Nama, Nasab, Nama Kuniyah, Nama Laqab (Julukan), Gambaran dan Ciri-ciri Fisik, Keluarga dan Potret Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq pada Masa Jahiliyah

Keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq, Dakwahnya, Ujian yang Dialaminya dan Hijrahnya yang Pertama – Lampu Islam

Nama, Nasab, Kuniyah, dan Laqab Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ia adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin
Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib al-Qurasyi at-Taimi.
Nasab Abu Bakar ash-Shiddiq bertemu dengan nasab Nabi Muhammad pada kakek
keenam yaitu Murrah bin Ka’ab.

Ia memiliki nama kuniyah Abu Bakar (Bakr), dari kata,
“Al-Bakr” yang artinya adalah unta yang muda dan kuat. Bentuk jamaknya adalah,
“Bikar” dan “abkur”. Orang Arab menyebut Bakr, yaitu moyang sebuah kabilah yang
besar.

Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki sejumlah nama laqab atau
julukan yang kesemuanya menunjukkan pengertian luhurnya derajat dan kedudukan
serta kemuliaan jejak langkah dan nasab. Di antaranya adalah:

Nama laqab atau julukan ini diberikan
kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Nabi Muhammad dalam sebuah hadist disebutkan,
bahwasanya Rasulullah berkata kepadanya, “Kamu adalah ‘atiqullah (hamba yang
dimerdekakan dan dibebaskan Allah) dari neraka.”

Maka Abu Bakar Ash-Shiddiq pun dijuluki
dengan nama Al-‘Atiq. Dalam sebuah riwayat Aisyah ra. disebutkan, bahwasanya
Aisyah berkata, “Pada suatu ketika, Abu Bakar Ash-Shiddiq masuk menemui
Rasulullah, lalu beliau berkata kepadanya, “Bergembiralah kamu, karena kamu adalah
‘atiqullah (hamba yang dimerdekakan dan dibebaskan Allah) dari neraka.”

Maka sejak saat itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq
dijuluki al-‘Atiq. Para sejarahwan menyebutkan banyak sebab dan alasan lain
yang melatar belakangi munculnya nama julukan ini bagi Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Ada keterangan menyebutkan, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq dijuluki Al-‘Atiq,
karena keelokan wajahnya. Ada keterangan lain menyebutkan, karena Abu Bakar
Ash-Shiddiq adalah orang yang terdahulu dan terdepan dalam kebaikan. Ada pula
keterangan yang menyebutkan, Abu Bakar Ash-Shiddiq dijuluki al-‘Atiq, karena
kesahajaan (‘ataqah) wajahnya. Ada juga keterangan yang menyebutkan, bahwa dulu
ibunda Abu Bakar Ash-Shiddiq setiap kali punya anak, maka selalu tidak berumur
panjang. Lalu ketika melahirkan Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka ia membawanya
menghadap ke Ka’bah dan berkata, “Ya Allah, sesungguhnya anak ini adalah
‘atiquka (anak yang Engkau bebaskan) dari kematian, maka karuniakanlah ia
untukku.”

Sebenarnya memungkinkan untuk
mengombinasikan di antara beberapa keterangan tersebut. Karena Abu Bakar
Ash-Shiddiq adalah memang sosok yang berwajah elok, bernasab baik, senantiasa
terdepan dalam hal kebaikan, dan ia juga ‘atiqullah (hamba yang dimerdekakan
Allah) dari neraka berdasarkan berita gembira yang disampaikan oleh Rasulullah
untuknya.

