Keuangan Syariah | Lampu Islam

Keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq, Dakwahnya, Ujian yang Dialaminya dan Hijrahnya yang Pertama – Lampu Islam

Keuangan
Syariah Solusi Ekonomi Umat

Secara jujur harus kita akui bahwa sistem ekonomi ribawi
yang ditandai dengan sistem bunga pada perbankan konvensional, ternyata tidak
mampu meningkatkan perekonomian rakyat banyak, baik dalam skala makro maupun
mikro. Bahkan sebaliknya, yang terjadi justru makin terburuk waktu ke waktu,
dengan beberapa indikator ekonomi yang sangat nyata. Seperti pengangguran yang
terus bertambah, nilai uang rupiah yang semakin menurun, kemiskinan yang semakin
memprihatinkan, dll.

Apa yang kita lihat dan di rasakan dalam perekonomian kita
saat ini merupakan bukti-bukti konkret tentang kegagalan sistem ekonomi ribawi
dan praktek bunga dalam perbankan kita, utang pemerintah maupun swasta ke luar
negeri semakin bertambah besar. Bahkan kian tak terkendali karena bunga, dan
terus bunga-berbunga. Sementara anggaran pembangunan untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat secara nyata, justru sangatlah kecil! Ini berarti,
keringat dan darah rakyat diperas hanya untuk kesejahteraan kaum kapitalis yang
memusuhi Islam, sungguh sangat ironis dan tragis.

Demikian pula dalam ekonomi rakyat. Betapa banyak usaha
masyarakat yang menjadi bangkrut karena rongrongan keharusan membayar bunga
atas pinjaman modal yang diperoleh dari perbankan non-syariah. Belum lagi usaha
bisa maju, kewajiban membayar bunga sudah menunggu. Sehingga alih-alih usaha
akan dapat berkembang, malah bunga pinjaman yang tidak terbayar, justru akan
baik berlipat-lipat, bunga-berbunga, demikian seterusnya. Sehingga pada
akhirnya usaha menjadi bangkrut tanpa dapat bernafas, modal amblas, bahkan aset
yang dijaminkan pun dirampas! Sungguh sangat naas.

Mari kita semua meninggalkan praktek riba dan bunga yang
dilarang agama, yang diterapkan di bank-bank dengan sistem ribawi, agar kita
semua mendapat rahmah dan berkah dari Allah SWT.

“Apabila riba dan perzinaan telah muncul di suatu daerah,
berarti mereka telah menghalalkan bagi dirinya adzab dan siksa (dari Allah).”
(HR. al-Hakim dan al-Baihaqi)

Mari kita sadari, boleh jadi berbagai musibah dan bencana
alam maupun sosial seperti tawuran, kriminalitas, yang terjadi dan menimpa kita
semakin mencemaskan, merupakan peringatan atau bahkan siksa dari Allah SWT.
Karena banyak dari kita yang masih saja melanggar larangan Allah SWT yang
sangat tegas ini.

Maka, agar terhindar dari nestaoa yang lebih berat lagi di
kemudian hari, sebagaimana dimaksud dalam hadist tersebut di atas, juga agar
selamat dari siksa neraka di hari akhir yang abadi nanti, mari kita bertaubat
dengan meninggalkan semua praktek ribawi yang mungkin telah dilakoni selama
ini. Dan mari pula kita bermunajat, semoga Allah SWT mengampuni dosa kita,
memaafkan kesalahan kita, dan memberkati hidup kita, dunia akhirat. Aamiin ya
Allah.

Ekonomi Syariah itu khususnya, sebagai solusi kehidupan
kita, telah terbukti dalam aplikasi sejarah da’wah Islamiyah di masa-masa
silam, karena memiliki beberapa kaidah dan tujuan, antara lain sebagai berikut:

Untuk membentuk dan meningkatkan ekonomi masyarakat secara
nyata, dengan melarang atau mengharamkan riba, dalam kerangka norma dan moral
agama yang shahih, dengan selalu menjaga kedekatan dan dzikir kepada Allah SWT
(QS. al-Jum’ah: 10).

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di
muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya
kamu beruntung.” (QS. al-Jum’ah: 10)

Kehidupan ekonomi itu harus dijalani dengan cara yang halal,
tapi tidak lantas menghalalkan segala cara, seperti yang banyak terjadi dalam
sistem ekonomi kapitalistik yang menerapkan sistem ribawi, dan dilakukan oleh
orang kafir, atau juga kaum sekularis yang mengaku beragama (Islam sekalipun).
Sebab kalau tidak halal, berarti mengikuti jejak langkah setan yang dilaknat:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari
apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan;
karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah:
168)

Praktek serta aktivitas kehidupan yang halal pada hakikatnya
adalah untuk kemaslahatan universal yang dibutuhkan oleh semua umat manusia!

Ekonomi syariah mengajarkan sekaligus membentuk tegaknya
nilai-nilai keadilan, kejujuran, transparansi, anti korupsi, dan eksploitasi.
Artinya misi utama ekonomi syariah adalah tegaknya nilai-nilai akhlak, moral
dalam aktivitas bisnis, baik individu, perusahaan ataupun negara. Dengan
demikian, akan dapat terbentuk kehidupan masyarakat yang harmonis, dengan
tatanan sosial yang berlandaskan keadilan dan kemanusiaan yang universal. Tak
ada diskriminasi antara muslim dengan non-Muslim dalam aspek muamalah dan
interaksi sosial

Salah satu pemimpin Islam yang sangat tersohor adalah
khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. Dalam masa pemerintahannya yang sangat
singkat, kurang dari tiga tahun, pemerintah daulah (negara) Islam mencapai masa
keemasan. Rakyatnya hidup dengan tenteram, damai dan berkecukupan, sehingga
mereka tidak layak dan tidak mau lagi menerima zakat.

Hal itu dapat terjadi dan terbentuk berkat sistem
pemerintahannya yang bersih, adil dan bijaksana, mengaplikasikan ekonomi syariah
yang berlandaskan iman dan taqwa secara konsisten dan penuh komitmen. Keadilan
dari prinsip ekonomi syariah bukan hanya sebagai “lip service” yang diucapkan
secara indah dalam pidato, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari secara nyata, sehingga akan tercipta negeri yang gemah ripah loh
jinawi), di mana Tuhan mengampuni dosa-dosa para penduduknya.

Krisis
sebagai Dampak Abaikan Syariah

Sebagai bangsa Indonesia, kita pernah diuji oleh Allah
dengan berbagai krisis. Krisis yang paling besar dampaknya bagi kita sebagai
bangsa adalah krisis politik dan ekonomi. Dua macam krisis ini sering menjadi
saudara kembar. Kemunculan salah satunya seringkali dibarengi yang lain. Dua
krisis ini pula yang secara eksplisit disebut dalam beberapa ayat al-Qur’an
sebagai ujian bagi manusia. Allah SWT berfirman dalam al-Baqarah: 155 yang
artinya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan
sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 155)

Krisis politik biasanya menghadirkan rasa takut. Kita
kehilangan rasa aman. Kekacauan sosial dan kerusuhan meluas di mana-mana.
Begitu pula, krisis ekonomi biasanya menyebabkan meluasnya kemiskinan.
Akibatnya, masyarakat tidak dapat memenuhi standar kehidupan dasarnya secara
layak. Banyak orang mengalami kebangkrutan dan kelaparan. Di tengah situasi
seperti itu, tidak ada solusi kejiwaan yang paling ampuh kecuali kesabaran.
Untuk itulah, Allah SWT memberi kabar gembira berupa kesuksesan jangka panjang
bagi orang-orang yang mampu mempertahankan kesabaran.

Ada banyak sekali sebab terjadinya krisis. Dua sebab
utamanya adalah tindak kejahatan yang dilakukan manusia secara sengaja dan
kesalahan-kesalahan yang dilakukannya karena ketidaktahuan. Manusia memang
unik. Selain berpotensi menjadi pelaku kebaikan, manusia sering juga secara
sengaja melakukan kejahatan dalam meraih kekayaan dan kekuasaan. Banyak teori
yang menjelaskan bahwa krisis ekonomi dan politik Indonesia tahun 1998 adalah
akibat kejahatan ekonomi para pengusaha hitam dan para penguasa serakah.
Terhadap kejahatan mereka, kita diminta selalu waspada. Bukan malah sebaliknya,
kita biarkan dan bahkan mengikuti jejak mereka. Kita diingatkan Allah SWT
melalui surah al-Anfal: 25 yang artinya:

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus
menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah
amat keras siksaan-Nya.” (QS. al-Anfal: 25)

Di tengah-tengah kejahatan yang merajalela, kita sering
tergoda untuk berlaku jahat. Dalam politik, ketika perilaku politik uang sudah
lumrah dilakukan, kita menganggapnya sebagai kewajaran. Dalam ekonomi, ketika
kolusi sudah lumrah terjadi, kita merasa rugi jika tidak berpartisipasi. Dalam
kondisi ini, kita sebenarnya sedang menggali kubur bagi masa depan kita
sendiri.

