Keislaman Abu Bakar Ash-Shiddiq, Dakwahnya, Ujian yang Dialaminya, dan Hijrahnya yang Pertama

Keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq, Dakwahnya, Ujian yang Dialaminya dan Hijrahnya yang Pertama – Lampu Islam

Keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq

Keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq adalah hasil dari sebuah
perjalanan imaniyah yang panjang dalam usaha mencari agama yang benar dan
selaras dengan fitrah yang lurus dan mampu memenuhi dahaga dan hasrat spiritualnya,
serta sesuai dengan akal yang waras dan cerdas serta daya pikir yang tajam.

Oleh karena pekerjaannya sebagai saudagar menjadikannya
banyak melakukan perjalanan jauh melewati perbukitan, gunung-gunung, gurun
sahara, kota-kota dan kampung-kampung di jazirah Arab, menjelajah dari Utara
menuju Selatan dan dari Timur ke Barat semenanjung Arab, berinteraksi dan
bergaul secara intensif dengan para penganut agama-agama yang beragam terutama
agama Nasrani. Abu Bakar ash-Shiddiq juga banyak mendengarkan kalimat-kalimat
dari sejumlah orang yang membawa bendera tauhid, bendera pencarian agama yang
lurus.

Abu Bakar ash-Shiddiq bercerita tentang dirinya, “Suatu
ketika, aku duduk-duduk di pelataran Ka’bah. Waktu itu, Zaid bin Amr bin Nufail
sedang duduk. Lalu lewatlah Ibnu Abu Ash-Shalt dan berkata kepadanya,
“Bagaimana kabar Anda wahai pencari kebaikan?” Ia pun menjawab, “Baik.” Ibnu
Abu ash-Shalt kembali bertanya, “Apakah Anda telah menemukan?” Ia menjawab,
“Belum.” Lalu ia berucap,

Setiap agama pada Hari Kiamat adalah binasa kecuali apa
yang masih tetap pada jalur al-Hanifiyyah (tauhid).

Sungguh, nabi yang ditunggu-tunggu kedatangannya itu berasa
dari kami atau dari kalian.”

Abu Bakar ash-Shiddiq melanjutkan ceritanya, “Sebelum itu,
aku belum pernah mendengar tentang seorang nabi yang ditunggu-tunggu
kedatangannya dan diutus. Lalu aku pun pergi untuk menemui Waraqah bin Naufal
-ia adalah orang yang suka memandang ke langit dan sering bergumam dan
komat-kamit- lalu aku pun meminta dirinya berhenti sejenak. Kemudian aku
menceritakan kepadanya kejadian yang aku dengan tersebut. Lalu ia pun berkata,
“Benar wahai keponakanku, kami adalah orang-orang yang ahli tentang kitab-kitab
dan ilmu. Ketahuilah, sesungguhnya nabi yang ditunggu-tunggu itu termasuk orang
Arab yang paling baik dan mulia nasabnya.” Dalam hati aku berkata, “Aku adalah
orang yang memiliki pengetahuan tentang nasab.” Lalu aku berkata, “Wahai
pamanku, apa yang dikatakan oleh sang nabi itu?” Ia berkata, “Sang nabi itu
mengatakan apa yang dikatakan kepadanya. Ketahuilah, tidak boleh ada kezhaliman
dan saling membalas kezhaliman, tidak boleh menzhalimi, tidak boleh dizhalimi,
dan tidak boleh saling membalas kezhaliman.”

Lalu ketika Rasulullah resmi diangkat sebagai Nabi dan
Rasul, maka aku pun beriman, percaya, dan membenarkan beliau. Ia mendengar apa
yang disenandungkan oleh Umayyah bin Abu ash-Shalt seperti dalam senandungnya
berikut ini,

Tiadakah seorang nabi untuk kami yang berasal dari kami,
lalu ia mengabarkan kepada kami tentang apa yang ada setelah ujung tujuan kami
dari kehidupan kami. Aku berlindung kepada Dzat Yang menjadi maksud dan tujuan
para jamaah haji yang berhaji dan orang-orang yang meninggikan pilar-pilar
agama Allah.

Abu Bakar ash-Shiddiq menjalani hidup pada masa tersebut
dengan daya pikir, pemahaman dan pandangan yang tajam, akal yang cerdas dan
cemerlang, pikiran yang brilian, hati yang sensitif, kecerdasan yang tajam, dan
kontemplasi yang kuat yang memenuhi segenap relung jiwanya. Dari itu, ia hafal
banyak syair-syair dan berita-berita seperti itu.

Pada suatu ketika, Rasulullah bertanya kepada para sahabat
dan Abu Bakar ash-Shiddiq adalah salah satu yang ikut hadir waktu itu,
“Siapakah di antara kalian yang hafal perkataan Qais bin Sa’idah di pasar
Ukazh?” Para sahabat pun terdiam, lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Aku
hafal wahai Rasulullah. Kala itu, aku ikut hadir di pasar Ukazh, dan waktu itu
Qais bin Sa’idah menyampaikan khutbah dari atas untanya yang berwarna kelabu,
“Wahai orang-orang, dengarlah dan pahamilah, dan jika kalian paham, maka
ambillah manfaat. Sesungguhnya orang yang hidup pasti akan mati, dan orang yang
mati, maka ia sudah berlalu. Setiap yang akan datang pasti akan datang.
Sesungguhnya di langit terdapat berita dan sesungguhnya di bumi terdapat banyak
ibrah dan pelajaran, hamparan yang diletakkan (bumi), atap yang ditinggikan
(langit), bintang-bintang yang datang dan pergi, lautan yang airnya tidak
pernah mengering dan surut ke dalam tanah, malam gelap dan langit yang memiliki
bintang-bintang!!” Qais bersumpah, “Sesungguhnya Allah memiliki agama yang
lebih Dia sukai dari agama yang kalian anut saat ini. Aku melihat orang-orang
pergi dan tidak kembali lagi (meninggal dunia), apakah mereka senang dan puas
dengan tempat yang ada di sana sehingga mereka pun tinggal menetap di sana dan
tidak mau kembali, ataukah mereka ditinggal lalu tidur.” Kemudian ia
bersenandung,

Pada orang-orang terdahulu yang telah pergi terdapat banyak ibrah dan
pelajaran bagi kita.

Ketika aku melihat tempat-tempat yang menjadi kolam kematian yang tidak
memiliki sumber.

Dan aku melihat kaumku baik yang besar maupun yang kecil, yang tua
maupun yang muda, pergi menuju ke kolam-kolam kematian itu.

Aku yakin bahwa aku pasti akan
menuju ke tempat yang sama di mana kaumku menuju ke sana.

Dengan memori yang tajam dan kuat seperti itu, yaitu memori
yang memuat makna-makna seperti itu, Abu Bakar ash-Shiddiq mengisahkan kepada
Rasulullah dan para sahabat apa yang dikatakan oleh Qais bin Sa’idah.

Ketika sedang berada di Syam, Abu Bakar ash-Shiddiq
mengalami sebuah mimpi. Lalu ia ceritakan mimpinya itu kepada rahib Buhaira.
Lalu Buhaira berkata kepadanya, “Dari manakah Anda berasal?” Abu Bakar
ash-Shiddiq menjawab, “Dari Makkah.” Buhaira kembali bertanya, “Dari suku
mana?” Abu Bakar ash-Shiddiq menjawab, “Dari Quraisy.” Buhaira kembali
bertanya, “Apa pekerjaan Anda?” Abu Bakar ash-Shiddiq menjawab, “Saudagar.”
Lalu Buhaira berkata, “Jika Allah menjadikan mimpimu itu benar, maka akan ada
seorang nabi yang diutus berasal dari kaummu yang kamu akan menjadi wazirnya ketika
ia hidup dan kamu akan menjadi khalifahnya setelah ia meninggal dunia.” Lalu
Abu Bakar ash-Shiddiq pun menyimpan dan merahasiakan hal itu dan tidak ia
beritahukannya kepada siapa pun.

Keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq terjadi setelah pencarian,
pengamatan, penyelidikan, dan penantian sekian lama. Pengetahuan dan wawasan
Abu Bakar ash-Shiddiq yang mendalam serta hubungannya yang sangat kuat dengan
Nabi Muhammad adalah faktor signifikan yang memotivasi dirinya untuk langsung
memenuhi dan menerima dakwah Islam. Pada saat wahyu turun kepada Nabi Muhammad
dan beliau mulai berdakwah kepada individu-individu, maka pilihan pertama
beliau jatuh kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Karena ia adalah sahabat karib
beliau yang selama ini telah beliau kenal dengan baik sebagai sosok yang ramah,
halus, santun, dan penuh kesopanan serta memiliki watak yang baik dan mulia.
Demikian pula, Abu Bakar ash-Shiddiq telah mengenal beliau dengan baik sebagai
sosok yang jujur, amanah, dan berakhlak mulia yang menjadikan beliau tidak pernah
melakukan kebohongan terhadap manusia, apa lagi terhadap Allah.

Maka, ketika Rasulullah menyampaikan dakwah kepada Abu Bakar
ash-Shiddiq dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah dan
Nabi-Nya, Dia mengutusku untuk menyampaikan risalah-Nya, dan aku menyeru kamu
kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka demi Allah sungguh ini adalah
kebenaran, aku menyeru kamu wahai Abu Bakar kepada Allah semata tiada sekutu
bagi-Nya, janganlah kamu menyembah kepada selain Dia, dan aku mengajak kamu untuk
senantiasa taat kepada-Nya. Maka, Abu Bakar ash-Shiddiq pun secara spontan
langsung masuk Islam tanpa sedikit pun gagap dan langsung menerima tanpa
menunda-nunda sedikit pun. Ia pun langsung membuat komitmen kepada Rasulullah
untuk membantu, mendukung, dan menolong beliau. Ia pun benar-benar melaksanakan
komitmennya itu. Dari itu, Rasulullah bersabda menyangkut diri Abu Bakar
ash-Shiddiq, “Sesungguhnya Allah mengutus diriku kepada kalian, lalu kalian
berkata kepadaku, “Anda bohong,” sementara Abu Bakar ash-Shiddiq berkata,
“Beliau benar,” dan ia mendukung diriku sepenuhnya dengan jiwa dan hartanya.
Maka, tiadakah kalian membiarkan sahabatku ini dan tidak lagi menyakitinya?”
Beliau mengucapkan kalimat terakhir ini sebanyak dua kali.”