Nama julukan ini diberikan oleh Rasulullah
kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagaimana keterangan dalam sebuah hadist dari
Anas, bahwasanya ia berkata, “Bahwasanya pada suatu ketika, Rasulullah naik ke
bukit Uhud bersama dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab ra, Utsman
bin Affan ra, lalu bukit Uhud bergetar dan bergerak-gerak. Lalu Rasulullah
berkata, “Wahai Uhud, tenanglah kamu, karena sesungguhnya yang ada di atas kamu
tidak lain adalah seorang Nabi, seorang Shiddiq dan dua orang syahid.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq dijuluki Ash-Shiddiq,
karena ia selalu membenarkan dan mempercayai Rasulullah dalam hal ini, Ummu
al-Mukminin Aisyah ra berkata, “Ketika Rasulullah diperjalankan ke al-Masjid
al-Aqsha, maka orang-orang pun ramai membicarakan hal itu, hingga ada sejumlah
orang yang sebelumnya beriman kepada beliau akhirnya murtad. Ada sejumlah orang
datang menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata kepadanya, “Apakah kamu tetap
mempercayai temanmu Muhammad itu? Ia mengaku bahwa dirinya tadi malam
diperjalankan ke Bait al-Maqdis!” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Apakah benar
ia mengatakan seperti itu?” Mereka menjawab, “Ya.” Abu Bakar Ash-Shiddiq
berkata, “Jika memang benar ia mengatakan hal itu, maka sungguh ia berkata
benar dan jujur.” Mereka berkata, “Apakah kamu membenarkan dan mempercayainya
bahwa ia tadi malam pergi ke Bait al-Maqdis dan kembali pulang sebelum
shubuh?!!” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya, aku sungguh benar-benar
mempercayainya, bahkan seandainya pun ia mengatakan hal yang lebih aneh lagi
dari itu, aku membenarkan dan mempercayainya tentang kabar langit pada pagi
atau sore hari.” Dari itu, Abu Bakar dijuluki Ash-Shiddiq.

Umat bersepakat atas julukan Ash-Shiddiq
bagi Abu Bakar, karena ia senantiasa langsung membenarkan dan mempercayai
Rasulullah tanpa pernah ia bersikap agak bimbang sedikit pun serta senantiasa
berkomitmen pada kebenaran dan kejujuran, tanpa pernah melakukan hal-hal yang
tidak baik.

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkarakter julukan
ini dan dipuji oleh para penyair. Abu Mihjan Ats-Tsaqafi bertutur,

Anda dipanggil dengan panggilan Shiddiq,
sedang setiap sahabat Muhajirin selain Anda dipanggil dengan namanya tanpa
menolak. Anda terdahulu masuk Islam, dan Allah adalah Saksinya, dan Anda duduk
di ‘arisy (semacam anjang-anjang atau tenda yang menjadi tempat seorang
panglima perang untuk memantau dan memberikan perintah kepada pasukannya) yang
tinggi.

Al-Ashmu’i bertutur,

“Akan tetapi, aku mencintai Rasulullah dan
Ash-Shiddiq dengan seluruh hatiku dan aku tahu bahwa itu adalah termasuk hal
yang benar dengan cinta yang kelak aku mengharapkan pahala yang baik karenanya.

Julukan ini diberikan kepada Abu Bakar
Ash-Shiddiq dalam al-Qur’an yang artinya:

“Jikalau kalian tidak menolongnya (Muhammad),
maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir
(musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari
dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada
temannya (shahibihi), “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta
kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya
dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Dia menjadikan kalimat
orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi.
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (at-Taubah: 40)

Ulama bersepakat bahwa shahib (teman, kawan) yang
dimaksudkan dalam ayat ini adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Diriwayatkan oleh Anas
ra, bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq bercerita kepadanya dan berkata, “Aku
berkata kepada Rasulullah ketika beliau sedang berada dalam gua, “Seandainya
salah seorang dari mereka melihat ke arah kedua kakinya, niscaya ia akan
melihat keberadaan kita di bawah kedua kakinya!!” Lalu Rasulullah berkata,
“Wahai Abu Bakar, apa pandangan kamu tentang dua orang yang Allah adalah Yang
ketiga dari mereka berdua.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar menuturkan, bahwa yang dimaksudkan
dengan kata, “shahibihi” dalam ayat di atas adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq tanpa
ada yang menentang. Hadist-hadist yang menjelaskan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq
berada bersama Rasulullah di dalam gua cukup banyak dan masyhur. Ini adalah
sebuah keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tidak dimiliki oleh orang lain.

  • Al-Atqa (Orang yang Paling Bertakwa)

Julukan ini diberikan oleh Allah kepada Abu
Bakar Ash-Shiddiq dalam al-Qur’an yang artinya:

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling
takwa dari neraka itu,” (al-Lail: 17).

Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut lagi
ketika membahas tentang orang-orang yang disiksa karena keimanan mereka yang
dimerdekakan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Abu Bakar Ash-Shiddiq juga dijuluki Al-Awwah.
Nama julukan ini menunjukkan pengertian orang yang sangat takut kepada Allah.
Disebutkan sebuah keterangan dari Ibrahim an-Nakha’i, ia berkata, “Abu Bakar
Ash-Shiddiq dijuluki Al-Awwah, karena kelemah lembutan, kasih sayang, dan
sensitifitas hatinya yang mudah terharu dan menangis.

Kelahiran, Gambaran, dan Ciri-ciri Fisik Abu Bakar
Ash-Shiddiq

Ulama sudah tidak berselisih lagi bahwa Abu Bakar
Ash-Shiddiq dilahirkan setelah tahun gajah. Namun mereka masih berselisih
mengenai kapan persisnya kelahiran Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ada sebagian ulama
mengatakan, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq lahir tiga tahun setelah tahun gajah.
Ada pula yang mengatakan, dua tahun enam bulan setelah tahun gajah. Dan ada
pula yang mengatakan dua tahun beberapa bulan setelah tahun gajah, tanpa
menyebutkan jumlah bulannya secara spesifik.

Abu Bakar Ash-Shiddiq tumbuh dan berkembang dengan mulia dan
baik dalam asuhan kedua orang tua yang memiliki kehormatan, kedudukan dan
kemuliaan di tengah kaumnya. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menjadikan
Abu Bakar Ash-Shiddiq tumbuh dan berkembang sebagai sosok yang terhormat, mulia
dan memiliki kedudukan penting di tengah kaumnya.

Adapun mengenai gambaran dan ciri-ciri fisik Abu Bakar
Ash-Shiddiq, maka ia dideskripsikan sebagai sosok yang berkulit putih dan
langsing. Dalam hal ini, Qais bin Abu Hazim berkata, “Suatu ketika, aku masuk
menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia adalah sosok yang langsing dan putih.”

Para ulama sirah menggambarkan sketsa fisik Abu Bakar
Ash-Shiddiq dari keterangan para perawi. Dalam hal ini, mereka mengatakan,
bahwa ciri-ciri dan gambaran fisik Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah ia berkulit
putih kekuning-kuningan, memiliki postur yang ideal, langsing, tipis kedua
pipinya, agak sedikit membungkuk, izarnya (baju untuk menutupi separuh tubuh
bagian bawah) sering melorot dari pinggangnya (karena tubuhnya yang ramping dan
kurus), lembut dan berwajah ramping, kedua matanya cekung agak ke dalam, selalu
menjaga rasa malu, kedua betisnya kecil dan ramping, kedua pahanya kecil, padat
dan kuat, dahinya agak menonjol, ia mewarnai jenggot dan ubannya dengan henna
(inai) dan katam.

Keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq

Bapaknya adalah Utsman bin Amir bin Amr dan memiliki nama
kuniyah Abu Quhafah. Ia masuk Islam pada Fathu Makkah. Abu Bakar Ash-Shiddiq
membawanya menghadap Rasulullah, lalu beliau berkata, “Wahai Abu Bakar,
mengapakah kamu tidak membiarkannya saja, hingga kamilah yang pergi
mendatanginya, bukannya ia yang kamu bawa datang kepada kami.” Lalu Abu Bakar
Ash-Shiddiq berkata, “Dirinya yang lebih layak untuk mendatangi Anda wahai
Rasulullah.” Lalu ia pun masuk Islam dan melakukan baiat (janji setia) kepada
Rasulullah.

Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah mengucapkan selamat
kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq atas keislaman bapaknya, dan berkata kepadanya,
“Ubahlah rambutnya.” Waktu itu, rambut kepada Abu Quhafah berwarna seperti
tanaman tsaghamah (tanaman yang berwarna putih. Maksudnya adalah, rambut Abu
Quhafah sudah dipenuhi uban).

Dalam hadist ini memuat sebuah manhaj Nabawi yang mulia yang
digariskan oleh Rasulullah, yaitu memuliakan dan menghormati orang yang lebih
tua. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah dalam hadist, “Bukan termasuk
golongan kami orang yang tidak memuliakan yang tua dan tidak menyayangi yang
muda.”