Penyebab kedua dari terjadinya krisis adalah
kesalahan-kesalahan yang diakibatkan oleh kebodohan dan ketidaktahuan. Banyak
hal yang bermanfaat malah mendatangkan bahaya bagi yang tidak berpengalaman dan
berpengetahuan. Sebagai contoh kecil: sebuah pisau multifungsi bisa sangat
berbahaya bagi seorang anak-anak usia dini. Pada awalnya, pisau itu bisa
melukainya tanpa ia sengaja. Namun demikian, seiring dengan bertambahnya usia
dan pengetahuan, pisau itu dapat membantunya menyelesaikan banyak persoalan.
Begitulah kiasan yang berlaku pula dalam kehidupan sosial manusia. Banyak
sistem politik dan ekonomi yang pernah dipikirkan dan diujicobakan oleh
manusia. Sebagiannya memberikan manfaat, sekalipun sebagian yang lain
menyengsarakan. Demikianlah, kenyataan itu membuat kita lebih memahami
pelajaran yang terkandung dalam al-Qur’an:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian
dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. ar-Rum: 41)

Kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan sistem politik
dan ekonomi yang pernah dianut manusia dalam sejarah. Kita bisa belajar dari
bahaya dan kerusakan akibat kesalahan sistem komunisme dan kapitalisme agar
kita berbuat lebih baik dari keduanya.

Terdapat dua sikap yang benar dalam menghadapi krisis.
Terhadap krisis yang diakibatkan oleh kesalahan akibat ketidaktahuan, kita
harus bersedia belajar memperbaiki kesalahan. Kita harus bersikap terbuka dan
selalu menemukan kreasi dan inovasi untuk mendapatkan solusi. Dalam bahasa
agama Islam, inilah yang disebut dengan istighfar: menyesali kesalahan yang
telah terjadi dan menutupinya dengan amalan yang baik untuk menghapus kesalahan
tersebut. Inilah pelajaran yang dapat kita petik dari al-Qur’an surah
ali-‘Imran: 135 yang artinya:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan
keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari
pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka
mengetahui.” (QS. Ali-Imran: 135)

Bila kita pernah menderita akibat kesalahan yang pernah kita
perbuat, kita berjanji tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Namun
demikian, kita juga tidak bisa berhenti dan berdiam diri. Kita harus segera
bersemangat untuk berkreasi dan berinovasi kebaikan pada masa kini untuk
menciptakan masa depan yang lebih menjanjikan.

Adapun terhadap krisis yang diakibatkan oleh kejahatan
manusia, kita harus sabar. Artinya, kita harus menerimanya dengan rendah hati
bahwa itulah rencana Allah SWT untuk menguji kita dalam hidup ini. Sebagai
orang yang beriman, kita diuji apakah kita tetap bertahan dalam ketaatan kepada
Allah atau sebaliknya kita ikut-ikutan dalam arus kejahatan yang sedang
terjadi. Inilah pelajaran yang dapat kita petik dari peringatan Allah SWT
melalui surah al-Baqarah: 155-156 yang artinya:

“155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan
sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. (yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inna lillaahi wa
innaa ilaihi raaji’uun.” (QS. al-Baqarah: 155-156)

Di dalam kondisi yang sulit dan susah tersebut, kita harus
memiliki kesadaran bahwa pada hakikatnya hidup ini adalah ujian dari Allah SWT,
agar dapat diketahui siapakah yang lulus dan yang gagal. Yang lulus akan
bertahan dalam ketaatan kepada Allah SWT, dan yang gagal akan berpaling dari
jalan Allah SWT.

Sabar dalam ketaatan maknanya adalah kita selalu berusaha
menyesuaikan dengan syariat atau tuntunan Allah sebagaimana diajarkan oleh Nabi
Muhammad SAW. Syariat itulah yang harus menjadi pedoman hidup kita dalam segala
aspek kehidupan: akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak. Itulah perintah Allah
SWT sebagaimana yang ditegaskan kepada Nabi Muhammad SAW dalam surah
al-Jatsiyah ayat 18 yang artinya:

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat
(peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah
kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. al-Jatsiyah: 18)

Para ulama mendefinisikan syariat sebagai berikut:

“Hukum-hukum yang disyariatkan Allah untuk hamba-hamba-Nya
yang dibawa oleh seorang Nabi, baik yang berkaitan dengan cara mengerjakan
amal, yang dinamai far’iyyah amaliyyah, yang untuknya disusun ilmu fiqih;
maupun yang berkaitan dengan keyakinan, yang dinamai ashliyyah wa i’tiqadiyyah,
yang untuknya disusun ilmu kalam. Dan syara’ itu dinamai pula dengan din dan
millah.”

Ketentuan-ketentuan inilah yang menuntun umat Islam
sepanjang sejarah, sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga sekarang ini. Ketentuan
itu pulalah yang pernah mengantarkan umat Islam kepada kejayaan peradaban
sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Kenyataan ini tidak hanya diakui oleh
umat Islam sendiri, tetapi juga diakui oleh para ilmuan non-Muslim di
negara-negara Barat, semisal Edward Lambert dan Rene David, keduanya guru besar
Fakultas Hukum Universitas Paris, pernah menyatakan bahwa syariat Islam
merupakan salah satu bentuk undang-undang yang termaju di dunia di antara
undang-undang yang pernah mereka pelajari. Demikian juga menurut ahli hukum
Italia yang ternama: D. De Santilana.

Marilah kembali kepada syariat Islam dalam menyelesaikan
segala persoalan. Jangan sampai kita meninggalkan apa yang telah
ditetapkan-Nya, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Mujadilah ayat 5
yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka
telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata.
Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan.” (QS. al-Mujadilah: 5)

Itulah bukti kesabaran kita dalam ketaatan kepada Allah SWT
dalam segala bidang: ekonomi, politik, dll. Semoga Allah memberikan kekuatan
dan pertolongan-Nya kepada kita semua agar kita mampu selalu berada dalam
tuntunan syariat-Nya. Aamiin.

Mengapa
Harus Keuangan Syariah?

Bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
bersyukurlah kepada-Nya yang telah menunjukkan kita kepada agama Islam serta
memberi anugerah yang melimpah.

Islam datang sebagai agama yang sempurna dengan aturan yang
lengkap untuk memperbaiki negara dan manusia, dalam mengatur segala urusan
dunia dan akhirat. Islam sangat peduli terhadap upaya pelurusan akidah dan
akhlak, serta perbaikan akhlak dan muamalah. Salah satu hal penting dalam
bermuamalah adalah bertransaksi bisnis karena menyangkut hubungan timbal-balik
dalam masalah harta benda.

Ikhwatal Islam! Agama Islam membangun aturan bisnis
berlandaskan iman dan berazaskan akidah. Allah SWT menghalalkan manusia
melakukan transaksi jual beli dan berdagang agar urusan mereka di dunia ini
menjadi teratur, sesuai dengan ketentuan, kebijaksanaan, dan kasih sayanag-Nya.
Hal ini dalam rangka menjaga prinsip-prinsip keimanan, norma-norma akhlak, dan
kaidah-kaidah muamalah yang syar’i, menghindari kesewenang-wenangan,
penindasan, perampasan hak orang lain, dan memakan harta secara haram. Seluruh
harta yang ada sesungguhnya adalah milik Allah SWT yang diamanahkan kepada umat
manusia untuk melihat apa yang mereka perbuat. Allah SWT juga memberi beragam
rezeki sebagai ujian dan cobaan untuk mengukur ketaqwaan manusia kepada Allah
SWT.

Sistem keuangan syariah dipandang sebagai sistem yang paling
ideal di antara sistem keuangan kapitalis dan sosialis. Hal ini karena sistem
tersebut dilandasi oleh iman, kaidah, dan norma yang selaras dengan tujuan
Islam sebagai rahmatan lil alamin, antara lain wataknya sangat manusiawi dan
bersahabat, orientasinya agamis dan syar’i, pandangannya realitas dan positif.
Islam tidak memberikan jalan kepada individu untuk memperkaya diri, berjudi,
berspekulasi, dan merugikan orang lain.

Salah satu ciri khas dan keistimewaan sistem keuangan
syariah adalah diharamkannya riba karena memiliki banyak dampak negatif dan
dapat merugikan kehidupan individu maupun masyarakat. Riba adalah salah satu
dosa besar sebagaimana firman Allah SWT dalam surah an-Nisa ayat 161 yang
artinya:

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan
atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi
mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan
disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah melarang
daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil.
Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa
yang pedih.” (QS. an-Nisa’: 161)

Dan ditugaskan dalam hadist Nabi Muhammad SAW sebagaimana
diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu
yang artinya:

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, Beliau bersabda:
“Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!”, para sahabat bertanya: “Wahai
Rasulullah, apa tujuh hal yang membinasakan itu?”, Beliau menjawab:
“Menyekutukan Allah (syirik kepada Allah), sihir, membunuh jiwa yang telah
diharamkan oleh Allah kecuali tanpa hak, memakan riba, memakan harta anak
yatim, lari dari medan peperangan, menuduh wanita mukminah yang menjaga
kehormatan diri dengan tuduhan berbuat zina.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu
Dawud, an-Nasa’ie, al-Baihaqi, al-Baghawie, Ibnu Hibban, Ibnu Awanah dan
at-Thahawie)

Sistem Keuangan Syariah menawarkan solusi karena melarang
adanya transaksi yang bersifat Maisir, Gharar, dan Riba. Tidak sedikit
masyarakat umum bahkan kalangan intelektual terdidik masih menganggap bahwa
keuangan syariah sama saja dengan keuangan konvensional. Mereka juga
beranggapan bagi hasil dan margin keuntungan, sama saja dengan bunga, bahkan
mengklaim bahwa bagi hasil dan margin hanyalah nama lain dari sistem bunga.