Dengan begitu, Abu Bakar ash-Shiddiq adalah laki-laki yang
pertama kali masuk Islam dari kalangan orang merdeka. Ibrahim an-Nakha’i,
Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Abbas dan Asma` binti Abu Bakar mengatakan,
“Orang yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakar ash-Shiddiq.”

Yusuf bin Ya’qub al-Majisyun berkata, “Aku hidup pada masa
kehidupan ayahku dan guru-guru kami, yaitu Muhammad bin al-Munkadir, Rabi’ah
bin Abdirrahman, Shalih bin Kaisan, Sa’ad bin Ibrahim dan Utsman bin Muhammad
al-Akhnas, mereka semua tidak meragukan bahwa orang yang pertama kali masuk
Islam adalah Abu Bakar ash-Shiddiq.”

Diceritakan dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, “Orang yang
pertama kali shalat adalah Abu Bakar ash-Shiddiq.” Kemudian Abdullah bin Abbas
mengutip sejumlah bait syair Hassan bin Tsabit,

Jika Anda mengingat kenangan mengharukan dari saudara
orang yang memiliki kredibilitas dan reliabilitas, maka ingatlah saudaramu Abu
Bakar ash-Shiddiq tentang apa yang telah dia kerjakan.

Ia adalah sebaik-baik manusia setelah Nabi, orang yang
paling bertakwa, orang yang paling adil dan orang yang paling amanat dalam
menunaikan apa yang ia tanggung.

Ia adalah orang kedua yang terpuji rekam jejaknya dan
orang yang pertama kali membenarkan dan mengimani Rasul.

Ia adalah satu dari dua orang yang berada di gua yang
tinggi, sedang musuh mengelilingi gua itu ketika naik ke atas bukit.

Dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq

Buah pertama hasil dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq adalah,
masuknya sekelompok orang pilihan ke dalam agama Islam. Mereka itu adalah,
Az-Zubair bin al-Awwam, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abu
Waqqash, Utsman bin Mazh’un, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Abdurrahman bin Auf,
Abu Salamah bin Abd al-Asad dan al-Arqam bin Abu al-Arqam. Abu Bakar
ash-Shiddiq membawa para sahabat yang mulia tersebut satu persatu secara
sendiri-sendiri, lalu masuk Islam di hadapan Rasulullah. Maka, mereka pun
menjadi tiang dan pilar-pilar yang menjadi penyangga pertama dan utama menara
dakwah. Mereka adalah tokoh-tokoh yang menjadi bekal pertama dan utama dalam
menguatkan dan memperkokoh posisi Rasulullah, dan dengan mereka pula lah Allah
mengokohkan dan menguatkan beliau.

Selanjutnya, orang-orang pun secara berturut-turut mulai
berbondong-bondong masuk Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Masing-masing
dari mereka itu juga sekaligus menjadi juru dakwah yang mengajak kepada Islam.
Bersama mereka pula mulai berdatangan satu dua dan sekelompok kecil dari
golongan orang yang selanjutnya masuk kategori orang-orang yang terdahulu masuk
Islam. Mereka, meskipun berjumlah sedikit, namun mereka mempresentasikan
batalion atau detasmen dakwah dan benteng pertahanan risalah yang dalam sejarah
Islam tidak ada yang mengungguli mereka dan tidak ada pula yang bisa disamakan
dengan mereka.

Abu Bakar ash-Shiddiq sudah barang tentu memiliki perhatian
besar terhadap keluarganya. Maka, Asma`, Aisyah, Abdullah, Ummu Ruman dan
pembantunya yang bernama Amir bin Fuhairah pun masuk Islam. Sifat-sifat
terpuji, keutamaan-keutamaan yang agung dan akhlak yang mulia yang terjelma
pada kepribadian Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi faktor efektif yang menjadikan
orang-orang tertarik ketika mereka diajak kepada Islam.

Rekam jejak dan catatan akhlak Abu Bakar ash-Shiddiq begitu
besar di tengah kaum dan klannya. Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok yang
disukai dan dicintai kaumnya, familiar, bersahabat, mudah diterima, lembut,
toleran, ramah, orang Quraisy yang paling pakar tentang nasab Quraisy, bahkan
ia adalah pakar nasab yang tidak ada duanya pada zamannya. Ia adalah sosok
pemimpin dan pemuka yang dihormati, dermawan, dan gemar membantu. Di Makkah, ia
biasa menyediakan jamuan bagi para tamu dalam bentuk yang tidak ada seorang pun
yang melakukannya. Di samping itu, ia adalah sosok yang memiliki lisan yang
fasih.

Akhlak dan sifat-sifat yang terpuji seperti itu merupakan
hal yang mesti dimiliki oleh para juru dakwah. Jika tidak, maka dakwah mereka
hanya akan menjadi seperti teriakan di tengah lembah dan justru akan menjadi
seperti meniup abu. Sirah Abu Bakar ash-Shiddiq yang menggambarkan dengan jelas
kepada kita tentang pemahamannya tentang Islam dan bagaimana ia menghayatinya
dalam kehidupannya, sudah sepatutnya para juru dakwah meniru dan meneladaninya
dalam aktifitas dakwah yang mereka lakukan.

Ujian dan Cobaan yang Dialami oleh Abu Bakar ash-Shiddiq

Ujian dan cobaan sudah menjadi semacam sunnah, ketentuan
atau hukum alam yang pasti dialami dan berlaku pada semua orang, baik pada
skala individu, golongan, bangsa, umat maupun negara. Sunnah ini tidak
terkecuali juga dialami dan berlaku pada para sahabat yang mulia. Mereka
mengalami dan menghadapi ujian dan cobaan yang gunung-gunung tinggi, besar, dan
kokoh pun begitu berat memikulnya. Mereka telah mengorbankan harta benda dan
darah mereka di jalan Allah, mengerahkan segenap kemampuan, potensi, dedikasi,
kerja keras, dan kesungguhan mereka.

Orang-orang terhormat dari kaum muslimin tidak terkecuali
juga tidak lepas dari ujian dan cobaan. Abu Bakar ash-Shiddiq tidak terkecuali
juga mengalami berbagai gangguan, kepalanya ditaburi debu dan dipukuli dengan
sandal di al-Masjidil Haram, sampai-sampai seluruh mukanya kotor penuh dengan
debu dan lebam-lebam hingga hampir tidak bisa dikenali lagi. Ia pun dibawa
pulang ke rumahnya dalam keadaan antara hidup dan mati.

Aisyah meriwayatkan bahwa suatu ketika, tiga puluh delapan
sahabat Rasulullah berkumpul. Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun mendesak
Rasulullah agar tampil terbuka di hadapan publik. Waktu itu, Rasulullah
berkata, “Wahai Abu Bakar, jumlah kita saat ini sedikit.” Namun Abu Bakar
ash-Shiddiq tetap mendesak, hingga akhirnya Rasulullah pun bersedia tampil
terbuka. Waktu itu, orang-orang Islam pun berpencar di sudut-sudut masjid,
tiap-tiap orang menyampaikan dakwah secara terbuka kepada keluarga besar dan
klannya. Abu Bakar ash-Shiddiq pun berdiri menyampaikan khutbah kepada
orang-orang, sedang waktu itu Rasulullah duduk. Dengan begitu, Abu Bakar
ash-Shiddiq adalah orang pertama yang menyampaikan khutbah menyeru kepada Allah
dan Rasul-Nya.

Melihat hal itu, orang-orang musyrik pun geger, gempar, dan
menyerang Abu Bakar ash-Shiddiq dan kaum muslimin serta memukuli mereka di
sudut-sudut masjid. Lalu ada seorang fasik bernama Utbah bin Rabi’ah mendekati
Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu mulai memukulinya dengan dua sandal yang keras dan
kasar dan berusaha diarahkan ke wajahnya, serta menginjak-injak perut Abu Bakar
ash-Shiddiq, hingga waktu itu wajahnya sulit dikenali lagi. Lalu Bani Taim pun
datang berbondong-bondong dan berusaha menghalau orang-orang musyrik agar
menjauhi Abu Bakar ash-Shiddiq. Bani Taim pun membawa Abu Bakar ash-Shiddiq
pulang ke rumahnya dan waktu itu mereka berfikiran bahwa nyawa Abu Bakar
ash-Shiddiq sepertinya sudah tidak bisa tertolong lagi. Kemudian Bani Taim
kembali ke masjid dan berkata, “Jika Abu Bakar mati, maka sungguh kami
benar-benar akan membunuh Utbah bin Rabi’ah.”

Bani Taim kembali lagi ke rumah Abu Bakar ash-Shiddiq.
Ketika itu, ayah Abu Bakar ash-Shiddiq, yaitu Abu Quhafah dan Bani Taim
berusaha mengajak bicara Abu Bakar ash-Shiddiq, hingga akhirnya pada sore hari
ia pun bisa berbicara, lalu berkata, “Bagaimana keadaan Rasulullah, apa yang
terjadi pada diri beliau?” Lalu mereka pun mencela Abu Bakar ash-Shiddiq, dan
berkata kepada ibundanya, “Coba Anda beri ia makan atau minum.” Lalu ketika Abu
Bakar ash-Shiddiq hanya ditemani oleh ibundanya, maka Abu Bakar ash-Shiddiq pun
terus bertanya kepada ibundanya, “Bagaimana kabar Rasulullah, apa yang terjadi
pada diri beliau?” Lalu ibundanya pun berkata, “Sungguh aku tidak tahu
bagaimana kabar dan keadaan sahabatmu itu.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berkata
kepada ibundanya, “Ibu, tolong pergi dan temui Ummu Jamil binti al-Khathab.
Tanyakan kepadanya tentang keadaan Rasulullah.” Lalu ibundanya pun pergi untuk
menemui Ummu Jamil. Setelah bertemu Ummu Jamil, ia pun bertanya kepadanya, “Abu
Bakar bertanya kepada Anda tentang keadaan Muhammad bin Abdullah.” Lalu Ummu
Jamil berkata, “Aku tidak mengenal Abu Bakar dan tidak pula Muhammad bin
Abdullah. Bagaimana kalau saya pergi menemui putra Anda secara langsung.” Ia
berkata, “Baiklah.”