Adapun ibunda Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah Salma binti
Shakhr bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim. Nama kuniyah-nya adalah Ummu
al-Khair. Ia masuk Islam sejak dini. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada
pembicaraan tentang kejadian di mana Abu Bakar Ash-Shiddiq meminta dengan
sangat kepada Rasulullah agar diperkenankan untuk tampil berdakwah secara
terang-terangan dan terbuka di Makkah.

Adapun istri Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka ia menikah dengan
empat istri yang memberinya tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Para
istri Abu Bakar Ash-Shiddiq itu adalah:

  • Qutailah binti Abd Al-Uzza bin Sa’ad bin Jabir bin Malik

Keislaman Qutailah binti Abd al-Uzza ini
masih diperselisihkan. Ia adalah ibunda Abdullah dan Asma’. Abu Bakar
Ash-Shiddiq menceraikannya ketika masih pada masa Jahiliyah. Ia pernah datang
menemui puterinya, yaitu Asma’ binti Abu Bakar di Madinah sambil membawa buah
tangan yang di antaranya adalah keju dan mentega. Namun Asma’ tidak mau
menerima buah tangan itu, menolak kedatangannya dan menolak untuk
mempersilahkannya masuk rumah. Lalu Asma’ meminta tolong kepada Aisyah agar
menanyakan masalah tersebut kepada Rasulullah, lalu beliau pun bersabda,
“Hendaklah Asma’ mempersilahkan ibunya masuk rumahnya dan hendaklah ia menerima
hadiah itu.” Dalam hal ini, Allah menurunkan ayat, “Allah tidak melarang kamu
untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu
karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (al-Mumtahanah: 8)

Yakni, Allah tiada melarang kalian berbuat
baik dan kebajikan kepada orang-orang kafir yang berdamai dengan kalian dan
tiada memerangi kalian karena agama seperti kaum perempuan dan orang-orang
lemah di antara mereka, semisal silaturahmi, memberikan kemanfaatan kepada
tetangga dan menjamu tamu, serta tidak pula mereka mengusir kalian dari negeri
kalian. Allah juga tidak melarang kalian berlaku adil di antara kalian dan
mereka dengan menunaikan hak mereka, seperti menepati janji, menunaikan amanat,
membayar harga barang yang dibeli secara penuh tanpa dikurangi.

Allah menyukai orang-orang yang berlaku
adil dan meridhai mereka, membenci orang-orang yang berlaku zhalim dan
menghukum mereka.

  • Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir

Ia berasal dari Bani Kinanah. Ia adalah
janda dari al-Harits bin Sakhbarah yang meninggal dunia di Makkah. Kemudian ia
dinikahi oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia termasuk perempuan yang masuk Islam
sejak dini, melakukan baiat dan ikut hijrah ke Madinah. Ia adalah ibunda
Abdurrahman dan Aisyah. Ia meninggal dunia pada masa Rasulullah di Madinah pada
tahun keenam hijrah.

  • Asma’ binti ‘Umais bin Ma’bad bin al-Harits

Ia adalah Ummu Abdullah, termasuk salah
satu perempuan yang ikut hijrah terdahulu. Ia masuk Islam sejak dini sebelum
masuk ke Dar al-Arqam. Ia melakukan baiat kepada Rasulullah dan ikut hijrah ke
Habasyah bersama dengan suaminya yaitu Ja’far bin Abu Thalib. Kemudian hijrah
ke Madinah bersama-sama dengan suaminya, lalu suaminya yaitu Ja’far bin Abu
Thalib gugur sebagai syahid pada perang Mu`tah. Lalu ia dinikahi Abu Bakar
Ash-Shiddiq dan dikaruniai seorang putra bernama Muhammad. Di antara para
sahabat yang meriwayatkan hadist dari Asma` binti ’Umais adalah Umar bin
Khattab, Abu Musa, Abdullah bin Abbas dan Ummu al-Fadhl istri Abdullah bin
Abbas. Ia termasuk perempuan yang memiliki kerabat mushaharah dari orang-orang
terhormat, yang di antaranya adalah Rasulullah, Hamzah, al-Abbas dan yang
lainnya.

Ia adalah Habibah binti Kharijah bin Zaid
bin Abu Zuhair al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah. Ia mengandung Ummu Kultsum
ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggal dunia. Abu Bakar Ash-Shiddiq tinggal
bersama dengannya di as-Sunh.

