sangat banyak, di antaranya adalah:

  1. Meningkatnya jumlah pengangguran yang mencapai
    7,4 juta jiwa.
  2. Tindak kriminalitas dan kejahatan jalanan
    semakin meningkat, sebagaimana yang disampaikan oleh Kriminolog dari
    Universitas Indonesia.
  3. Semakin banyak PHK dan perampasan kendaraan
    bermotor di jalanan.

Sehubungan dengan hal di atas, marilah sejenak kita merenungkan
firman Allah Ta’ala dalam surah al-Hajj ayat 77 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu,
sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”
(QS. al-Hajj: 77).

Seruan dalam ayat di atas ditujukan kepada orang-orang yang
beriman, yang menurut Syaikh Abu Bakar Jabir al Jaza’iri rahimahullah dalam
muqaddimah di kitabnya Nida’aturrahmaan li ahli al imaan menyatakan:
“Jika Allah Ta’ala memulai firman-Nya dengan seruan ya ayyuhal ladzina
aamanuu
maka dapat dipastikan bahwa di dalam ayat tersebut ada dua
kemungkinan, kemungkinan yang pertama adalah ada perintah yang musti dikerjakan
oleh setiap mukmin atau kemungkinan yang kedua adalah adanya larangan yang
harus ditinggalkan oleh setiap mukmin.”

Jika kita amati dengan seksama maka pada ayat tersebut terdapat
perintah yang harus dilakukan oleh setiap muslim, salah satu perintah-Nya
adalah seruan untuk berkarya yang menjadi salah satu pilar untuk meraih
kesuksesan, seruan ayat ini selaras dengan firman Allah Ta’ala dalam surah
az-Zalzalah ayat 7 yang artinya:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya
dia akan melihat (balasan)Nya.” (QS. az-Zalzalah: 7).

Dalam berkarya untuk meraih kesuksesan diperlukan etika sehingga
etos kerja dan karya kita menjadi lebih bermakna dan memberikan efek positif.
Pada kali ini, saya ingin menulis artikel mengenai kiat agar etos kerja kita
lebih optimal dan menjadi lebih baik. Menurut saya ada empat prinsip yang harus
menjadi perhatian dan fokus kita:

Yang pertama adalah kita harus menyadari bahwa ketika kita
berkarya dan bekerja maka semangat yang harus tertanam dalam diri kita adalah
bahwa berkarya dan bekerja ini sebagai bentuk dari syukur kita kepada Allah
Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Saba’ ayat 13 yang artinya:

“… Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).
Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13).

Imam Ibnu Katsir memberikan catatan terhadap ayat ini dengan
menyatakan: “Bahwa Dawud alaihis salaam ketika keluar rumah, beliau bertanya
kepada seorang penunggang kuda perihal ibadahnya dan kepribadiannya, dan setiap
beliau bertanya, tidak ada seorang pun kecuali semuanya memuji dan menyanjung
ibadah dan kepribadiannya, (lantas Wahb ibn Munabbih) menyatakan: ‘Hingga
akhirnya Allah Ta’ala mengutus malaikat yang menyamar dengan bentuk manusia,
lantas Nabi Dawud bertanya kepadanya: ‘(malaikat tersebut) menjawab: ‘Dawud as
adalah orang yang terbaik untuk dirinya dan umatnya, kecuali satu sikap yang
jika satu sikap ini tidak ada padanya niscaya menjadi pribadi yang sempurna’,
maka Dawud as bertanya: ‘Apakah hal tersebut?’, malaikat menjawab: ‘Dawud as
makan dan memberikan makan keluarganya berasal dari harta yang bersumber dari
baitul maal’, maka Dawud alaihis salaam akhirnya mengadu kepada Allah Ta’ala
hingga akhirnya Allah karuniakan ilmu pandai besi hingga mahir membuat pedang
dan baju besi dan karunia kedua adalah merdunya suara, dan kemerduan suaranya
digunakan untuk menyenandungkan Zabur.”