Karakteristik mendasar dari sistem keuangan syariah, yaitu yang
pertama Harta yang dimiliki oleh manusia dipandang sebagai titipan atau
amanah Allah SWT sehingga cara memperoleh, mengelola, dan memanfaatkannya harus
sesuai prinsip syariah. Kedua, mendorong pengelolaan harta (simpanan)
sesuai prinsip syariah. Ketiga, menempatkan sikap akhlaqul karimah
sebagai dasar pengelolaan dan hubungan antara para pelaku. Keempat,
adanya kesamaan ikatan emosional yang kuat didasarkan prinsip keadilan, prinsip
kesederajatan dan prinsip ketentraman antara pemilik, pengelola, dan pengguna
dana. Kelima, penentuan besarnya risiko bagi hasil dibuat pada waktu
akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung dan rugi.

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan anugerah-Nya dan
senantiasa membimbing langkah-langkah kita ke arah yang benar, menjadikan upaya
yang kita lakukan dapat bermanfaat, dan mencukupi kebutuhan kita dengan rezeki
yang halal. Sesungguhnya Dia-lah tempat meminta yang paling baik dan tempat
menaruh harapan yang paling pemurah.

Jual-Beli
dalam Islam

Islam adalah agama yang mengajarkan tidak hanya bagaimana
kita bisa beribadah, tetapi juga mengatur tentang hal-hal yang non-ibadah
ritual, termasuk di dalamnya adalah transaksi muamalah (misalnya jual beli).

Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam harus mengetahui
hal-hal penting sehingga jual beli tersebut menjadi sah dalam pandangan Islam.
Itulah yang akan kita bahas dalam waktu yang pendek ini.

Jual-beli menurut bahasa artinya menukar sesuatu dengan
sesuatu, sedang menurut syara’, artinya menukar harta dengan harta menurut
cara-cara tertentu (aqad).

Landasan Hukum Jual Beli

Jual beli disyariatkan berdasarkan al-Qur’an, Sunnah, dan
Ijma’.

  • Berdasarkan al-Qur’an di antaranya:

“…Allah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba”. (QS. al-Baqarah: 275)

“Dan janganlah kamu berikan hartamu itu
kepada orang yang bodoh dan harta itu dijadikan Allah untukmu sebagai pokok
penghidupan…” (QS. an-Nisa: 5)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan
jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan
janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu.” (QS. an-Nisa’: 29)

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Dari Rifa’ah bin Rafi’ ra.: bahwasanya
Nabi SAW ditanya: “pencarian apakah yang paling baik?” Beliau menjawab: “Ialah
orang yang bekerja dengan tangannya dan tiap-tiap jual beli yang bersih.” (HR.
al-Bazzar dan disahkan Hakim)

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya jual beli itu hanya sah jika
suka sama suka (saling meridhai).” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)

Ulama telah sepakat bahwa manusia adalah
makhluk sosial yang membutuhkan orang lain baik dalam bentuk barang dan jasa.
Oleh karena itu, barang dan jasa yang diperjual belikan haruslah halal.

Membicarakan jual-beli tidak akan sempurna
bilamana tidak dikaitkan dengan riba, sebagai lawan dari jual-beli, sebagaimana
firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 275 tersebut. Mengapa Allah SWT
membahas jual beli sekaligus riba dalam ayat tersebut, karena banyak orang
menyamakan jual-beli dengan riba. Padahal sebenarnya keduanya sama sekali
berbeda.

Jual-beli adalah suatu kegiatan ekonomi
yang memiliki underlying transaction/dasar transaksi pemindahan barang dengan
cara pembelian. Sementara itu riba adalah tambahan dari pokok dana pinjaman
yang diperjanjikan di awal.

Rukun jual beli dalam Islam adalah adanya
penjual, pembeli, harga, barang, dan niat. Rukun-rukun tersebut harus ada jika
kita ingin bertransaksi jual beli. Untuk yang terakhir tentang niat ini, niat
tidak perlu diucapkan, karena memang akan menjadi tidak maslahah apabila di
hypermarket pembeli selalu mengutarakan niat untuk setiap pembelian barang di
kasir. Allah SWT menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Sehingga ketika
empat rukun yang lain secara lahiriah telah dilaksanakan, maka niat tentu saja
mengikuti. Misalnya, ketika pembeli membawa barang yang akan dibeli di dalam
troli, maka secara otomatis pembeli sudah punya niat untuk membeli (tanpa
diutarakan secara lisan). Buat apa pembeli membawa barang tersebut dalam troli
kalau memang tidak ingin dibeli. Itulah jual beli. Inilah yang dihalalkan oleh
Allah SWT. Sedangkan yang diharamkan adalah riba. Tidak hanya agama Islam saja
yang melarang riba.

Riba tidak hanya lahir dalam masa Islam,
tetapi sudah ada sejak zaman sebelum Islam. Semua agama Samawi mengharamkan
riba karena memang tidak ada kemaslahatan sedikitpun dalam kehidupan
bermasyarakat. Allah SWT berfirman yang artinya:

“160. Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan
makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena
mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. 161. Dan disebabkan
mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya,
dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah
menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang
pedih.” (QS. an-Nisa’: 160-161)

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba
tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan
lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan
riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus
berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu
(sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang
kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah: 275)

Dengan menghindari riba, Insya Allah bisnis
kita akan diridhai oleh Allah SWT. Semoga Allah SWT selalu menguatkan iman kita
untuk selalu menjalankan transaksi bisnis dan keuangan syariah dengan baik.

Ijarah dalam Islam

Definisi Ijarah

Salah satu kegiatan muamalah yang paling
sering dilakukan umat selain jual-beli adalah transaksi sewa-menyewa, atau
ijarah. Ijarah, secara bahasa berasal dari kata al-ajru, yang bermakna upah
atau ganti. Sedangkan secara definitif, inti dari definisi yang dibuat oleh
banyak ulama menyatakan bahwa yang dimaksud ijarah adalah transaksi terhadap
suatu manfaat, muba, dan dengan imbalan tertentu. DSN-MUI sendiri memaknai
ijarah sebagai akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa
dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau upah, tanpa diikuti dengan
pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.

Pada dasarnya, ijarah dilakukan dengan
tujuan-tujuan yang mulia: mengedepankan prinsip ta’awun (tolong menolong dalam
kebaikan), serta menghindari ikhtinaz (menahan uang dan membiarkannya
menganggur, tidak diputar untuk transaksi yang bermanfaat). Di sinilah tampak
sisi ibadahnya. Tidak heran jika bahkan al-Qur’an sendiri yang mengarahkan
pedoman ijarah ini, seperti yang tersebut dalam surah al-Baqarah ayat 233 yang
artinya:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya
selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan
kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.
Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah
seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena
anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih
(sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak
ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain,
maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang
patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Baqarah: 233)

Dengan begitu, kita jadi tahu perbedaan
mendasar antara jual-beli dengan ijarah. Pertama, obyek jual-beli adalah barang
nyata, konkret, sedangkan dalam ijarah obyeknya hanya jasa atau manfaat dari
barang saja. Kedua, dalam jual-beli tidak terdapat batasan waktu pemanfaatan
atau kepemilikan, sedangkan dalam ijarah ada batas waktu kepemilikan dan
pemanfaatan suatu barang. Kita beli mobil, mobil kita miliki dan kita pakai
tanpa batas waktu, Kita menyewa mobil, mobil itu hanya bisa kita manfaatkan
dalam batas waktu tertentu saja.

Kelebihan ijarah adalah mempunyai scoup
yang lebih luas ketimbang jual-beli, karena asas manfaat yang menjadi dasar
transaksi. Sebaliknya, ijarah terhalang untuk digunakan pada barang yang
manfaatnya habis saat digunakan. Kita tentu tidak bisa menyewakan makanan untuk
dimakan, karena secara otomatis dengan dimanfaatkan, barangnya juga ikut habis,
tapi kita bisa membelinya.

Landasan Ijarah

Rasulullah SAW telah memberikan kita
gambaran mengenai ijarah yang benar, ijarah yang mengutamakan prinsip ta’awun,
bukan sekadar sewa-menyewa. Banyak hadist yang menunjukkan bagaimana Rasulullah
SAW melakukan ijarah, dengan memperbaiki tata cara ijarah yang dilakukan umat
sebelum diutusnya beliau menjadi rasul.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW
menekankan pentingnya balance, baik dari sisi waktu maupun kualitas dan
kuantitas penyewaan, baik itu barang maupun jasa. Seperti hadist yang
diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra yang artinya:

“Hadist dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari
Ibnu Abbas ra. dia berkata bahwa Nabi SAW pernah mengupah seorang tukang bekam
kemudian membayar upahnya”. (HR. Bukhari)

Soal upah sewa, bahkan Rasulullah SAW
sangat menekankan pentingnya on-time dan on-site, demi menghindari
perselisihan, seperti sabda beliau SAW dalam hadist riwayat ‘Abdullah bin ‘Umar
yang artinya:

“Berikan kepada seorang pekerja upahnya
sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah, shahih).