Adapun anak-anak Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah:

  • Abdurrahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq

Ia adalah putra tertua Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia masuk Islam pada
kejadian Hudaibiyah dan keislamannya pun baik. Ia menyertai Rasulullah dan ia
adalah sosok yang terkenal dengan keberaniannya. Setelah keislamannya, ia
memiliki sejumlah jejak rekam, sepak terjang dan catatan terpuji, mengesankan
dan patut dikenang.

  • Abdullah bin Abu Bakar ash-Shiddiq

Ia adalah orang yang memiliki peran dan kontribusi besar dalam momentum
hijrah, yaitu sebagai informan dan intelijen. Pada siang hari, ia berada di
tengah-tengah penduduk Makkah mendengarkan informasi-informasi mereka. Kemudian
pada malam hari, secara diam-diam ia menyelinap pergi ke gua tempat
persembunyian Rasulullah dan ayahnya untuk menyampaikan berita dan
informasi-informasi yang ia dengar. Lalu ketika waktu shubuh datang, maka ia
kembali lagi ke Makkah.

Ia terkena panah pada kejadian Tha’if yang menyebabkan sakit beberapa
lama, hingga akhirnya menyebabkan dirinya meninggal dunia sebagai syahid di
Madinah pada masa kekhilafahan Abu Bakar ash-Shiddiq.

Ia adalah putra Abu Bakar ash-Shiddiq dari istrinya yang bernama Asma`
binti ’Umais. Ia lahir pada tahun haji wada’ dan ia termasuk salah satu pemuda
pemberani Quraisy. Ia hidup dalam pengasuhan Ali bin Abi Thalib dan diangkat
olehnya menjadi gubernur Mesir, dan di Mesir lah ia terbunuh.

Ia adalah perempuan yang memiliki julukan Dzat an-Nithaqain, ia lebih tua
dari Aisyah. Rasulullah adalah yang memberinya julukan Dzat an-Nithaqain. Kisah
yang melatar belakangi julukan ini adalah, bahwa ia membuatkan bekal perjalanan
untuk Rasulullah dan ayahnya ketika keduanya hendak berhijrah. Namun ketika
itu, ia tidak menemukan tali yang bisa digunakan untuk mengikat bekal tersebut.
Akhirnya ia menyobek kain nithaq-nya (kain yang digunakan untuk ikat pinggang)
menjadi dua bagian, lalu salah satunya ia gunakan untuk mengikat bekal
tersebut. Maka Rasulullah pun menjulukinya Dzat an-Nithaqain.

Ia adalah istri az-Zubair bin al-Awwam. Ia berhijrah ke Madinah dalam
keadaan hamil mengandung Abdullah bin az-Zubair yang akhirnya ia lahirkan
setelah hijrah. Abdullah bin az-Zubair adalah bayi pertama dalam Islam yang
dilahirkan setelah hijrah.

Asma` binti Abu Bakar mencapai usia seratus tahun tanpa mengalami
gangguan fungsi akal dan gigi tetap utuh tidak ada yang tanggal. Ia
meriwayatkan hadist dari Rasulullah sebanyak lima puluh enam hadist. Di antara
sahabat yang meriwayatkan hadist darinya adalah Abdullah bin Abbas. Ia memiliki
sejumlah anak, yang di antaranya adalah Abdullah, Urwah, Abdullah bin Abu
Mulaikah dan yang lainnya.

Ia adalah sosok perempuan yang dermawan dan gemar berinfak. Ia meninggal
dunia di Makkah tahun 73 H.

Ia dikenal dengan sebutan Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq. Rasulullah
menikahinya ketika ia masih berusia enam tahun dan baru mencampurinya ketika ia
berusia sembilan tahun. Ia resmi diserahkan kepada beliau dan tinggal bersama
beliau pada bulan Syawwal. Ia adalah perempuan paling alim. Rasulullah
memberinya nama kuniyah Ummu Abdullah. Rasa cinta Rasulullah kepada Aisyah
menjadi contoh ikatan suami istri yang saleh dan ideal.