Pada ayat di atas tersampaikan bahwa Nabi Dawud as menjadi
sempurna kala ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, dan
ketika berkarya sesungguhnya ia membuktikan syukurnya kepada Allah SWT karena
telah dianugerahi kemahiran dalam membuat pedang dan baju. Inilah contoh
istimewa dari Nabi Muhammad SAW yang bekerja sebagai penggembala kambing di
saat usianya masih belia, ini semua menunjukkan bahwa Islam tidak menyukai
pribadi peminta-minta.

Kisah Nabi SAW menggembalakan kambing termaktub dalam hadist yang
diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam shahihnya bersumber dari Abu Hurairah ra
yang artinya:

“Tidaklah Allah Ta’ala mengutus nabi kecuali ia pernah
menggembalakan kambing”, maka para sahabatnya bertanya: “Engkau juga
demikian?”, Beliau menjawab: “Ya, aku pernah menggembalakan kambing bagi
penduduk Makkah dengan upah sepersekian dinar.” (HR. al-Bukhari).

Yang kedua adalah orientasi dan karyanya adalah hasil
dari produktivitas yang unggul, kalau dalam lembaga keuangan syariah adalah
laba rugi dan kualitas pembiayaan yang bagus. Hal ini tercermin dalam firman
Allah SWT di surat al-Baqarah ayat 201 yang artinya:

“Di antara mereka ada yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, karuniakan
untuk kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat dan kami dijauhkan dari api
neraka.” (QS. al-Baqarah: 201).

Dalam hal ini Ibnu Katsir rahimahullah mengutip ungkapan al-Qasim
bin Abdirrahman rahimahullah: “Siapa saja dikaruniai oleh Allah Ta’ala berupa
hati yang senantiasa bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan fisik yang
prima maka sungguh ia telah dianugerahi kenikmatan dunia yang baik dan akhirat
yang terbaik serta dijauhkan dari siksa Neraka.”

Yang ketiga adalah karakter yang bagus dengan indikasinya
adalah pribadi yang jujur (intregrity), memiliki kekuatan fisik, dan mental
yang meliputi sisi emosional, spiritual, dan intelektual yang sering disebut
dengan reliability. Karakter ini sangat tampak pada sosok Nabi Musa as,
sebagaimana yang diungkapkan oleh Allah SWT dalam surat al-Qashash ayat 26 yang
artinya:

“Salah satu dari kedua putrinya menyatakan: “Wahai ayahanda, jika
engkau berkenan untuk mengangkat pembantu, maka sebaik baik pembantu adalah
yang berkarakter kuat dan amanah.” (QS. al-Qashash: 26).

Dalam hal ini Ibnu Katsir rahimahullah menuturkan: “Bahwa Musa as,
ketika sampai di sumber mata air di Madyan, ia mendapati sekelompok penggembala
kambing memberikan minum untuk seluruh gembalaannya’, ketika seluruh
penggembala setelah usai, mereka menutup kembali sumber mata air dengan batu
besar yang perkiraan beratnya hanya mampu diangkat oleh sepuluh orang lelaki,
ketika itu Musa as melihat dua orang gadis menjauh dari rombongan penggembala,
sehingga Musa as tertarik untuk bertanya kepada keduanya: ‘Apa yang terjadi
pada kalian berdua?’, keduanya menuturkan problema yang dihadapinya, hingga
akhirnya Musa as mengangkat batu besar tersebut dan memberikan minum hingga
kenyang seluruhnya’. Setelah itu Musa as menepi dan berdoa kepada Allah
Ta’ala.”

Yang keempat adalah kerja cerdas dengan memberdayakan
segenap potensi yang ada, baik sumber daya insani maupun sumber daya alam.
Kemampuan ini tercermin dalam kepribadian Nabiyullah Sulaiman as kala menerima
amanah melanjutkan dakwah Nabiyullah Dawud as, sehingga mampu menunjukkan
kinerja terbaik kala menjadi pemimpin bagi umat.

Jika etos kerja dimaknai dengan semangat kerja, maka etos kerja seorang Muslim bersumber dari visinya, yaitu: meraih kehidupan yang terbaik di dunia dan akhirat. Jika etos kerja difahami dengan etika kerja, maka sekumpulan karakter, sikap, dan mentalitas, akan menunjukkan kesungguhan dalam bekerja.

Sumber: Kumpulan Khotbah Bisnis dan Keuangan Syariah.


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Perlu bantuan? Chat disini aja!