Peran LKS

Saat ini, kita dihadapkan pada realita
dunia yang merujuk pada sistem non-syariah, termasuk di dalamnya sistem sewa
yang kembali mengadopsi gaya jahiliyyah dalam beberapa aspeknya. Beruntunglah
belakangan muncul kembali embrio kesadaran untuk kembali kepada cara yang
ditunjukkan oleh Rasulullah SAW. Mekarnya kesadaran ini ditunjukkan dengan
semakin menjamurnya institusi berbasis syariah di seluruh Indonesia, juga
inisiasi aturan baku muamalah yang digagas dan terus-menerus disempurnakan oleh
lembaga yang berkepentingan seperti BI, OJK, maupun MUI dengan DSN-nya.

Hal ini sangat menguntungkan kita, orang
yang masih awam dengan keilmuan syariah. Jika kita selama ini kesulitan untuk
melakukan transaksi yang halal dan bersih, baik dari proses maupun
komponen-komponen muamalahnya, seperti ijarah misalnya. Kini, kita tinggal
memanfaatkan lembaga-lembaga berbasis muamalah yang sudah konsen kepada
syariah, baik itu bank, koperasi, atau lembaga dan institusi lain yang sudah
berlabel syariah.

Gharar dalam Jual Beli

Di antara karakter agama Islam adalah
syumuliyah (universal) yang maknanya bahwa agama ini mengatur seluruh sendi
kehidupan manusia, baik yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan
penciptanya yang sering disebut dengan ibadah, maupun berkaitan erat dengan
hubungan antar sesama manusia yang sering disebut dengan muamalah, karena itu
Islam memerangi segala upaya untuk memisahkan urusan dunia terlepas dari
tuntunan agama, bahkan Allah SWT melarang kaum muslimin untuk melupakan dan
melalaikan dunia hanya fokus untuk akhirat semata, sebagaimana firman Allah SWT
di surah al-Qashash ayat 77 berikut ini yang artinya:

“Dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang
lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan.” (QS. al-Qashash: 77)

Abu Hayyan al-Andalusi rahimahullah
menjelaskan akan maksud ayat tadi dengan menyatakan: “Carilah akhiratmu dengan
duniamu, karena hal itu merupakan bagian dari setiap mukmin dari dunia ini,
karena dunia merupakan ladang (amal) untuk akhirat, di dunia kebaikan
diupayakan dengan maksimal dan ditinggikan derajatnya.” (dalam al-Bahr
al-Mukhit, karya Abu Hayyan al-Andalusi)

Dengan demikian ayat tadi memerintahkan
kaum muslimin untuk berkarya, dan salah satu bentuk karya yang terbaik adalah
dengan transaksi jual beli karena transaksi semacam inilah yang diisyaratkan
Allah Ta’ala dalam firman-Nya pada ayat 10 dari surah al-Jum’ah yang artinya:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka
bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jum’ah: 10)

Ibnu Katsir menjelaskan: “Ketika kaum
muslimin dibatasi aktivitas mencari nafkah sesuai adzan pertama dan
diperintahkan untuk berkumpul (ke masjid menunaikan shalat), seusai menunaikan
shalat diizinkan untuk bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia Allah
Ta’ala.”

Transaksi jual beli merupakan sumber mencari
nafkah yang telah dihalalkan oleh Allah dalam firman-Nya dalam surah al-Baqarah
ayat 275 yang artinya:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba
tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan
lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan
riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus
berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu
(sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang
kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah: 275)

Agama Islam yang bersumber dari Allah SWT
telah menghalalkan transaksi jual beli, namun dalam praktek di lapangan masih
sering terjadi penyimpangan dalam aplikasi transaksi jual belinya. Oleh karena
itu kami ingin menyampaikan rambu-rambu jual beli dalam Islam, adapun di antara
rambu-rambu tersebut adalah tidak boleh ada unsur gharar-nya, sebagaimana
hadist berikut ini:

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata,
“Rasulullah SAW telah melarang (kita) dari (melakukan) jual beli barang secara
gharar.” (HR. Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, an-Nasa’i)

Adapun pengertian dari gharar yang
disampaikan oleh para ulama adalah sebagai berikut:

  1. Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ al Fatawa
    berpendapat: “Gharar adalah konsekuensi yang tidak diketahui.”
  2. Ibn Qayyim berpendapat: “Gharar adalah sesuatu
    yang tidak diketahui hasilnya, atau dikenal hakikat dan ukurannya.”
  3. Abu Ya’la berpendapat: “Gharar adalah hal yang
    meragukan antara 2 perkara, dimana tidak ada yang lebih nampak/jelas.”
  4. Al-Jurjani dalam kitabnya at-Ta’rifaat
    berpendapat: “Gharar adalah sesuatu yang tidak diketahui hasilnya, apakah dapat
    terealisasi atau tidak?.”

Karena itulah al Imam an Nawawi rahimahullah berpendapat:

“Adapun larangan jual beli secara gharar, merupakan prinsip
yang agung dari sekian prinsip yang terkandung dalam bab jual beli (al-buyu’),
sehingga Imam Muslim menempatkan hadist gharar ini di bagian pertama (dalam
Kitabul Buyu’), dan memasukkan ke dalamnya berbagai masalah yang tidak
terhitung jumlahnya.”

Di antara bentuk-bentuk jual beli gharar adalah:

  • Larangan jual beli mulamasah dan munabadzah sebagaimana dalam hadist berikut:

Dari Abu Sa’ad al-Khudri radhiyallahu anhu,
ia berkata: “Rasulullah telah melarang kita dari (melakukan) jual beli secara
mulamasah dan munabadzah.” (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’ie, Malik,
al-Baihaqi, Ibnu Hibban dan Ibnu Asakir)

  • Mulamasah ialah seseorang meraba pakaian orang
    lain dengan tangannya, pada waktu malam atau siang hari, tetapi tanpa
    membalik-baliknya lalu melakukan transaksi jual beli, atau setiap orang dari
    pihak penjual dan pembeli meraba pakaian rekannya tanpa memperhatikannya lantas
    dilanjutkan transaksi jual beli tersebut.

Adapun jual beli munabadzah adalah masing-masing dari kedua
belah pihak yaitu penjual dan pembeli melemparkan pakaiannya kepada rekannya,
dan salah satu dari keduanya tidak memperhatikan pakaian rekannya atau
seseorang melemparkan pakaiannya kepada orang lain dan orang lain itupun
melemparkan pakaiannya kepada pelempar pertama yang berarti masing-masing telah
membeli dari yang lainnya tanpa diteliti dan tanpa saling merelakan.

  • Jual beli dengan konsep hablul hablah,
    sebagaimana hadist yang bersumber dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berikut
    ini yang artinya:

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia
berkata: “Adalah kaum jahiliyyah biasa melakukan jual beli daging unta sampai
dengan lahirnya kandungan, kemudian unta yang dilahirkan itu buntung.” Dan ia
menjelaskan bahwa hablul habalah yaitu unta yang dikandung itu lahir, kemudian
unta yang dilahirkan itu bunting, oleh karena itu Nabi melarang yang demikian
itu.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

Praktek jual-beli Hablu al-hablah adalah
jual-beli tempo hingga unta betina melahirkan, kemudian dari anak yang
dilahirkan itu ditunggu hingga besar dan unta itu bunting kembali. Konsep jual
beli bertempo semacam ini terdapat unsur gharar yang berpotensi menimbulkan
perselisihan, dan agama Islam hadir dalam rangka mencegah timbulnya pertikaian
dan perselisihan di belakang hari, karena itu konsep demikian termasuk yang
diharamkan.

  • Jual beli dengan melempar batu (bai’al hasha).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia
berkata: “Rasulullah SAW melarang jual beli dengan lemparan batu kecil….”
(HR. Ahmad, Muslim, al-Baihaqi, dan al-Bazzar)

Penjelasan ulama terkait jual beli dengan
lemparan kerikil dengan beberapa penafsiran, di antaranya dengan perumpamaan:
Seorang penjual berkata ke pembeli: “Saya menjual dari sebagian pakaian ini,
yang terkena lempara kerikil ini,” atau “saya menjual kepadamu tanah dari batas
ini sampai jatuhnya kerikil yang dilemparkan si penjual.” Konsep jual beli
semacam ini diharamkan oleh Islam.