Lalu keduanya pun pergi untuk menemui Abu Bakar ash-Shiddiq,
dan ia pun mendapati Abu Bakar ash-Shiddiq terbaring sakit dengan kondisi yang
mengenaskan. Lalu Ummu Jamil pun mendekat dan berteriak seraya berkata,
“Sungguh orang-orang telah menganiaya Anda untuk kepentingan kaum fasik dan
kafir. Sungguh aku berharap Allah membalas mereka.” Abu Bakar ash-Shiddiq
berkata, “Bagaimana keadaan Rasulullah, apa yang terjadi pada diri beliau?”
Ummu Jamil berkata, “Ibu Anda ada di sini, ia bisa mendengar apa yang akan aku
katakan.” Abu Bakar ash-Shiddiq pun berkata, “Tidak apa-apa, Anda tidak perlu
khawatir.” Ummu Jamil pun berkata, “Beliau selamat dan baik-baik saja.” Abu
Bakar ash-Shiddiq bertanya, “Di manakah beliau sekarang?” Ummu Jamil berkata,
“Di Dar al-Arqam.” Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Sungguh aku tidak akan
mencicipi makanan atau minuman, hingga aku datang menemui Rasulullah.” Lalu
ibunda Abu Bakar ash-Shiddiq dan Ummu Jamil pun mencoba menenangkan Abu Bakar
ash-Shiddiq dan memintanya sabar sesaat hingga situasi dan suasana menjadi
tenang dan reda dulu.

Setelah situasi dan kondisi yang ada reda dan tenang, maka
mereka berdua pun memapah Abu Bakar ash-Shiddiq untuk pergi menemui Rasulullah.
Ketika sampai, Rasulullah pun memeluk Abu Bakar ash-Shiddiq dan menciumnya, dan
kaum muslimin pun ikut memeluknya. Rasulullah merasa sangat terharu kepada Abu
Bakar ash-Shiddiq. Lalu ia berkata, “Sungguh wahai Rasulullah, aku tidak
apa-apa kecuali apa yang dilakukan oleh si fasik terhadap wajahku. Ini ibuku
yang sangat sayang dan begitu perhatian kepada anaknya, dan Anda adalah sosok
yang diberkahi, maka serulah ibuku ini kepada Allah dan aku mohon Anda berkenan
mendoakan ibuku semoga dengan Anda Allah berkenan menyelamatkannya dari
neraka.”

Lalu Rasulullah pun mendoakannya dan menyerunya kepada
Allah, lalu ia pun masuk Islam.

Kejadian agung tersebut, di dalamnya termuat sejumlah
pelajaran dan ibrah bagi setiap Muslim yang bergairah dan memiliki antusiasme
untuk meneladani para sahabat yang mulia. Dalam hal ini, kami akan berusaha
untuk menyimpulkan sebagian dari pelajaran dan ibrah tersebut yang di antaranya
adalah:

  • Hasrat dan ambisi Abu Bakar ash-Shiddiq yang begitu kuat untuk mempublikasikan dan memproklamirkan Islam secara terbuka di hadapan kaum kafir. Ini menunjukkan kekuatan keimanan Abu Bakar ash-Shiddiq dan keberaniannya. Ia tidak gentar sedikit pun dan rela menanggung penderitaan besar, sampai-sampai kaumnya berpikiran bahwa ia akan mati akibat penderitaan yang dialaminya itu.

Abu Bakar ash-Shiddiq telah menyirami hatinya dengan
kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi dirinya. Setelah masuk Islam, ia
tidak lagi mempedulikan apa pun selain bagaimana supaya panji tauhid berkibar
tinggi dan bagaimana supaya seruan “Laa ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah”
menggema dengan keras di segenap penjuru Makkah, meskipun seandainya itu harus
ia bayar mahal dengan nyawanya. Dan memang benar, Abu Bakar ash-Shiddiq hampir
saja menyerahkan hidupnya sebagai harga untuk membayar akidah dan keislamannya.

  • Sikap kukuh Abu Bakar ash-Shiddiq untuk
    mempublikasikan dakwah Islam secara terbuka di tengah kezhaliman Jahiliyah,
    karena ambisinya yang sangat kuat untuk mempublikasikan kepada manusia tentang
    agama tersebut yang pancaran keceriaannya meresap dan menyatu dalam hati,
    meskipun ia mengetahui dan menyadari betul penderitaan yang mungkin akan ia dan
    para sahabatnya alami. Hal itu tidak lain karena ia telah melepaskan
    kepentingan diri pribadinya dan tidak lagi mempedulikannya.
  • Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya telah
    meresap masuk ke dalam hatinya mengalahkan kecintaannya kepada diri sendiri.
    Buktinya adalah, meskipun ia sedang mengalami penderitaan yang luar biasa,
    namun apa yang ia tanyakan pertama kali adalah, “Bagaimana keadaan Rasulullah,
    apa yang terjadi pada diri beliau?” Sebelum ia sempat makan atau minum, bahkan
    ia bersumpah tidak akan makan dan minum hingga ia datang menemui Rasulullah.
    Seperti itulah semestinya kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya bagi setiap
    Muslim, Allah dan Rasul-Nya semestinya lebih ia cintai dari segala sesuatu yang
    lain, bahkan meskipun ongkosnya adalah nyawa dan hartanya.
  • Fanatisme kesukuan pada masa itu memiliki peran
    dalam menentukan dan mengontrol arah kejadian-kejadian dan interaksi dengan
    individu-individu, bahkan meskipun ada perbedaan akidah. Lihatlah bagaimana
    klan atau kaum Abu Bakar ash-Shiddiq mengancam untuk membunuh Utbah bin Rabiah
    jika Abu Bakar ash-Shiddiq sampai meninggal dunia.
  • Terlihat sepak terjang luar biasa Ummu Jamil
    binti al-Khathab. Sepak terjangnya itu melukiskan kepada kita bagaimana ia
    tumbuh di atas pondasi kecintaan dan persistensi kepada dakwah serta melakukan
    pergerakan untuk agama ini. Maka, ketika ibunda Abu Bakar ash-Shiddiq bertanya
    kepadanya tentang kabar berita Rasulullah, maka ia menjawab, “Aku tidak kenal
    Abu Bakar dan tidak pula Muhammad bin Abdullah.” Ini adalah sebuah langkah dan
    tindakan kewaspadaan, antisipasi dan kehati-hatian yang tepat. Karena Ummu
    al-Khair ibunda Abu Bakar ash-Shiddiq waktu itu belum lagi masuk Islam dan
    ingin Ummu al-Khair mengetahui keislamannya. Pada waktu yang sama, ia ingin
    merahasiakan lokasi keberadaan Rasulullah karena khawatir Ummu al-Khair akan
    memberitahukan hal itu kepada Quraisy.

Pada waktu yang sama pula, Ummu Jamil sebenarnya ingin
memastikan keselamatan Abu Bakar ash-Shiddiq. Dari itu, ia mengusulkan kepada
Ummu al-Khair untuk menemaninya menemui putranya. Ketika sudah bertemu dengan
Abu Bakar ash-Shiddiq, Ummu Jamil sangat berhati-hati dan waspada jangan sampai
dari mulutnya keluar informasi apa pun tentang tempat keberadaan Rasulullah,
dan ia pun menyampaikan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq bahwa Rasulullah selamat
dan baik-baik saja. Sikap hati-hati, waspada, dan antisipasi terhadap
kejahiliyahan yang selalu berupaya memalingkan orang-orang dari agama mereka
itu nampak nyata pada keputusan mereka bertiga, bahwa mereka baru akan pergi
menemui Rasulullah ketika suasana sudah tenang, 
kegaduhan sudah mereda, dan kondisi mulai kembali kondusif.

  • Terlihat jelas bakti Abu Bakar ash-Shiddiq
    kepada ibundanya dan keinginannya yang kuat supaya ibundanya mendapatkan
    hidayah, pada perkataannya kepada Rasulullah, “Ini ibuku, ia adalah sosok ibu
    yang sangat dan perhatian kepada putranya, sedang Anda wahai Rasulullah adalah
    sosok yang diberkahi, maka serulah ia kepada Allah dan doakanlah dirinya semoga
    dengan perantaraan Anda Allah menyelamatkannya dari neraka.” Ini adalah sebuah
    gambaran rasa takut kepada adzab Allah dan hasrat yang tinggi kepada ridha dan
    surga-Nya.

Rasulullah pun mendoakan ibunda Abu Bakar ash-Shiddiq semoga
ia mendapatkan hidayah. Lalu Allah pun memperkenankan doa beliau itu, sehingga
ibunda Abu Bakar ash-Shiddiq pun masuk Islam dan menjadi bagian dari jamaah
kaum Mukminin yang diberkahi yang selalu bekerja keras untuk menyebarkan agama
Allah.

Di sini, kita bisa merasakan rahmat dan kasih sayang Allah
kepada para hamba-Nya. Pada waktu yang sama, dari kejadian tersebut, kita bisa
menemukan hukum habis gelap terbitlah terang, kelapangan setelah kesempitan,
kebahagiaan setelah kesusahan dan anugerah setelah ujian dan cobaan.

  • Di antara para sahabat yang paling banyak
    mengalami penderitaan dan gangguan setelah Rasulullah adalah Abu Bakar
    ash-Shiddiq. Hal itu mengingat persahabatannya yang spesial dan sangat intim
    dengan beliau serta keberadaannya yang senantiasa bersama beliau di berbagai
    kesempatan di mana beliau mengalami berbagai gangguan dari kaum beliau. Ketika
    itu, Abu Bakar ash-Shiddiq dengan penuh keberanian langsung maju membela dan
    melindungi beliau, rela mengorbankan dirinya demi untuk menyelamatkan beliau.
    Sehingga ia pun menghadapi berbagai gangguan dan sikap tolol kaum Quraisy,
    padahal Abu Bakar ash-Shiddiq merupakan salah satu pemuka Quraisy yang terkenal
    memiliki akal cerdas, kebijaksanaan, dan gemar berbuat kebajikan.

Pembelaan Abu Bakar ash-Shiddiq kepada Rasulullah

Di antara sifat Abu Bakar ash-Shiddiq yang menjadi kelebihan
dan tipikalnya adalah keberanian. Ia adalah sosok yang tidak takut kepada siapa
pun dalam kebenaran. Ia sama sekali tidak akan terganggu oleh celaan orang yang
mencela dalam usaha membela agama Allah, bekerja untuk kepentingan agama-Nya
dan dalam membela Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Urwah bin az-Zubair, ia berkata, “Aku
meminta kepada Abdullah bin Amr bin al-Ash supaya ia memberitahukan kepadaku
tentang hal paling keras yang diperbuat oleh orang-orang musyrik terhadap Nabi
Muhammad, lalu ia berkata, “Pada suatu ketika, tatkala Rasulullah sedang shalat
di sisi Ka’bah, tiba-tiba Uqbah bin Abu Mu’ith datang, lalu melilitkan bajunya
di leher Rasulullah dan mencekik beliau dengan keras. Lalu Abu Bakar
ash-Shiddiq pun datang dan memegangi pundak Uqbah bin Abu Mu’ith, lalu
menariknya dan menjauhkannya dari Rasulullah dan berkata dengan menyitir ayat,

Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia
menyatakan, “Tuhanku ialah Allah.
” (Ghafir: 28).