  • Menjual barang yang belum menjadi miliknya,
    sebagaimana yang disebutkan dalam hadist berikut ini:

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa membeli makanan, maka janganlah
menjualnya hingga ia menerimanya.” (HR. Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, dan
at-Tirmidzi)

Dalam hadist di atas menyebutkan bahwa
menjual makanan yang belum menjadi hak miliknya termasuk jual beli yang tidak
diperbolehkan oleh Nabi, namun bukan berarti bahwa yang terlarang hanya makanan
saja, sebab kaidah yang telah disepakati oleh para ulama adalah penyebutan
sebagian namun yang dimaksudkan adalah keseluruhannya’.

Jual beli termasuk salah satu sarana untuk mendapatkan harta
dan yang paling menjamur di tengah tengah masyarakat muslim, namun masih
sedikit yang paham akan konsep jual beli dalam Islam sehingga seringkali
terjadi penyimpangan dalam transaksi jual beli, karena itu sangat tepat
kebijakan khalifah Umar bin Khaththab ra saat itu untuk melarang melakukan
transaksi jual beli kecuali orang yang benar-benar paham terhadap syariat
Islam.

Penanaman
Modal yang Dilarang dalam Islam

Banyak kalangan masih memahami bahwa syariat agama Islam itu
hanya sebatas ibadah dalam arti mahdloh, seperti shalat, zakat, puasa, haji
dsb. Peri kehidupan sehari-hari dalam mu’amalah, bertransaksi seolah hal itu
diserahkan sepenuhnya kepada manusia, dalam arti tidak diatur oleh Islam. Dalam
konsep fiqh, manusia diatur oleh Islam, mulai dari masalah Ibadah, Muamalah,
dan Da’wah. Sehingga tak ada satupun perilaku manusia itu yang luput dari
tatanan syariat Islam.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya’: 107)

Kehadiran agama Islam di tengah-tengah masyarakat akan
benar-benar terasa dampak dan manfaatnya yakni sebagai agama yang rahmatan
lil’alamin, apabila Islam telah difahami dan dilaksanakan secara sempurna, yaitu
komunikasi manusia dengan Allah yang disebut ibadah. Dan komunikasi antar
sesama makhluk yang disebut Muamalah.

Al-Qur’an menjelaskan yang artinya:

“Andaikan kebenaran mengikuti keinginan mereka, niscaya
langit, bumi, dan segala isinya akan binasa/rusak/hancur.” (QS. al-Mu’minun:
71)

Salah satu dari sekian banyak syariat yang berkenaan dengan
muamalat yaitu Investasi (penanaman modal) yang dalam istilah hukum Islam
disebut mudharabah adalah menyerahkan modal uang kepada orang yang berniaga
sehingga ia mendapatkan persentase keuntungan. Bentuk usaha ini melibatkan dua
pihak: pemilik modal namun tidak bisa berbisnis. Dan kedua, pelaku bisnis namun
tidak memiliki modal. Melalui usaha ini, keduanya saling melengkapi.

Para ulama sepakat bahwa sistem penanaman modal ini
dibolehkan. Dasar hukum dari sistem ini adalah “ijma” ulama yang
membolehkannya.

Diriwayatkan dalam al-Muwaththa:

“Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya bahwa ia menceritakan,
“Abdullah dan Ubaidullah bin Umar bin al-Khaththab pernah keluar dalam satu
pasukan ke negeri Iraq. Ketika mereka kembali, mereka lewat di hadapan Abu Musa
al-Asy’ari, yakni gubernur Bashrah. Beliau menyambut mereka berdua dan menerima
mereka sebagai tamu dengan suka cita. Beliau berkata, “Kalau aku bisa melakukan
sesuatu yang berguna buat kalian, pasti akan kulakukan.” Kemudian beliau
melanjutkan, “Sepertinya aku bisa melakukannya. Ini ada uang dari Allah yang
akan kukirimkan kepada Amirul Mukminin. Saya meminjamkannya kepada kalian untuk
kalian belikan sesuatu di Iraq ini, kemudian kalian jual di kota Madinah.
Kalian kembalikan modalnya kepada Amirul Mukminin, dan keuntungannya kalian
ambil.” Mereka berkata, “Kami suka itu.” Maka beliau menyerahkan uang itu
kepada mereka dan menulis surat untuk disampaikan kepada Umar bin al-Khaththab
agar Amirul Mukminin itu mengambil dari mereka uang yang dia titipkan.
Sesampainya di kota Madinah, mereka menjual barang itu dan mendapatkan
keuntungan. Ketika mereka membayarkan uang itu kepada Umar. Umar lantas
bertanya, “Apakah setiap anggota pasukan diberi pinjaman oleh Abu Musa seperti
yang diberikan kepada kalian berdua?” Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau berkata,
“Apakah karena kalian adalah anak-anak Amirul Mukminin sehingga ia memberi
kalian pinjaman? Kembalikan uang itu beserta keuntungannya.” Adapun Abdullah,
hanya membungkam saja. Sementara Ubaidullah langsung angkat bicara, “Tidak
sepantasnya engkau berbuat demikian wahai Amirul Mukminin! Kalau uang ini
berkurang atau habis, pasti kami akan bertanggung jawab.” Umar tetap berkata,
“Berikan uang itu semuanya.” Abdullah tetap diam, sementara Ubaidullah tetap
membantah. Tiba-tiba salah seorang di antara sahabat Umar berkata, “Bagaimana
bila engkau menjadikannya sebagai investasi modal wahai Umar?” Umar menjawab,
“Ya, Aku jadikan itu sebagai investasi modal.” Umar segera mengambil modal
beserta setengah keuntungannya, sementara Abdullah dan Ubaidullah mengambil
setengah keuntungan sisanya.”

Diriwayatkan juga dari al-Alla bin Abdurrahman, dari
ayahnya, dari kakeknya bahwa Utsman bin Affan memberinya uang sebagai modal
usaha, dan keuntungannya dibagi dua.

Satu hal yang logis, bila pengembangan modal dan peningkatan
nilainya merupakan salah satu tujuan yang disyariatkan. Sementara modal itu
hanya bisa dikembangkan melalui pemutaran atau perdagangan. Sementara tidak
setiap orang yang mempunyai harta mampu berjual-beli. Dan tidak setiap yang
berkeahlian dagang mempunyai modal. Maka masing-masing kelebihan itu dibutuhkan
oleh pihak lain. Oleh sebab itu bisnis penanaman modal ini disyariatkan oleh Allah
demi kepentingan kedua belah pihak.

Namun demikian dalam hal investasi ini syariat Islam
dibatasi sebagaimana transaksi yang lain yakni tidak dalam hal-hal yang
dilarang syara’ seperti:

  • Pelaku (investor dan pengelola modal)

Kedua pihak di sini adalah investor dan
pengelola modal. Keduanya disyaratkan memiliki kompetensi beraktivitas. Yakni
orang yang tidak dalam kondisi bangkrut terlilit hutang. Orang yang bangkrut
terlilit hutang, anak kecil (belum baligh), orang gila, orang idiot, semuanya
tidak boleh melaksanakan transaksi ini.

Akad perjanjian ini merupakan titik awal
terjadinya bisnis ini sekaligus sebagai dasar dari penentuan besaran persentase
pembagian keuntungan. Maka dari itu dalam akad perjanjian ini harus
dilaksanakan dalam keadaan sadar dan tidak ada unsur paksaan sehingga kedua
pihak sama-sama ridha.

Objek transaksi dalam penanaman modal ini
tidak lain adalah modal, usaha, dan keuntungan.

Syarat modal yang bisa digunakan investasi adalah harus merupakan alat
tukar, seperti emas, perak, atau uang secara umum. Modal ini tidak boleh berupa
barang, kecuali bila disepakati untuk menetapkan nilai harga barang tersebut
dengan uang. Sehingga nilainya itulah yang menjadi modal yang digunakan untuk
memulai usaha.

Mengapa dilarang penanaman modal dengan menggunakan barang komoditi?

Usaha pokok dalam penanaman modal adalah di bidang perniagaan atau
bidang-bidang terkait lainnya. Di antara yang tidak termasuk perniagaan adalah
bila pengelola modal mencari keuntungan melalui bidang perindustrian. Bidang
perindustrian tidak bisa dijadikan lahan penanaman modal, karena itu adalah
usaha berkarakter tertentu yang bisa disewakan. Kalau seseorang menanamkan
modal untuk usaha perindustrian, maka penanaman modal itu tidak sah, seperti
menanamkan modal pada usaha pemintalan benang yang kemudian ditenun dan dijual
hasilnya. Atau untuk usaha penumbukan gandum, lalu setelah menjadi tepung
diadoni dan dijual. Demikian seterusnya.

Pengelola modal tidak boleh bekerja sama dalam penjualan barang-barang
haram, berdasarkan kesepakatan ulama, seperti: jual beli bangkai, darah, daging
babi, minuman keras, dan jual beli riba atau yang sejenisnya.

Keuntungan dalam bisnis ini adalah hak kedua belah pihak, yang
pembagiannya harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh hukum
Islam:

  • Diketahui secara jelas pada saat transaksi.

Yang perlu diingat, persentase ini bukan dari modal tapi dari keuntungan.

  • Keuntungan dibagikan dengan persentase yang
    sifatnya merata. Selanjutnya, bila ternyata tidak ada keuntungan sama sekali
    atau bahkan rugi, maka pemilik modal saja yang menanggung kerugian. Pengelola
    modal hanya mengalami kerugian kehilangan tenaga.