Dalam riwayat Anas disebutkan, bahwasanya ia berkata,
“Sungguh mereka pernah memukuli Rasulullah hingga menyebabkan beliau pingsan.
Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berdiri dan berteriak, “Celaka kalian, apakah kalian
ingin membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, “Tuhanku ialah Allah.”

Dalam hadist Asma` disebutkan, “Lalu ada seseorang yang
bergegas menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan berkata kepadanya, “Cepat tolong
sahabatmu.” Asma` melanjutkan ceritanya, “Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun
bergegas pergi, sedang waktu itu rambutnya diikat menjadi empat ikatan, seraya
berkata, “Celaka kalian, apakah kalian ingin membunuh seorang laki-laki karena
ia menyatakan, “Tuhanku ialah Allah.” Lalu mereka pun meninggalkan Rasulullah
dan ganti berpaling ke arah Abu Bakar ash-Shiddiq dan memukulinya. Lalu Abu
Bakar ash-Shiddiq pun kembali pulang kepada kami, maka ia tidak menyentuh suatu
apa pun dari ikatan rambutnya itu melainkan ia kembali bersamanya.

Dalam hadist Ali bin Abu Thalib disebutkan, bahwa ia Ali bin
Abu Thalib berdiri menyampaikan pidato, “Wahai orang-orang, siapakah orang yang
paling berani?” Mereka menjawab, “Anda wahai Amirul Mukminin.” Lalu Ali bin Abu
Thalib berkata, “Adapun aku, maka tidak ada satu orang pun yang menantang tanding
denganku melainkan aku membalasnya. Akan tetapi, orang yang paling berani
adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Kami membuat ’arisy (semacam anjang-anjang
untuk tempat pemimpin perang mengamati dan memberikan komando) untuk
Rasulullah. Lalu kami berkata, “Siapakah yang bersedia bersama-sama Rasulullah
untuk menjaga beliau agar tidak ada seorang pun dari kaum Quraisy yang
menyerang beliau?” Maka, demi Allah, sungguh tidak ada seorang pun yang coba
mendekati Rasulullah melainkan Abu Bakar ash-Shiddiq langsung menghunus
pedangnya di atas kepala Rasulullah, tiada seorang pun yang coba menyerang
Rasulullah melainkan Abu Bakar ash-Shiddiq pasti akan menyerangnya. Inilah
orang yang paling berani.”

Ali bin Abu Thalib kembali bercerita, “Aku melihat
Rasulullah diserang oleh orang-orang Quraisy, orang ini mendorong-dorong dengan
keras, yang itu menangkap dan yang itu menarik-narik, seraya mereka berkata,
“Kamu menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja.”

Tiada satu orang pun yang coba mendekati Rasulullah
melainkan Abu Bakar ash-Shiddiq memukul dan melawan yang ini dan menarik-narik
yang itu, seraya berkata, “Celaka kalian, apakah kalian ingin membunuh seorang
laki-laki karena ia menyatakan, “Tuhanku ialah Allah.” Setelah bercerita,
kemudian Ali bin Abu Thalib pun mengangkat burdah yang ia kenakan, lalu ia pun
menangis tersedu-sedu hingga jenggotnya basah oleh air mata. Kemudian ia
berkata, “Aku mengingatkan kalian kepada Allah, apakah si laki-laki yang
beriman dari keluarga Fir’aun itu adalah yang lebih baik ataukah Abu Bakar
ash-Shiddiq?” Lalu orang-orang pun terdiam, lalu Ali bin Abu Thalib berkata,
“Maka demi Allah, sungguh sesaat dari Abu Bakar ash-Shiddiq adalah lebih baik
dari sepenuh bumi dari si laki-laki yang beriman dari keluarga Fir’aun itu. Ia
menyembunyikan keimanannya, sementara laki-laki ini maksudnya adalah Abu Bakar
ash-Shiddiq- mempublikasikan dan memproklamirkan keimanannya secara
terang-terangan.”

Itu adalah sebuah potret jelas yang menggambarkan tabiat
konflik antara yang haq dan bathil, antara petunjuk dan kesesatan dan antara
keimanan dan kekafiran. Juga menggambarkan penderitaan dan siksaan yang dialami
Abu Bakar ash-Shiddiq di jalan Allah. Potret tersebut juga memberikan gambaran
tentang ciri-ciri yang jelas tentang kepribadian Abu Bakar ash-Shiddiq yang
tiada duanya dan keberaniannya yang langka yang diakui sendiri oleh Ali bin Abu
Thalib dalam testimoninya pada masa kekhilafahannya, yakni setelah beberapa
dekade. Ali bin Abu Thalib pun sangat terkesan dan terharu, hingga ia pun
menangis tersedu-sedu dan membuat orang-orang juga ikut menangis.

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang pertama kali
disakiti dan mengalami penderitaan setelah Rasulullah, orang yang pertama kali
membela Rasulullah dan orang yang pertama kali berdakwah menyeru kepada Allah.

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah tangan kanan Rasulullah,
menyerahkan segenap dedikasinya untuk dakwah, senantiasa berada di samping
Rasulullah dan membantu beliau dalam mendidik, mengajari, dan memuliakan
orang-orang yang masuk Islam. Abu Dzarr mengisahkan kepada kita cerita tentang
keislamannya. Di dalamnya ia mengatakan, “Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berkata,
“Ya Rasulullah, izinkanlah malam ini aku yang menjamunya makan,” dan bahwa Abu
Bakar ash-Shiddiq menjamu Abu Dzarr dengan makanan zabib (kismis) Tha`if.

Demikianlah, Abu Bakar ash-Shiddiq dalam dedikasinya
mendukung Rasulullah menganggap enteng, remeh, dan sepele mara bahaya yang
mengancam dirinya, namun ia sekali-kali tidak akan rela sedikit pun jika ada
mara bahaya yang mengancam Rasulullah baik sedikit maupun banyak di mana pun
dan kapan pun ia melihatnya dan dirinya mampu untuk membela beliau menghadapi
orang-orang yang berbuat jahat terhadap beliau.

Abu Bakar ash-Shiddiq melihat kaum kafir menjambak kerah dan
memegangi leher Rasulullah, maka ia pun langsung menghalau mereka seraya
berteriak, “Celaka kamu, apakah kalian ingin membunuh seorang laki-laki karena
ia menyatakan, “Tuhanku ialah Allah?!” Lalu mereka pun berpaling dari
Rasulullah dan ganti mengeroyok Abu Bakar ash-Shiddiq, memukulinya, dan
menjambak-jambak rambutnya. Lalu mereka tidak meninggalkannya melainkan dalam
keadaan bajunya sobek-sobek semuanya.

Abu Bakar ash-Shiddiq Membelanjakan Hartanya untuk
Membebaskan Orang-orang yang Disiksa Karena Keimanan

Gangguan, intimidasi, teror dan kekerasan yang dilancarkan
oleh orang-orang musyrik terhadap Rasulullah dan para sahabat semakin meningkat
eskalasinya dan intensif hingga mencapai puncaknya, bersamaan dengan semakin tersebarnya
dakwah Islam di tengah masyarakat Makkah jahili, terutama terhadap orang-orang
Islam yang lemah dan tertindas.

Mereka diintimidasi, diteror, diperlakukan secara kasar dan
disiksa untuk memalingkan mereka dari akidah dan keislaman mereka. Juga sekaligus
supaya mereka bisa menjadi pelajaran dan contoh bagi yang lain, serta untuk
meluapkan kebencian dan kemarahan dengan menimpakan berbagai bentuk siksaan
kepada mereka sehingga kebencian dan amarah orang-orang musyrik itu terobati
dan merasa terpuaskan.

Bilal misalnya, ia mengalami penyiksaan yang luar biasa,
sementara ia tidak memiliki orang yang bisa menopangnya, tidak memiliki kaum
atau klan yang bisa melindunginya dan tidak pula kekuatan dan pedang yang bisa
membelanya. Orang seperti Bilal ini di tengah masyarakat Jahiliyah Makkah tidak
memiliki nilai apa-apa, tidak memiliki peran dalam kehidupan melainkan hanya
melayani, patuh, dan diperjual belikan tak ubahnya seperti binatang ternak.
Jika orang seperti Bilal ternyata memiliki pendapat, pemikiran, dakwah atau
posisi, maka dalam masyarakat jahili Makkah dianggap sebagai sebuah kejahatan
extraordinary yang menggetarkan dan menggoncangkan pilar-pilar dan sendi-sendi
tatanan masyarakat jahili Makkah.

Akan tetapi sebuah dakwah baru yang dengan cepat mendapatkan
respon positif dan apresiasi yang luar biasa dari para generasi muda yang
menantang tradisi dan adat para generasi tua mereka, telah mampu menyentuh hati
seorang budak yang dicampakkan dan dilupakan itu yang bernama Bilal. Dakwah
baru itu pun menjadikannya terlahir kembali sebagai seorang manusia baru dalam
kehidupan. Makna-makna keimanan menyemburat dalam hatinya setelah ia beriman
kepada agama ini dan bergabung dengan Nabi Muhammad dan para sahabat beliau di
barisan parade keimanan yang agung.

Ketika majikannya yang bermana Umayyah bin Khalaf mengetahui
hal itu, maka ia pun mulai mengambil langkah antara mengintimidasi dirinya dan
terkadang membujuknya. Namun Umayyah bin Khalaf tidak mendapati dari diri Bilal
melainkan keteguhan sikap dan pendirian serta tidak bersedia untuk kembali ke
belakang kepada kekafiran, kejahiliyahan, dan kesesatan. Maka, Umayyah bin
Khalaf pun terus melakukan berbagai bentuk intimidasi, teror, dan pengekangan
terhadap Bilal dan bertekad untuk menyiksanya dengan siksaan yang keras.

Umayyah bin Khalaf pun membawa Bilal ke tengah gurun dan
memanggangnya di bawah panasnya terik matahari siang hari setelah sebelumnya
tidak diberi makan dan minum selama sehari semalam. Lalu Umayyah bin Khalaf
menidurkan Bilal secara terlentang di atas pasir gurun yang panas terbakar.
Kemudian ia menyuruh para budaknya yang lain untuk mengambil sebongkah batu
besar, lalu meletakkannya di atas dada Bilal yang saat itu terikat kedua
tangannya dalam keadaan dipentang. Kemudian Umayyah bin Khalaf berkata kepada
Bilal, “Kamu akan tetap seperti ini hingga kamu mati atau hingga kamu mau kafir
terhadap Muhammad dan kembali menyembah al-Lata dan al-Uzza.” Lalu Bilal pun
menjawab dengan penuh ketabahan dan ketegaran, “Ahad, Ahad.”

Umayyah bin Khalaf selama beberapa waktu terus menyiksa
Bilal dengan siksaan yang sangat kejam dan biadab seperti itu. Kemudian Abu
Bakar ash-Shiddiq pun pergi ke lokasi penyiksaan dan melakukan negosiasi dengan
Umayyah bin Khalaf. Abu Bakar ash-Shiddiq berkata kepadanya, “Tidakkah kamu
bertakwa kepada Allah menyangkut si lemah yang tidak berdaya ini? Sampai
kapan!” Umayyah bin Khalaf berkata, “Anda lah yang telah merusak orang ini,
maka selamatkanlah ia dari apa yang kamu lihat ini.” Abu Bakar ash-Shiddiq pun
berkata, “Baiklah, aku setuju.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun membeli si budak
tersebut lalu memerdekakannya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq
membeli Bilal dengan harga tujuh uqiyyah atau empat puluh uqiyyah emas.

Sungguh luar biasa kesabaran, ketabahan dan ketegaran Bilal!
Ia adalah sosok seorang Muslim yang benar-benar tulus dan sungguh-sungguh
keislamannya dan berhati bersih. Dari itu, ia begitu tegar dan kukuh pendirian
tanpa sedikit pun mengendur di hadapan berbagai tantangan, teror, intimidasi,
dan siksaan. Kesabaran, ketabahan, dan ketegaran Bilal adalah salah satu hal
yang menjadikan kaum musyrikin Makkah semakin marah, jengkel, dan geram,
apalagi Bilal adalah satu-satunya orang Islam dari kelompok kaum lemah yang
tetap teguh dan persisten dalam memegang keislamannya tanpa sedikit pun tunduk
kepada apa yang diinginkan oleh kaum kafir, seraya terus mengucapkan kalimat
tauhid dengan lantang dan menantang. Ia tidak lagi mempedulikan dirinya dalam
memegang teguh keimanannya kepada Allah, dan dirinya pun dianggap tidak ada
harganya bagi kaumnya.

Setiap habis cobaan pasti ada anugerah dan kebahagiaan,
setiap habis gelap terbitlah terang. Maka, Bilal pun terbebas dari siksaan dan
penindasan, terbebas dari perbudakan, dan ia pun menghabiskan sisa hidupnya
bersama Rasulullah, senantiasa bersama-sama dengan beliau dan meninggal dunia
dalam keadaan ridha dan diridhai.

Abu Bakar ash-Shiddiq terus melanjutkan politik dan strategi
memerdekakan orang-orang Islam yang disiksa. Langkah ini akhirnya menjadi bagian
dari kebijakan yang diadopsi kepemimpinan Islam dalam memerangi penyiksaan yang
menimpa orang-orang lemah yang tertindas. Abu Bakar ash-Shiddiq pun menyokong
dakwah dengan harta dan sumber daya manusia. Maka, ia pun terus membeli
budak-budak mukmin, baik laki-laki maupun perempuan. Di antaranya adalah Amir
bin Fuhairah yang merupakan salah satu personel pada Perang Badar dan Uhud, ia
mati syahid pada perang Bi`r Ma’unah. Di antaranya lagi adalah, Ummu Ubais dan
Zinnirah. Setelah dimerdekakan, Zinnirah menderita sakit mata yang
menyebabkannya buta, lalu kaum kafir Quraisy berceletuk, “Matanya dibuat buta
oleh al-Lata dan al-Uzza.” Lalu Zinnirah menanggapi celetukan mereka itu,
”Mereka bohong, demi Allah, sungguh al-Lata dan al-Uzza sekali-kali tiada bisa mendatangkan
kemadharatan dan tidak pula kemanfaatan.” Lalu Allah pun menyembuhkan
penglihatan Zinnirah dan menjadikannya kembali normal.

Di antaranya lagi adalah an-Nahdiyyah dan putrinya.
Sebelumnya, mereka berdua adalah budak perempuan milik seorang perempuan dari
Bani Abd ad-Dar. Suatu ketika, Abu Bakar ash-Shiddiq berpapasan dengan mereka
berdua yang saat itu sedang disuruh oleh majikan mereka berdua untuk membawakan
tepung miliknya. Si majikan berkata kepada mereka berdua, “Aku bersumpah, sungguh
aku tidak akan memerdekakan kamu berdua.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berkata,
“Wahai Ummu Fulan, batalkanlah sumpahmu itu.” Lalu ia berkata, “Silahkan Anda
yang membatalkannya, karena Anda lah yang telah merusak mereka berdua, karena
itu, merdekakanlah mereka berdua.” Abu Bakar ash-Shiddiq pun berkata, “Berapa
harga keduanya?” Ia pun menjawab, “Sekian sekian.” Abu Bakar ash-Shiddiq
berkata, “Baiklah, aku beli mereka berdua dan mereka berdua merdeka.”
Kembalikanlah tepungnya kepadanya.” Mereka berdua berkata, “Bolehkah kami
menyelesaikannya terlebih dahulu, kemudian baru kami serahkan kepadanya?” Abu
Bakar ash-Shiddiq pun berkata, “Itu terserah kamu berdua.”

Di sini ada sebuah poin penting perlu direnungkan yang
memperlihatkan kepada kita bagaimana Islam menyamakan dan mensejajarkan antara
Abu Bakar ash-Shiddiq dan kedua budak perempuan itu, sehingga mereka berdua
bisa bicara kepada Abu Bakar ash-Shiddiq seperti berbicara dengan orang yang
sepadan, bukan seperti bicaranya bawahan kepada majikannya. Abu Bakar
ash-Shiddiq pun menerima hal itu dan sama sekali tidak mempermasalahkannya,
sementara kita tahu sendiri ia adalah sosok yang terhormat dan disegani baik
pada masa Jahiliyah maupun setelah Islam. Padahal Abu Bakar ash-Shiddiq adalah
orang yang telah sangat berjasa kepada mereka berdua karena telah memerdekakan
mereka berdua. Juga, memperlihatkan kepada kita bagaimana Islam mengasah kedua
budak perempuan itu, hingga mereka berdua memiliki akhlak yang mulia seperti
itu. Yaitu, setelah mereka berdua merdeka dan terbebas dari kezhaliman,
sebenarnya mereka berdua bisa saja membiarkan begitu saja tepung milik mantan
majikannya tersebut hilang dibawa angin atau dimakan binatang dan burung. Akan
tetapi, mereka berdua sebagai bentuk kemurahan hati, tidak mau melakukan hal
itu, tetapi lebih memilih untuk menyelesaikan semua tepung itu, baru setelah
itu mereka berdua serahkan kepada mantan majikannya.

Pada suatu ketika, Abu Bakar ash-Shiddiq lewat di dekat
seorang budak perempuan milik Bani Mu`ammal salah satu klan dari Bani ’Adi bin
Ka’ab. Budak perempuan itu adalah seorang Muslimah. Waktu itu, Umar bin Khattab
yang ketika itu masih musyrik, menyiksa dirinya dan memukulinya agar ia mau
meninggalkan Islam. Hingga ketika Umar sudah bosan dan jemu, maka ia pun berkata,
“Ketahuilah, bahwa aku tidak membiarkanmu melainkan karena aku sudah bosan
memukulimu.” Lalu si budak perempuan itu pun menjawab, “Demikianlah, Allah
berbuat terhadap kamu.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun membelinya, lalu
memerdekakannya.

Demikianlah, Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok pemberi
kebebasan dan pemerdeka budak-budak, seorang Syaikh Islam yang bersahaja yang
dikenal di tengah-tengah kaumnya sebagai orang yang gemar membantu orang yang
tidak berpunya, menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang-orang yang
tidak punya, memuliakan tamu, dan gemar membantu orang-orang yang sedang
kesulitan, tertimpa musibah, dan kesusahan. Ia adalah sosok yang familiar,
ramah, bersahabat, supel, dan disenangi. Hatinya penuh dengan kelembutan, belas
kasih, dan sayang kepada orang-orang lemah dan para budak. Ia tidak segan-segan
menginfakkan hartanya dalam jumlah yang cukup besar untuk membeli para budak,
lalu memerdekakannya karena Allah dan demi Allah, dan hal itu dilakukan sebelum
turunnya syariat-syariat Islam yang memotivasi dan memerintahkan untuk
memerdekakan budak dan menjanjikannya mendapatkan pahala yang besar.

Masyarakat Makkah mencibir dan menertawakan Abu Bakar
ash-Shiddiq yang mempergunakan hartanya untuk orang-orang lemah yang tertindas
tersebut. Adapun dalam pandangan Abu Bakar ash-Shiddiq, mereka adalah saudara
seagama dalam agama yang baru. Masing-masing dari mereka menurut Abu Bakar
ash-Shiddiq jauh lebih berharga dan tidak sebanding dengan seluruh kaum musyrik
dunia.

Dengan elemen-elemen tersebut dan yang lainnya, negara
tauhid didirikan dan peradaban Islam yang spektakuler dibentuk.

Abu Bakar ash-Shiddiq melakukan semua itu sama sekali tidak
memiliki maksud supaya mendapat pujian dan sanjungan, dan tidak pula kedudukan.
Akan tetapi, semua itu ia lakukan tidak lain dan tidak bukan benar-benar tulus
ikhlas hanya karena Allah semata. Pada suatu hari, ayahnya berkata kepadanya,
“Anakku, aku lihat kamu memerdekakan budak-budak yang lemah. Bukankah lebih
baik jika kamu memerdekakan budak-budak yang lemah. Bukankah lebih baik jika
kamu memerdekakan budak-budak yang kuat dan memiliki fisik yang kokoh yang bisa
menjaga, membela, dan melindungi dirimu?” Abu Bakar ash-Shiddiq pun menjawab,
“Ayah, sesungguhnya aku melakukan apa yang ananda ingin lakukan tidak lain dan
tidak bukan adalah karena dan demi Allah semata.”