Antara perkara yang dilarang
dalam perniagaan/penanaman modal ialah usaha yang mengandung unsur-unsur:

“278. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan
tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
279. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah,
bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari
pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak
(pula) dianiaya.” (Surah al-Baqarah: 278-279)

  • Memeras dan mengambil harta dengan cara yang batil

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu;
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. an-Nisa: 29)

  • Menipu dan bersumpah palsu.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW telah melalui
setimbunan makanan (yang dijual) seraya memasukkan tangannya ke dalam timbunan
makanan tersebut dan mendapati jari-jemarinya basah. Rasulullah SAW bersabda,
“apakah semua ini wahai pemilik makanan?” Lelaki itu menjawab; “makanan ini
telah ditimpa hujan wahai Rasulullah SAW.” Seraya Rasulullah bersabda: “Kenapa
tidak kamu jadikan yang basah itu disebelah atas makanan agar manusia dapat
melihatnya, barang siapa yang menipu maka ia bukan dari agamaku (yang
sempurna).” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda:

“Allah SWT melaknat pemberi rasuah dan penerima rasuah.” (HR. al-Hakim
dalam al-Mustadrak dan al-Baihaqi dalam Syuab al-Iman)

  • Memonopoli barangan (ihtikar)

Rasulullah SAW bersabda:

Dari Ma’mar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa memonopoli
barangan (ihtikar) maka ia telah melakukan kesalahan. Yakni ia telah tersasar
jauh dari perkara yang sebenar dan keadilan.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Awanah,
al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah)

Telah berlaku Ijma’ di kalangan fuqaha tentang haramnya segala bentuk
perniagaan barang yang najis pada zatnya, seperti arak, babi, anjing, bangkai,
dan seumpamanya. Islam mengharamkan sebarang bentuk perniagaan barangan najis
ini karena dia bisa mendatangkan mudarat dan kerusakan di muka bumi.

Dari
Jabir bin Abdullah katanya, ia telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada
tahun pembukaan kota Makkah, “sesungguhnya Allah SWT dan Rasulnya telah
mengharamkan jual beli babi, bangkai, arak, dan patung berhala…” (HR. Ahmad,
Ibnu Abi Syaibah, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi)

Hutang-Piutang
(Qardh) dalam Islam

Salah satu kegiatan muamalah yang kadang kita lakukan adalah
hutang-piutang. Baik hutang-piutang yang dilakukan secara perseorangan maupun
antara seseorang dengan lembaga. Secara individu seseorang boleh berhutang
kepada orang lain, baik untuk usaha maupun untuk memenuhi kebutuhan mendesak.
Secara individu seseorang juga dapat berhutang kepada lembaga keuangan yang
menyediakan dana, baik untuk memenuhi kebutuhan mendesak maupun untuk modal
usaha.

Secara syar’i, hutang piutang boleh dilakukan oleh seorang
muslim, baik antara muslim dengan muslim maupun muslim dengan non-Muslim. Dalam
al-Qur’an arti surah al-Baqarah ayat 282 disebutkan:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah
tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.
Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan
janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkan, maka
hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa
yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya, dan
janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu
orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu
mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan
persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu).
Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang
perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang
seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan)
apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik
kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih
adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak
(menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika muamalah itu
perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi
kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual
beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu
lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada
dirimu. Dan bertaqwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah: 282)

Ayat tadi memberikan suatu ketentuan bagaimana seorang
muslim melakukan utang piutang. Kelanjutan ayat tersebut memberikan guidance
(petunjuk) bagaimana utang-piutang itu harus dicatat, disaksikan orang lain,
dan sebagainya, agar tidak ada yang lupa dan pada akhirnya tidak ada yang
dirugikan. Persoalan muamalah yang dilakukan secara tidak tunai secara
psikologis potensial memunculkan peluang terjadinya perubahan pemikiran dan
pemutarbalikan fakta. Oleh karenanya, catatan utang-piutang menjadi dokumen
penting yang dapat menghindarkan terjadinya perselisihan antar pihak yang
terlibat dalam utang-piutang. Karena dengan adanya dokumen yang terpercaya,
maka pihak-pihak terkait tidak akan lupa maupun menghindar dari tanggung jawab
maupun mengubah perjanjian secara sepihak.

Selain keharusan untuk mengadministrasikan kegiatan
utang-piutang, Islam juga menekankan kepada umatnya untuk senantiasa menepati
janji. Dalam utang-piutang, sudah pasti, terjadi perjanjian, yakni seseorang
yang berhutang memberikan janji tentang waktu pembayarannya kepada pihak yang
memberikan hutang. Tentu, menepati janji tentang waktu pembayaran hutang
termasuk dalam perintah untuk menepati janji. Dalam al-Qur’an dinyatakan yang
artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (Al-Maidah: 1)

Terkait dengan hutang piutang, ayat tadi lebih fokus pada
pihak yang berhutang agar tidak mengingkari janji. Meskipun demikian juga
berlaku bagi pihak pemberi hutang, yakni agar tidak mengingkari perjanjian yang
sudah dibuat dengan pihak yang berhutang. Sehingga ayat yang memerintahkan
untuk memenuhi perjanjian berlaku secara umum, baik pihak yang berhutang maupun
pihak yang memberi hutang, agar sama-sama memenuhi dan menepati janji yang
sudah disepakati bersama.

Di sisi lain, jika ternyata pihak yang berhutang belum
membayar dikarenakan memang tidak memiliki kemampuan untuk membayar, maka pihak
pemberi hutang-pun harus memberikan kelonggaran. Allah SWT dalam al-Qur’an
surah al-Baqarah (2) ayat 280 menyebutkan sebagai berikut yang artinya:

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka
berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau
semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah:
280)

Pihak pemberi hutang harus memberikan waktu tangguh kepada
pihak penghutang yang tidak memiliki kemampuan membayar tepat waktu. Bahkan
jika perlu, mereka menyedekahkan harta yang dihutang jika si penghutang tidak
mampu membayar. Perbuatan menyedekahkan hutang tersebut disebut oleh Allah
sebagai perbuatan yang baik. Secara psikologis menyedekahkan harta yang
dihutang orang lain merupakan amalan yang tidak mudah untuk dilakukan. Karena
itulah maka perbuatan tersebut disebut oleh Allah sebagai perbuatan yang lebih
baik menagih hutang kepada si penghutang yang tidak memiliki kemampuan.

Nabi SAW menyatakan:

“Siapa saja yang membantu keperluan saudaranya maka Allah
akan membantu dalam keperluannya, siapa saja yang melepaskan seorang muslim
dari kesulitannya di dunia, Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat,
dan siapa saja yang menutup aib saudaranya muslim maka Allah akan menutup
aibnya kelak pada hari kiamat.” (HR. Muslim, Ahmad, dan an-Nasa’ie)

Mengacu pada hadist di atas, menyedekahkan harta yang dihutang
orang lain (sesama muslim) yang tidak mampu membayar, dapat bermakna memberikan
kemudahan atau membebaskan kesulitan orang lain. Karena itulah maka dijanjikan
oleh Allah bahwa orang yang membebaskan kesulitan orang lain di dunia, ia akan
dibebaskan dari kesulitan pada saat di akhirat.

Perbuatan menyedekahkan hutang tersebut, tentu, tidak
berdiri sendiri. Artinya, Allah tidak hanya memberikan himbauan secara sepihak
kepada orang yang memberikan hutang kepada orang lain. Tetapi Allah juga
menegaskan kepada pihak yang berhutang agar berupaya keras untuk membayar
hutangnya. Nabi SAW dalam suatu hadist menyatakan:

“Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang yang mampu
adalah suatu kedzaliman.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, an-Nasa’i,
at-Tirmidzi, Ahmad, Malik, Ibnu Hibban, al-Bazzar, al-Darimie, dan al-Baihaqi)

Dalam hadist lain Nabi SAW mengapresiasi orang yang membayar
hutang secara baik.

“Orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang
terbaik pembayaran hutangnya.” (HR. Ibnu Majah)

Dari ayat serta hadist-hadist di atas adalah bahwa dalam hal
hutang-piutang, kebaikan diukur dari kesediaan seorang yang memiliki harta
untuk memberikan pinjaman kepada orang yang sedang mengalami kesulitan. Jika
pihak yang diberi hutang ternyata belum mampu membayar maka si pemberi hutang
bersedia memberi waktu tangguh, dan bahkan menyedekahkan harta yang dihutangnya
jika ternyata yang diberi hutang betul-betul tidak memiliki kemampuan untuk
membayar. Di sisi lain, bagi pihak yang diberi hutang harus membayar sesuai
janjinya. Mengingkari janji dalam hal pembayaran merupakan tindakan dzalim yang
dibenci oleh Allah dan ketepatan pembayaran hutang menjadi salah satu indikator
kebaikan seseorang.