Karena itu, tidak aneh jika Allah menurunkan wahyu yang akan
selalu dibaca hingga hari Kiamat menyangkut diri Abu Bakar ash-Shiddiq,

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)
dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami
kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang
bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak
Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat
baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi
petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kami lah akhirat dan dunia. Maka, Kami
memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke
dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan
berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan dari neraka itu orang yang
paling takwa, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,
padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat (jasa baik) kepadanya
yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari
keridhaan Tuhannya Yang Maha tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat
kepuasan.”
(QS. al-Lail: 5-21).

Abu Bakar ash-Shiddiq termasuk orang yang paling besar
sumbangsih dan kontribusinya dalam menginfakkan hartanya untuk apa yang
mendatangkan ridha Allah dan Rasul-Nya.

Semangat solidaritas, senasib, dan sepenanggungan di antara
individu-individu kaum muslimin generasi awal ini merupakan salah satu puncak
kebaikan dan semangat memberi. Dengan Islam, para budak tersebut berubah
menjadi para pemilik akidah, suara, pandangan, dan pemikiran yang dengannya
mereka mampu mendebat, berani membela, dan berjuang demi mempertahankan akidah,
pandangan, dan pemikiran tersebut.

Langkah Abu Bakar ash-Shiddiq yang begitu bersemangat
membeli mereka kemudian memerdekakan mereka sekali lagi menjadi bukti keagungan
agama ini dan seberapa dalam meresap ke dalam kejiwaan Abu Bakar ash-Shiddiq.
Kaum muslimin pada masa sekarang sangat membutuhkan untuk menghidupkan contoh,
keteladanan, nilai dan semangat yang luhur seperti ini serta sensibilitas yang
luhur supaya tercipta semangat persatuan, sense of belonging serta
semangat saling membantu, kerja sama dan tolong menolong di antara individu
umat yang menghadapi ancaman pembasmian dari para musuh akidah dan agama.

Hijrah Abu Bakar ash-Shiddiq yang Pertama serta Sikap dan
Tanggapan Ibnu ad-Daghinah Terhadapnya

Aisyah berkata, “Aku tidak mengetahui kedua orang tuaku
melainkan keduanya memeluk agama ini, dan tiada hari yang kami lalui melainkan
pasti Rasulullah mendatangi kami pada dua ujung siang, yaitu pada pagi hari dan
pada sore hari. Lalu ketika kaum muslimin mengalami cobaan, intimidasi, teror
dan penindasan, Abu Bakar ash-Shiddiq pergi berhijrah menuju ke tanah Habasyah.
Kemudian ketika sampai di Bar kal-Ghimad, Abu Bakar ash-Shiddiq bertemu dengan
Ibnu ad-Daghinah. Ia adalah pemimpin kabilah al-Qarah. Lalu Ibnu ad-Daghinah
berkata kepada Abu Bakar ash-Shiddiq, “Ke mana Anda hendak pergi wahai Abu
Bakar?” Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Kaumku telah mengusirku. Maka, aku
ingin mengembara di muka bumi dan menyembah Tuhanku.” Ibnu ad-Daghinah berkata,
“Sesungguhnya orang seperti Anda tidak sepatutnya pergi dan tidak pula diusir.
Karena Anda adalah orang yang senantiasa membantu orang yang tidak berpunya,
menyambung silaturahmi, menanggung hidup orang yang miskin, memuliakan tamu,
dan memberikan bantuan ketika terjadi musibah dan kesulitan. Aku memberikan
jaminan keamanan kepada Anda. Kembalilah pulang dan beribadahlah menyembah
Tuhanmu di negerimu.”

Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun kembali pulang ditemani oleh
Ibnu ad-Daghinah. Lalu pada sore hari, Ibnu ad-Daghinah berkeliling menemui
para pemuka dan tokoh Quraisy, lalu berkata kepada mereka, “Orang seperti Abu
Bakar tidak sepantasnya pergi meninggalkan negerinya dan tidak sepantasnya pula
diusir. Apakah kalian ingin mengusir seseorang yang selalu membantu orang yang
tidak berpunya, menyambung silaturahmi, menanggung hidup orang fakir,
memuliakan tamu, dan memberikan bantuan ketika terjadi musibah dan kesulitan?!”

Mereka pun menerima jaminan keamanan Ibnu ad-Daghinah kepada
Abu Bakar ash-Shiddiq. Mereka berkata kepada Ibnu ad-Daghinah, “Persilahkan Abu
Bakar beribadah kepada Tuhannya di dalam rumahnya. Ia boleh shalat dan membaca
apa saja yang diinginkan, namun dengan syarat hal itu ia lakukan di dalam
rumah, aktifitasnya itu tidak boleh sampai mengganggu kami dan ia tidak boleh
melakukannya secara terbuka. Karena kami khawatir ia akan mempengaruhi kaum
perempuan dan anak-anak kami.”

Lalu Ibnu ad-Daghinah pun menyampaikan hal itu kepada Abu
Bakar ash-Shiddiq. Maka, Abu Bakar ash-Shiddiq pun beribadah kepada Tuhannya di
dalam rumahnya. Ia tidak menampakkan shalatnya secara terbuka dan tidak membaca
al-Qur’an melainkan di dalam rumah. Kemudian seiring berjalannya waktu,
beberapa waktu setelah itu, Abu Bakar ash-Shiddiq memiliki sebuah pemikiran
untuk membangun tempat ibadah di halaman rumahnya. Lalu ia pun membangunnya dan
menggunakannya untuk aktivitas shalat dan membaca al-Qur’an. Ketika itu, kaum
perempuan musyrikin dan anak-anak mereka pun berdatangan ingin melihat
aktivitas Abu Bakar ash-Shiddiq, sedang mereka merasa penasaran dan tertarik
untuk melihatnya.

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang berhati lembut,
sensitif, mudah terharu, dan menangis. Ia tidak kuasa menahan air matanya
setiap kali membaca al-Qur’an. Hal itu pun membuat para pemuka dan tokoh
musyrikin Quraisy kaget. Mereka pun langsung mengirim utusan untuk memanggil
Ibnu ad-Daghinah. Ketika Ibnu ad-Daghinah datang, maka mereka pun berkata
kepadanya, “Sebelumnya kami menerima dan menyetujui suaka dan jaminan keamanan
yang Anda berikan kepada Abu Bakar dengan syarat ia melakukan ibadah kepada
Tuhannya di dalam rumah. Namun sekarang ia telah melanggarnya dengan membangun
masjid di halaman rumahnya, melakukan shalat dan bacaan di dalamnya secara
terbuka. Kami khawatir ia akan mempengaruhi kaum perempuan dan anak-anak kami.
Maka dari itu, tolong Anda larang dia. Jika ia bersedia untuk beribadah kepada
Tuhannya hanya di dalam rumahnya, maka silahkan. Namun jika ia menolak dan
tetap melakukannya secara terbuka dan mempublikasikannya, maka mintalah dirinya
untuk mengembalikan jaminan keamanan yang sebelumnya Anda berikan kepadanya.
Karena kami tidak ingin melanggar janji kami kepada Anda dan pada waktu yang
sama kami juga tidak terima atas tindakan Abu Bakar tersebut.”

Aisyah melanjutkan ceritanya, lalu Ibnu ad-Daghinah pun
datang menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan berkata kepadanya, “Anda telah
mengetahui syarat jaminan keamanan yang saya berikan kepada Anda. Dari itu,
Anda pilih antara mematuhi syarat tersebut atau Anda mengembalikan kepadaku
jaminan keamanan yang sebelumnya aku berikan kepada Anda. Karena aku tidak
ingin orang Arab mendengar perjanjian dan kesepakatanku dilanggar menyangkut
seseorang yang aku beri jaminan keamanan.” Abu Bakar ash-Shiddiq berkata,
“Baiklah, aku lebih memilih untuk mengembalikan kepada Anda jaminan keamanan
yang sebelumnya Anda berikan, dan aku lebih memilih jaminan keamanan dari
Allah.”

Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq telah lepas dari jaminan
keamanan Ibnu ad-Daghinah, pada suatu ketika ia bertemu dengan seorang Quraisy
yang tolol dan lancang, ketika sedang pergi menuju ke Ka’bah. Lalu al-Walid bin
al-Mughirah atau al-’Ash bin Wa`il lewat, lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berkata
kepadanya, “Lihatlah apa yang dilakukan oleh orang tolol dan lancang itu.”
Al-Walid bin al-Mughirah pun menjawab, “Salah Anda sendiri, Anda sendiri yang
menyebabkan diri Anda mengalami hal seperti itu.” Waktu itu, Abu Bakar
ash-Shiddiq terus mengulang-ulang perkataan, “Ya Rabbi, Engkau adalah Maha
Penyantun.”

Dalam kisah ini terdapat banyak pelajaran dan ibrah, yang di
antaranya adalah:

  • Sebelum Nabi Muhammad resmi diangkat sebagai Nabi dan Rasul, Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok yang sangat terhormat dan mulia di antara kaumnya. Lihatlah bagaimana Ibnu ad-Daghinah berkata kepadanya, “Wahai Abu Bakar, orang seperti Anda tidak sepatutnya pergi dan tidak sepatutnya pula diusir. Anda adalah orang yang gemar membantu orang yang tidak berpunya, menyambung silaturahmi, menanggung biaya hidup orang fakir, memuliakan tamu, dan memberikan bantuan dalam menghadapi bencana dan musibah.”

Abu Bakar ash-Shiddiq tidak masuk ke dalam
agama Allah karena didorong motif mencari kedudukan atau kekuasaan, tetapi
motifnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena rasa cinta kepada Allah dan
Rasul-Nya. Hal ini pada gilirannya membuat dirinya mengalami berbagai cobaan,
rintangan, dan gangguan. Yakni, Abu Bakar ash-Shiddiq tidak memiliki ambisi
selain keridhaan Allah, ia rela berpisah dengan keluarga, tanah kelahiran, dan
klan demi untuk beribadah kepada Tuhannya, karena di tanah kelahirannya ia
dihalang-halangi dari melaksanakan hal itu.

  • Bekal Abu Bakar ash-Shiddiq dalam dakwahnya
    adalah al-Qur’an. Dari itu, ia mendedikasikan dirinya untuk menghafal
    al-Qur’an, memahaminya, mendalaminya, menghayatinya, dan mengamalkannya.
    Perhatiannya kepada al-Qur’an memberinya keahlian dan kemahiran dalam
    menyampaikan dakwah, keindahan, dan kefasihan bahasa, kedalaman pemikiran,
    kemampuan menyampaikan tema dakwah secara rapi, runtut, dan runut menurut alur
    logika, memperhatikan keadaan para pendengar, serta kemampuan mengutarakan
    dalil, bukti, argumentasi, dan penalaran dengan kuat.

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok yang sangat sensitif,
mudah tersentuh dan terharu oleh al-Qur’an, sehingga ia sering menangis setiap
kali membaca al-Qur’an. Ini pada gilirannya menunjukkan keyakinannya yang tertanam
kokoh serta kuatnya kekhusyuan hatinya kepada Allah dan kuatnya penghayatan
hatinya terhadap makna-makna al-Qur’an yang dibaca. Tangisan muncul karena
kuatnya pengaruh, sensitifitas dan ketersentuhan baik oleh kesedihan yang
mendalam atau kebahagiaan yang meluap.

Seorang mukmin sejati senantiasa berada antara suasana
kebahagiaan oleh karena hidayah Allah kepada jalan yang lurus dan suasana takut
dan khawatir melenceng sedikit saja dari jalan yang lurus tersebut. Jika ia
adalah orang yang memiliki sensitifitas yang hidup dan pikiran yang tajam
seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu ketika al-Qur’an mengingatkan tentang
kehidupan akhirat berikut apa yang ada di dalamnya berupa hisab, hukuman dan
pahala, maka hal itu pada gilirannya akan menciptakan ekspresi kekhusyuan dan
linangan air mata. Pemandangan seperti itu tentu memiliki pengaruh dan kesan
yang besar terhadap orang yang menyaksikannya.

Dari itu, orang-orang musyrik merasa sangat gusar terhadap
penampilan Abu Bakar ash-Shiddiq yang berkesan tersebut dan mereka pun sangat
mengkhawatirkan kaum perempuan dan anak-anak mereka nantinya akan terpengaruh
olehnya sehingga menyebabkan mereka masuk Islam.

Abu Bakar ash-Shiddiq tumbuh dan terdidik di tangan
Rasulullah secara langsung, dalam lingkungan yang semarak penuh oleh
penghafalan al-Qur’an, penghayatan dan pengamalan terhadapnya. Abu Bakar
ash-Shiddiq senantiasa mempelajari, merenungkan, dan menghayati al-Qur’an. Abu
Bakar ash-Shiddiq tidak mau berbicara tanpa ilmu. Maka dari itu, ketika ia
ditanya tentang suatu ayat yang tidak ia ketahui dan pahami, maka ia menjawab,
“Bumi mana yang akan menjadi tempatku berpijak atau langit mana yang menjadi
atapku jika aku mengatakan tentang Kitabullah apa yang tidak sesuai dengan apa
yang diinginkan Allah.”

Di antara perkataan Abu Bakar ash-Shiddiq yang menunjukkan
bagaimana ia begitu dalam melakukan tadabbur, perenungan dan penghayatan
terhadap al-Qur’an adalah, “Sesungguhnya menyebutkan ahli surga, maka Allah
menyebutkan mereka dengan amal-amal baik mereka dan mengampuni amal-amal jelek
mereka. Di manakah posisiku dari mereka itu, aku takut jika aku tidak bisa
seperti mereka, sepertinya aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan mereka
itu dan sepertinya aku bukanlah bagian dari mereka.” Padahal Abu Bakar
ash-Shiddiq adalah pasti bagian dari ahli surga itu.

Abu Bakar ash-Shiddiq bertanya kepada Rasulullah tentang apa
yang masih janggal dan belum ia pahami, dengan penuh etika, sopan santun, dan
penuh penghormatan. Ketika turun ayat 123 surah an-Nisa`, “(Pahala dari Allah)
itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut
angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan
diberi pembalasan atas kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak
(pula) penolong baginya selain dari Allah,” Maka Abu Bakar ash-Shiddiq berkata,
“Sungguh telah datang malapetaka, siapakah di antara kami yang tidak pernah
melakukan perbuatan jelek?” Rasulullah berkata, “Wahai Abu Bakar, bukankah kamu
mengalami kepayahan? Bukankah kamu mengalami kesedihan? Bukankah kamu mengalami
kondisi sulit dan berat? Semua itu adalah bagian dari pembalasan terhadap
kalian atas amal jelek kalian.”

Abu Bakar ash-Shiddiq juga menafsiri sejumlah ayat, seperti
ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada
mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih;”
dan bergembiralah kalian dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilat:
30
).

Tentang ayat ini, Abu Bakar ash-Shiddiq menuturkan, maka
mereka tidak menoleh dari-Nya ke kanan dan ke kiri, maka hati mereka tidak
berpaling kepada selain-Nya, baik dalam hal mahabbah, rasa takut, pengharapan,
permohonan, dan tawakkal. Bahkan mereka tidak mencintai melainkan Allah dan
mereka tidak mencintai tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu di samping Allah.
Mereka tidak mencintai melainkan hanya Allah semata, bukan karena menginginkan
keuntungan dan tidak pula untuk menghalau kemudharatan. Mereka tidak takut kepada
selain Allah, apa pun itu, tidak memohon kepada selain Dia, dan hati mereka
tidak berhasrat kepada selain Dia.

Para juru dakwah haruslah senantiasa berserta al-Qur`an,
membacanya, mentadabburinya, menggali perbendaharaan-perbendaharaan pengetahuan
yang terkandung di dalamnya, mengungkap kemukjizatannya baik pada segi bahasa,
keilmuan, dan hukum perundang-undangan, memaparkan apa yang terkandung di dalam
al-Qur`an berupa langkah dan cara-cara menyelamatkan umat manusia yang tersiksa
dari berbagai tragedi, konflik, dan peperangan yang menimpanya. Semua itu
dilakukan dengan metode dan pendekatan yang sesuai dengan zaman dan sejalan
dengan kemajuan yang diraih manusia dalam berbagai sarana dan media dakwah,
publisitas dan propaganda. Abu Bakar ash-Shiddiq mampu menangkap dan memahami
bagaimana aktivitas membaca al-Qur`an di masjid di tengah komunitas orang-orang
Quraisy merupakan salah satu sarana atau media dakwah yang efektif.

Abu Bakar ash-Shiddiq di Antara Kabilah-kabilah Arab di
Pasar-pasar

Kita telah mengetahui bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq adalah
seorang master dalam bidang ilmu pernasaban. As-Suyuthi mengatakan, “Aku
melihat dengan tulisan al-Hafizh adz-Dzahabi tentang orang-orang yang menjadi
master pada masanya dalam bidangnya. Di antaranya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq
dalam bidang ilmu silsilah pernasaban.”

Dari itu, Abu Bakar ash-Shiddiq menggunakan ilmunya itu
sebagai salah satu media dakwah, supaya setiap orang yang memiliki suatu
keahlian mengetahui bagaimana sebenarnya ia bisa memanfaatkan dan mengeksploitasi
keahlian yang dimilikinya untuk kepentingan di jalan Allah, dengan keragaman
spesialisasi dan macam-macam pengetahuan, baik apakah ilmunya itu adalah ilmu
teori maupun praktik, atau sebagai orang yang memiliki suatu profesi penting
dalam kehidupan manusia.

Kita akan melihat Abu Bakar Ash-Shiddiq menyertai Rasulullah
ketika ia menampilkan diri di hadapan kabilah-kabilah Arab untuk menyampaikan
dakwah kepada mereka, bagaimana ia memberdayakan ilmu dan keahliannya untuk
berdakwah.

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah seorang orator ulung yang
memiliki kemampuan menyampaikan pikiran, gagasan, dan makna-makna dengan
untaian kata-kata yang paling baik dan fasih. Abu Bakar ash-Shiddiq sering
berpidato tentang Rasulullah baik ketika bersama beliau maupun tidak. Rasulullah
ketika pergi keluar pada musim haji, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq terlebih dahulu
tampil mengajak orang-orang untuk memperhatikan perkataannya.

Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq itu adalah
sebagai pembukaan dan introduksi atau kata pengantar untuk apa yang akan
disampaikan oleh Rasulullah, bukannya sikap lancang mendahului Allah dan
Rasul-Nya.

Keahlian dan ilmu Abu Bakar ash-Shiddiq dalam bidang nasab
dan asal-usul kabilah-kabilah sangat membantu dirinya dalam berinteraksi,
berkomunikasi, dan menjalin hubungan dengan mereka.

Diceritakan dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Ketika
Allah menginstruksikan kepada Nabi-Nya agar tampil terbuka di depan
kabilah-kabilah Arab, maka beliau pun pergi untuk menemui kabilah-kabilah Arab,
dan waktu itu aku ikut bersama beliau.”

Ali bin Abu Thalib kembali bercerita, “Kemudian kami
melanjutkan perjalanan menuju ke majelis lain yang dipenuhi nuansa tenang dan
berwibawa. Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq tampil maju ke depan, mengucapkan salam,
lalu berkata, “Siapakah Anda sekalian?” Mereka menjawab, “Kami dari Bani
Syaiban bin Tsa’labah.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq menoleh ke arah Rasulullah
dan berkata, “Sungguh wahai Rasulullah, mereka ini adalah orang-orang
terhormat. Di antara mereka terdapat Mafruq bin Amr, Hani` bin Qabishah,
al-Mutsanna bin Haritsah dan an-Nu’man bin Syarik.”

Di antara mereka, Mafruq bin Amr adalah orang yang paling
fasih bahasanya dan paling ganteng. Ia memiliki dua kuncir yang menjuntai
sampai dada. Waktu itu, Mafruq bin Amr duduk di bagian yang paling dekat dengan
Abu Bakar ash-Shiddiq.

Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Bagaimana jumlah
kalian?” Mafruq menjawab, “Kami berjumlah tidak lebih dari seribu, dan jumlah
seribu tidak akan bisa dikalahkan karena faktor jumlah, tetapi jika jumlah
seribu bisa dikalahkan, maka itu karena faktor lain bukan karena faktor
jumlah.”

Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Bagaimana kekuatan kalian?”
Mafruq menjawab, “Kondisi di mana kami paling garang dan marah adalah ketika
kami berhadapan dengan musuh, dan kondisi di mana kami menghadapi musuh dalam
bentuk paling keras adalah ketika kami marah. Sungguh kami lebih
memprioritaskan kuda daripada anak-anak dan memprioritaskan senjata daripada liqah
(mengawinkan binatang). Kemenangan adalah dari Allah, terkadang Dia memberi
kami kemenangan dan terkadang musuh kami yang diberi kemenangan.” Mafruq
bertanya kepada Rasulullah, “Apakah Anda adalah saudara Quraisy?” Abu Bakar
ash-Shiddiq berkata, “Jika memang telah sampai kepada kalian berita tentang
Rasul Allah, maka inilah beliau.”