Illat yang melatari agar seorang pemberi hutang memberi
tangguh atau menyedekahkan hutang adalah ketidakmampuan si penghutang. Namun
jika ternyata si penghutang memiliki kemampuan untuk membayar, maka ia wajib
membayarnya. Islam tidak hanya menekan satu pihak, tetapi kedua belah pihak,
sehingga aspek keadilan antara pemberi hutang dan penghutang sama-sama ditekankan.
Dengan demikian, tidak akan ada yang dirugikan.

Aturan tentang hutang piutang dalam Islam tidak lepas dari
misi saling tolong menolong. Bagaimana agar seorang yang dalam keadaan
(terjepit) dalam pemenuhan kebutuhannya dapat ditolong oleh muslim lain yang
memiliki harta dan dalam kondisi longgar. Sehingga keadaan sulit akan dapat
diselesaikan berkat bantuan saudara muslim lainnya.

Dalam al-Qur’an disebutkan:

“ … Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat
siksa-Nya.” (QS. al-Maidah: 2)

Mengingat ayat dan hadist di atas, marilah kita bersama-sama
berupaya untuk dapat memberikan pinjaman kepada saudara-saudara kita yang
sedang dalam kesulitan. Jika perlu, kita menyedekahkan harta kita untuk
orang-orang yang betul-betul dalam kesulitan dan tidak memiliki kemampuan.
Demikian juga ketika kita memiliki tanggungan hutang kepada orang lain, marilah
segera kita tunaikan sesuai janji kita, karena pelanggaran janji adalah suatu
perbuatan dzalim yang harus dihindari. Pemenuhan janji, khususnya dalam
pembayaran hutang, adalah salah satu indikator kebaikan dan keshalehan kita.

Hijrah ke
Bank Syariah

Fenomena sosial dan alam hari ini menunjukkan gejala-gejala
yang mengkhawatirkan. Di mana-mana kita melihat dan menyaksikan beragam bencana
alam, seperti kekeringan, banjir, kebakaran hutan, dan lain-lain. Di sisi lain
kita juga menyaksikan berbagai bencana kemanusiaan seperti peperangan di timur
tengah, tawuran antar kampung/desa, tindak kekerasan kepada perempuan dan anak,
semua ini sudah sampai pada tahapan yang mengkhawatirkan. Semua peristiwa yang
terjadi baik itu berkaitan dengan bencana alam dan maupun kemanusiaan yang terjadi
ini adalah akibat dari tindakan manusia, sebagaimana dijelaskan dalam firman
Allah SWT:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian
dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. ar-Ruum: 41)

Apabila semua kerusakan yang terjadi di dunia ini adalah
sebagai akibat dari perbuatan manusia, maka satu-satunya cara mengatasinya
adalah dengan memperbaiki perilaku manusia yang menjadi penghuni bumi ini.
Perbaikan perilaku manusia akan dapat dilakukan dengan mengupayakan revolusi
mental melalui pendidikan agama/ajaran Islam (baca: Syariah). Syariah atau
ajaran Islam adalah agama yang bertujuan memperbaiki karakter dari manusia yang
merusak, menjadi memperbaiki, karakter penghancur menjadi pembangun, karakter
tamak menjadi qana’ah, karakter bakhil menjadi pemurah, dari akhlak buruk
menjadi berakhlak mulia. Karena itu solusi bagi berbagai macam kerusakan yang
ada ini adalah kembali kepada syariah.

Kembali kepada syariah tidak hanya memiliki makna agar kita
memperbaiki relasi dan hubungan kita dengan Allah SWT, tetapi juga relasi kita
dengan sesama dan alam lingkungan. Harmonisasi hubungan dengan manusia dan alam
sangat berpengaruh besar terhadap hubungan kita dengan Allah SWT. Karenanya,
perbaikan sektor kehidupan kita tidak hanya melingkupi hal-hal yang terkait
dengan ibadah ritual kita, tetapi juga harus menyentuh aspek-aspek sosial dan
lingkungan. Bersyariah dengan menjalankan segala aturan Allah SWT bukan hanya
tatkala kita berada di masjid, madrasah, tetapi taat kepada Allah SWT harus
terus menjadi semangat kita termasuk ketika di pasar, di jalan-jalan, kantor,
di hutan belantara, di lautan, dan lain-lain. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah
SAW:

“Bertaqwalah kamu di mana saja kamu berada, dan ikutilah
perbuatan buruk dengan kebaikan, dan bergaullah dengan akhlak yang baik.” (HR.
Ahmad, al-Hakim, at-Thabrani, al-Baihaqi, dan at-Tirmidzi)

Berdasarkan hadist di atas jelas sekali bagaimana agama
Islam melalui syariahnya mengatur kita semua dalam berbagai aspek kehidupan;
ibadah, berkeluarga, berbisnis, bernegara dan berbangsa semuanya tidak lepas
dari syariah. Dan seluruh aturan-aturan yang ada dalam Islam sesungguhnya akan
membawa keberuntungan bagi umat manusia, baik dalam kehidupan dunia dan
akhiratnya kelak. Kemaslahatan ini dirumuskan dalam lima rumusan kemaslahatan
yang meliputi agama, jiwa, akal, harta, kehormatan dan turunan. Kemaslahatan
sejati adalah manakala lima hal ini terjaga dan terpenuhi semua kebutuhannya.

Berdasarkan hal di atas, maka berekonomi dan berbisnis yang
membawa keberuntungan adalah apabila kita kembali kepada prinsip-prinsip
syariah dalam menjalankan roda perekonomian kita. Hal ini karena sistem
perekonomian syariah berbasis kepada sektor riil dan nyata dalam kehidupan,
serta keuntungannya di dasarkan kepada besar kecilnya risiko dan amal-amal yang
telah dilaksanakan. Berbeda dengan sistem konvensional yang berbasis kepada
bunga dan besaran modal/capital sehingga hal ini akan menimbulkan ketidakadilan
karena hanya akan menguntungkan orang kaya dan pemilik modal, sementara para
pekerja akan terus-menerus mengalami ketergantungan dan tidak memiliki daya
tawar yang tinggi dihadapan para pemodal. Prinsip syariah berdiri atas asas
keadilan, persamaan, tolong-menolong, pemerataan dan lainnya. Sementara bisnis
dan perekonomian konvensional hanya berorientasi kepada pencarian keuntungan
duniawi semata dengan menghalalkan segala cara, termasuk dengan mempraktekkan
sistem bunga yang tidak lain adalah saudara kembar dan identik dari riba yang
diharamkan oleh Islam dan agama-agama samawi seperti Yahudi dan Nashrani,
karena mendzalimi pihak-pihak yang lemah. Prinsip syariah adalah berkompetisi
secara sehat dalam mencapai kesuksesan bersama dengan tetap mengulurkan bantuan
bagi siapa pun yang membutuhkannya.

Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa
(kepada Allah) niscaya kami bukakan atas mereka keberkahan dari langit dan
bumi, tetapi mereka membohongkan (Allah), maka kami sanksi mereka atas apa yang
mereka usahakan.

Dan siapa-siapa yang bertaqwa kepada Allah, akan dijadikan
baginya jalan keluar (bagi masalah-masalahnya), dan akan diberikan rezeki dari
yang dia tidak duga-duga.

Meraih
Roh Bank Syariah

Orang beriman adalah manusia yang dijanjikan Allah SWT
sebagai khalifah atau penguasa atau wakil Allah SWT di bumi. Janji Allah ini
akan menjadi nyata, bila mereka teguh beriman dan tegar beramal saleh. Satu
konsekuensi logis dari kedudukan sebagai wakil Allah SWT di bumi ialah, orang
beriman harus menelaah, memilih, menjabarkan dan melaksanakan al-Qur’an dan
as-Sunnah sebagai amanat Allah SWT di atas bumi.

Kewajiban ini tidak boleh ditawar-tawar atau diragukan; bila
ditawar-tawar atau diragukan, berarti mereka maksiat kepada Allah SWT atau
berkhianat terhadap amanat Allah, yang cepat atau lambat, mereka tidak dijamin
lagi sebagai penguasa seperti yang semula dijanjikan Allah SWT.

Bila amanat Allah SWT itu terus dijalankan semaksimal
mungkin, maka, Allah SWT akan menurunkan karunia kemashlahatan, di antaranya
berupa keteguhan mengamalkan agama dan kebebasan dari berbagai rasa takut dan
waswas, yakni bebas dari rasa takut terkena penyakit, takut miskin, takut
kesusahan, penindasan, tipu-daya dan permusuhan. Singkatnya, bebas dari rasa
takut dalam kesehatan, ekonomi, hukum, sosial dan apa saja. Artinya fungsi
khalifah berbuah karunia fungsi mashlahah. Perhatikan tawaran janji Allah SWT
berikut yang artinya:

“Dan Allah SWT telah berjanji kepada orang-orang yang
beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia
benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan
menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan
sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji)
itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. an-Nuur: 55)

Persoalan yang mesti dipikirkan dan diupayakan oleh orang
yang beriman adalah, bagaimana supaya seluruh pikiran, tenaga, waktu, dan
miliknya dikerahkan untuk melaksanakan Qur’an dan Sunnah yang diamanatkan Allah
SWT.