Mafruq berkata, “Kepada apakah Anda mengajak kami wahai
saudara Quraisy?” Lalu Rasulullah berkata, “Aku mengajak kalian untuk bersaksi
bahwasanya aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Juga untuk ikut melindungiku,
mendukungku, dan menolongku. Karena orang Quraisy telah berani menentang Allah
dan mendustakan Rasul-Nya, lebih memilih yang bathil meninggalkan yang haq, dan
Allah-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Mafruq kembali berkata, “Kepada apa lagi Anda menyeru wahai
saudara Quraisy? Karena sungguh demi Allah aku belum pernah mendengar perkataan
yang lebih baik dari apa yang Anda sampaikan.” Lalu Rasulullah membacakan
kepadanya ayat,

“Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas
kamu oleh Tuhanmu yaitu, janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,
berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh
anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan
kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik
yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh
jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang
benar.” Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (al-An’am:
151
).

Lalu Mafruq berkata, “Sungguh demi Allah, Anda menyeru
kepada akhlak yang mulia dan amal-amal yang baik. Sungguh telah membuat-buat
kebohongan orang-orang yang mendustakan Anda dan menentang Anda.”

Kemudian Mafruq menyerahkan keputusannya kepada Hani` bin Qabishah
dan berkata, “Ini adalah Hani`, ia adalah tetua kami dan pemimpin agama kami.”
Lalu Hani` bin Qabishah pun berkata, “Kami telah mendengar perkataan Anda wahai
saudara Quraisy, dan saya memiliki pandangan untuk meninggalkan agama kami dan
mengikuti agama Anda. Namun lebih baik itu dilakukan di majelis pertemuan lain
yang Anda adakan untuk kami, sehingga di majelis itu semua orang bisa
mengutarakan pandangan dan melakukan pertimbangan. Sesungguhnya kekeliruan
adalah beserta sikap tergesa-gesa, dan kami tidak ingin membuat suatu
kesepakatan atas nama orang-orang yang ada di belakang kami. Akan tetapi, kami
akan pulang dulu, menimbang, mencermati, dan merenungkan.”

Kemudian nampaknya Mafruq ingin mempersilahkan al-Mutsanna
bin Haritsah untuk ikut bicara, maka ia pun berkata, “Ini adalah al-Mutsanna,
ia adalah tetua kami dan pemimpin perang kami.” Lalu al-Mutsanna -ia setelah
itu masuk Islam- berkata, “Kami telah mendengar apa yang Anda sampaikan wahai
saudara Quraisy. Jawaban saya adalah sama dengan jawaban Hani` bin Qabishah,
yaitu kami meninggalkan agama kami dan mengikuti agama Anda. Sesungguhnya kami
tinggal di antara dua shir (wilayah yang ada airnya), yaitu al-Yamamah dan
as-Samamah.” Lalu Rasulullah bertanya, “Apa dua shir itu?” al-Mutsanna berkata,
“Adapun salah satunya adalah dataran rendah daratan dan tanah Arab. Sedangkan
yang satunya lagi adalah tanah Persia dan sungai-sungai Kisra. Kami tinggal di
sana berdasarkan sebuah kesepakatan dengan Kisra bahwa kami tidak membuat-buat
hal baru dan kami tidak memberikan tempat kepada orang yang membuat-buat hal
baru. Barangkali apa yang Anda menyeru kami kepadanya itu adalah salah satu hal
yang tidak disukai oleh para raja. Adapun wilayah yang berdampingan dengan
negeri Arab, maka dosa penghuninya diampuni dan apologi atau alasannya
diterima. Adapun wilayah yang berada di samping negeri Persia, maka dosa
penghuninya tidak diampuni dan alasannya tidak diterima. Maka, jika Anda ingin
supaya kami menolong dan membantu Anda di wilayah yang berdampingan dengan negeri
Arab, maka kami akan melakukannya.”

Lalu Rasulullah bersabda, “Kalian telah memberikan jawaban
yang baik, karena kalian mengutarakan dengan jujur. Dan sesungguhnya agama
Allah tidak ditolong kecuali oleh orang yang meliputinya dari semua sisinya. Bagaimana
jika tidak terlalu lama lagi, Allah mewariskan kepada kalian tanah mereka,
tempat-tempat tinggal mereka dan kaum perempuan mereka, apakah kalian mau
bertasbih mensucikan Allah?” Lalu an-Nu`man bin Syarik berkata kepada beliau,
“Jika memang itu benar, maka kami bersedia melakukannya.”

Dalam cerita ini, terdapat banyak pelajaran, ibrah dan
faedah, yang di antaranya adalah:

  • Abu Bakar ash-Shiddiq senantiasa menyertai Rasulullah. Hal ini pada gilirannya menjadikan Abu Bakar ash-Shiddiq memahami Islam secara komprehensif. Allah menyiapkan Abu Bakar ash-Shiddiq untuk menjadi sahabat yang paling alim tentang agama-Nya. Abu Bakar ash-Shiddiq belajar langsung dari Rasulullah tentang hakikat Islam dan berguru kepada beliau dalam memahami makna dan nilai-nilai Islam. Maka, Abu Bakar ash-Shiddiq pun mampu memahami karakteristik dakwah dan ikut mengalami langsung fase-fase dakwah.

Dari perjalanan hidupnya yang senantiasa
menyertai Rasulullah, Abu Bakar ash-Shiddiq mendapatkan banyak faedah serta
mampu menyerap dan memahami manhaj Rabbani, sehingga dirinya bisa mengenal
Allah, mampu memahami karakteristik kehidupan, hakikat alam, rahasia eksistensi
makhluk, apa yang terjadi setelah kematian, konsepsi qadha` qadar, kisah setan
dengan Adam, hakikat perseteruan atau konflik antara yang haq dan yang bathil,
antara petunjuk dan kesesatan, dan antara keimanan dan kekafiran.

Juga, hal itu menjadikan dirinya begitu
senang serta memiliki hasrat dan antusiasme yang menggelora kepada ibadah
seperti qiyamul lail, dzikir, dan membaca al-Qur’an. Sehingga pada gilirannya
hal itu membentuk dirinya menjadi sosok yang memiliki akhlak yang luhur,
jiwanya menjadi bersih, dan ruhnya menjadi suci.

  • Abu Bakar ash-Shiddiq mendapatkan banyak faedah
    dari menyertai Rasulullah ketika beliau berdakwah mengajak kabilah-kabilah Arab
    kepada Islam. Maka, ia pun mengerti bahwa bantuan dan dukungan kepada dakwah
    beliau yang beliau minta dari para tokoh kabilah-kabilah tersebut adalah,
    mereka tidak terikat dengan perjanjian-perjanjian dengan negara atau kekuasaan
    yang perjanjian itu bertentangan dengan dakwah dan mereka tidak mampu
    melepaskan diri dari perjanjian tersebut. Itu karena jika mereka memberikan
    dukungan dan bantuan kepada dakwah, sementara kondisi yang ada seperti itu,
    maka hal itu akan membuat dakwah yang ada berpotensi menghadapi ancaman dari
    pihak kekuasaan atau negara yang bersangkutan tersebut yang melihat dakwah
    Islam mengandung ancaman terhadap kepentingan-kepentingannya.

Perlindungan dan dukungan yang disyaratkan
atau hanya parsial yang ditawarkan oleh Bani Syaiban tersebut tidak bisa
mewujudkan maksud dan tujuan yang diinginkan. Karena mereka tidak akan ikut
terjun dalam peperangan melawan Kisra seandainya ia ingin menangkap Rasulullah.
Mereka juga tidak akan ikut terjun dalam peperangan melawan Kisra seandainya ia
ingin menyerang Rasulullah dan para pengikut beliau. Oleh karena itu,
pembicaraan dan negosiasi tersebut gagal.

  • “Sesungguhnya agama Allah tidak akan bisa
    ditolong dan didukung kecuali oleh orang yang mampu melingkupinya dari segenap
    penjurunya,”
    ini adalah jawaban Rasulullah kepada al-Mutsanna bin Haritsah
    ketika ia menawarkan kepada beliau untuk melindungi di atas perairan Arab bukan
    perairan persia. Orang yang menyelami seluk beluk perpolitikan, maka ia akan
    melihat bagaimana Rasulullah memiliki pandangan dan visi yang jauh dan dalam
    yang tidak ada bandingannya.
  • Sikap Bani Syaibah tersebut merupakan tipikal
    sikap orang yang murah hati, beradab dan jantan, menghormati dan memuliakan
    Rasulullah, terus terang dan terbuka dalam mengutarakan pikiran dan isi hati,
    memberikan gambaran secara jelas dan definitif tentang tingkat kemampuan dan
    potensi melindungi yang mereka miliki. Mereka menjelaskan bahwa perkara dakwah
    tersebut merupakan salah satu hal yang dibenci oleh para raja.

Sepuluh tahun atau lebih setelah itu, Allah
mentakdirkan Bani Syaiban mengambil peran sebagai kelompok yang siap menghadapi
para raja setelah hati mereka bersinar dengan cahaya Islam. Al-Mutsanna bin
Al-Haritsah Asy-Syaibani yang merupakan pimpinan perang dan pahlawan Bani
Syaiban, adalah sosok pemberani yang menjadi bagian dari para panglima perang
dalam gerakan futuhat pada masa kekhilafahan Abu Bakar ash-Shiddiq. Al-Mutsanna
bin Al-Haritsah dan kaumnya setelah keislaman mereka, termasuk orang-orang
Islam yang paling berani dalam berperang melawan Persia.

Padahal ketika masih dalam kejahiliyahan,
mereka sangat takut kepada Persia dan tidak pernah berpikir untuk melancarkan
perang terhadap Persia. Bahkan sebelumnya mereka menolak dakwah Rasulullah meskipun
mereka telah tertarik kepada dakwah tersebut, karena ada kemungkinan dakwah
tersebut berpotensi meletakkan mereka pada posisi dilematis yang mengharuskan
mereka untuk berperang melawan Persia, sesuatu yang sebelumnya mereka tidak
pernah berpikir sedikit pun untuk melakukannya.

Dengan semua itu, kita bisa mengetahui keagungan agama ini yang dengannya Allah mengangkat kaum muslimin di dunia dengan menjadikan mereka para penguasa bumi, di samping apa yang mereka tunggu-tunggu di akhirat berupa kesenangan dan kenikmatan abadi di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan dan kesenangan.

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Perlu bantuan? Chat disini aja!