Di sini terkandung tiga perkara secara berurut. Pertama,
janji Allah SWT tentang manusia beriman sebagai wakil Allah SWT di bumi. Kedua,
kewajiban manusia beriman untuk mengerahkan segala peluang dan kemampuan untuk
memenuhi pelaksanaan pilihan sunnatullah atau amanat Allah SWT di muka bumi;
perkara ini boleh disebut wilayah terbatas fungsi khalifah. Ketiga, balasan
dari Allah SWT kepada manusia yang terus dan telah setia berkorban dalam rangka
memikul amanat Allah SWT berupa karunia kemenangan dan kedamaian sejati;
perkara ini boleh disebut wilayah tidak terbatas karena fungsi mashlahah di
dunia hingga di akhirat.

Perkara pertama dan ketiga adalah wewenang atau urusan Allah
SWT, maka manusia tidak berdaya apa-apa, termasuk tidak berdaya menciptakan
kemenangan, kedamaian, dan kemakmuran. Yang jadi urusan manusia, atau yang
harus dipikirkan dan diupayakan oleh manusia hanyalah bertumpu pada perkara
kedua saja, yaitu bagaimana caranya agar pilihan sunnatullah atau amanat Allah
SWT semampu manusia terjabarkan di muka bumi, atau terpenuhinya fungsi
khalifah. Dan sesungguhnya mutu kemenangan, kedamaian, dan kemakmuran yang
bakal dikaruniakan Allah SWT, atau karunia fungsi mashlahah, tergantung pada
tingkat ketulusan pengorbanan manusia beriman dalam memikul pilihan amanat
Allah SWT itu; ketika demikian, fungsi khalifah yang terbatas berbuah karunia
fungsi mashlahah yang tidak terbatas.

Ilmu ekonomi-bisnis konon menyajikan kepada manusia
langkah-langkah cerdas untuk menciptakan sebesar-besar kepuasan dan kemakmuran.
Sunnatullah membukakan rahasianya kepada manusia, bahwa soal puas atau tidak
puas, tenteram atau sejahtera, senang atau susah, perkara menang atau kalah,
dan semacamnya, seluruhnya, adalah urusan Allah, yaitu sebagai akibat atau
anugerah dan balasan dari Allah, atau karena fungsi mashlahah. Jangan harap
manusia akan mendapatkan anugerah kepuasan dan kemakmuran, bila sebelumnya
mereka tidak berminat berlomba melaksanakan pilihan sunnatullah, atau fungsi khalifah,
di muka bumi.

Mustahil Allah SWT ingkar janji, mudah saja menganugerahkan
kemenangan, kepuasan dan kemakmuran sejati kepada manusia yang enggan
berikhtiar menjalankan amanat Allah SWT di atas bumi. Kalaupun ada kemenangan
yang mereka peroleh, maka mereka bukan sebenar-benar kemenangan, melainkan
kemenangan semu. Perhatikan firman Allah SWT yang artinya:

“196. Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan
orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. 197. Itu hanyalah kesenangan
sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu
adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS. ali-‘Imran: 196-197)

Kalau Anda shalat, setelah takbir pembuka tentu Anda membaca
di antaranya: inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbilaalamiin;
bacaan ini artinya begini: sungguh-sungguh shalatku, pengorbananku, hidupku,
dan matiku hanya untuk Allah SWT, Tuhan pengatur seluruh isi alam. Demikian itu
janji atau sumpah kita, berulang-ulang selama hidup, semuanya ini karena dan
untuk Allah SWT. Kalau kita taat pada janji tersebut, maka seluruh niat yang
bersih dan segenap perbuatan yang baik harus ditujukan hanya untuk Allah SWT.
Artinya, haram memiliki niat yang buruk dan haram melakukan perbuatan mungkar,
karena hal itu maksiat kepada Allah SWT dan itu adalah tanda manusia ingkar
janji dan mereka jadi pengkhianat.

Menurut al-Qur’an, hidup di dunia adalah ujian, bukan
tujuan. Dalam pergaulan hidup dunia, memang sering beredar kenyataan, orang
perlu jadi pengkhianat untuk mencari menang dan meraih untung; juga pada
kenyataan, orang harus cerdik merancang akal bulus, tipu daya dan tipu muslihat
untuk merebut duit dan kursi. Lantaran hidup dunia jadi tujuan.

Tetapi bukanlah sesungguhnya manusia memerlukan kebenaran,
tidak tergiur semata-mata pada kenyataan? Bukankan memilah dan memilih di
antara kebenaran dan kenyataan adalah pembeda antara tauhid dan syirik, antara
iman dan kufur, antara manusia dan binatang, pemisah antara pemikul amanat dan
pelaku pengkhianat? Bukankah Allah SWT telah memastikan dalam firman-Nya yang
artinya:

“37. Adapun orang yang melampaui batas 38. Dan lebih
mengutamakan kehidupan dunia 39. Maka sesungguhnya nerakalah tempat
tinggal(nya).” (QS. an-Nazi’at: 37-39)

Maka sekarang kita camkan bersama, jangan pernah kita
mengeruk keuntungan dan kepuasan diri dengan jalan dusta, ingkar janji, dan
khianat; jangan pernah Anda merebut duit dan kursi dengan cara akal bulus, tipu
daya, dan tipu muslihat; jangan pernah Anda meraih ‘rezeki’ dengan cara-cara
riba, kezhaliman, maysir, gharar, dan haram. Yang Anda peroleh itu bukan
hasanah namanya, melainkan dalam istilah al-Qur’an disebut mataa’ul guruur,
artinya kepuasan semu atau kesenangan yang menipu. Yang Anda dapat itu bukan
rahmat, tetapi laknat, akhirnya bukan selamat, cepat atau lambat pasti kualat,
lantaran manusia ingkar amanat dan bertukar jadi pengkhianat.

Karena itu, dalam suka dan duka, ketika senang atau susah,
di saat sempat atau sempit sungguh manusia perlu sabar dan teguh memikul amanah
menggapai kebenaran; itu juga berarti, sebuah perilaku usaha harus berpijak
dari niat yang suci dan perilaku yang benar, sekaligus perilaku usaha juga
harus menjadi bagian dari hidup atau ibadah yang ditujukan karena dan untuk
Allah SWT. Di sini terkandung jihad mu’amalah sepenuhnya. Dan di sini pula kita
akan menggapai roh-nya bank dan transaksi syariah.

Akhirnya, bila jihad mu’amalah telah dimulai, pasanglah
niat, sikap dan perilaku usaha karena pilihan sunnatullah sebagai amanat Allah
SWT diatas bumi, yaitu al-Qur’an dan sunnah. Artinya sikap dan perilaku sebagai
bagian dari hidup atau ibadah, atau sebagai bukti pelaksanaan Allaahus-shamad,
Allah SWT tumpuan harapan, atau Allah SWT tempat bergantung. Konsekuensi adalah
para pelaku usaha mu’amalah hendaknya berupaya memahami agama, atau wajib
belajar al-Qur’an dan berikhtiar menghayati tuntunan al-Qur’an; untuk itu
hendaknya mereka sabar dan teguh menegakkan shalat dan rukun Islam lain,
kemudian lewat hubungan usaha mu’amalah ini mereka menghindar dari rupa-rupa
pikiran sesat dan perilaku durhaka, mereka jadi saksi pengamalan agama yang
makin sempurna, untuk menggapai makna syahadat, asyhadu allaa ilaaha illallaah
wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah, akhirnya kita menjadi syuhada. Inilah
yang terekam dalam firman-Nya yang artinya:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat
Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan)
manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami
tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami
mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot.
Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang
yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan
imanmu. Sesungguhnya Allah SWT Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada
manusia.” (QS. al-Baqarah: 143)

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang
sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan
untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.
Dia (Allah) telah menemai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan
(begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu
dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah
sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah
Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS.
al-Hajj: 78)

Nah, bila tidak berpijak pada pertimbangan pilihan
sunnatullah sebagai amanat Allah SWT, maka sebuah perilaku usaha hanya sekadar
sandiwara, atau sekadar urusan menang-kalah, bukan urusan benar-salah, persis
atau lebih buruk dari binatang. Perilaku usaha macam ini berbahaya, akhirnya
menuju peri hidup ala-neraka. Dan syahadat kita tidak terbukti, cuma syahadat
palsu. Na’udzubillaahi.

Jalan hidup kita mengandung hanya dua pilihan masalah.
Pertama, masalah untung-rugi, atau masalah menang-kalah. Kedua, masalah
benar-salah. Memilih yang pertama ataukah yang kedua, inilah pembeda antara
syirik atau tauhid, pemilah antara kufur atau iman, dan pemisah antara pelaku
pengkhianat atau pemikul amanat. Roh sejati bank syariah mesti diraih dan
terpancar pada pilihan kedua, pola bisnis yang benar, mustahil dapat dihayati
lewat sekadar jalan cari menang atau rebut untung. Mustahil Allah SWT keliru
dan ingkar atas janji-Nya.

Alam ta’lam? Tidakkah Anda mau mengerti? Wallahu a’lam.

Sumber: Kumpulan Khotbah Bisnis dan Keuangan Syariah.


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Perlu bantuan? Chat disini aja!