Asy-Sya’bi menceritakan dari Masruq, bahwasanya jika ia menceritakan dari
Ummu al-Mukminin Aisyah, maka ia berkata, “Telah menceritakan kepadaku
Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq al-Mubarra’ah (yang dinyatakan secara langsung
oleh wahyu dari langit bahwa dirinya tidak bersalah dan bersih dari fitnah dan
tuduhan palsu telah berselingkuh yang ditujukan kepada dirinya dalam kisah yang
sangat masyhur, yaitu kisah al-Ifk) Habibah Habibillah (kekasih seorang hamba
yang menjadi kekasihnya Allah)

Musnad Aisyah mencapai 2210 hadist, 174 di antaranya adalah muttafaq
Alaih (diriwayatkan oleh al-Bukhari Muslim), sedangkan yang hanya diriwayatkan
oleh al-Bukhari seorang diri berjumlah 54 hadist, sedangkan yang hanya
diriwayatkan oleh Muslim seorang diri berjumlah 69 hadist.

Aisyah hidup mencapai usia enam puluh tiga tahun lebih beberapa bulan,
meninggal dunia pada tahun 57 H tanpa memiliki keturunan.

  • Ummu Kultsum binti Abu Bakar

Ia adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq dari istrinya yang bernama Habibah
binti Kharijah. Abu Bakar ash-Shiddiq tatkala ajalnya sudah dekat berkata
kepada Ummu al-Mukminin Aisyah, “Sesungguhnya kamu mempunyai dua saudara
laki-laki dan dua saudara perempuan.” Aisyah berkata, “Setahu saya saudara
perempuanku hanya Asma`, lalu siapakah saudara perempuanku yang lainnya?” Abu
Bakar ash-Shiddiq berkata, “Janin yang masih ada dalam perut Habibah binti
Kharijah. Aku mendapat firasat kalau janin itu adalah berjenis kelamin
perempuan.”

Ternyata benar, janin itu memang lahir perempuan sebagaimana yang
dikatakan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq. Janin itu yang selanjutnya diberi nama
Ummu Kultsum lahir setelah Abu Bakar ash-Shiddiq meninggal.

Ummu Kultsum dinikahi dinikahi oleh Thalhah bin Ubaidillah yang kemudian
gugur pada perang Jamal. Ketika Ummu Kultsum dalam masa `iddahnya, Aisyah
membawanya pergi ke Makkah.

Itu adalah keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq yang diberkahi dan dimuliakan
oleh Allah dengan Islam. Ini adalah kelebihan dan keutamaan yang hanya dimiliki
oleh Abu Bakar ash-Shiddiq. Para ulama menuturkan, tidak pernah diketahui ada
empat orang yang saling berketurunan yang semuanya menjadi sahabat Rasulullah
kecuali keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq. Mereka itu adalah, Abdullah bin
az-Zubair, ibunya adalah Asma` binti Abu Bakar bin Abu Quhafah. Mereka itu
adalah empat orang yang satu keturunan. Juga, Muhammad bin Abdurrahman bin Abu
Bakar bin Abu Quhafah.

Di antara para sahabat, tidak ada orang yang kedua orang tuanya dan
anak-anaknya masuk Islam semuanya, menjadi sahabat semuanya berikut
cucu-cucunya kecuali hanya Abu Bakar ash-Shiddiq dari pihak laki-laki dan
perempuan. Hal ini telah penulis jelaskan. Mereka semua beriman kepada Nabi
Muhammad dan menjadi sahabat beliau. Itulah keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq,
semuanya adalah orang-orang beriman dan tidak ada satu pun di antara mereka
yang diketahui sebagai orang munafik. Keutamaan dan kelebihan ini tidak
dimiliki kecuali oleh keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq.

Dulu
dikatakan, bahwa ada rumah tangga yang merupakan rumah tangga keimanan dan ada
pula rumah tangga yang merupakan rumah tangga kemunafikan. Keluarga dan rumah
tangga Abu Bakar ash-Shiddiq adalah salah satu keluarga keimanan dari kalangan
Muhajirin, sedangkan keluarga Bani an-Najjar adalah salah satu keluarga
keimanan dari kalangan Anshar.

Catatan dan Rekam Jejak Moral Abu Bakar ash-Shiddiq dalam
Masyarakat Jahiliyah

Pada masa Jahiliyah, Abu Bakar ash-Shiddiq termasuk salah
satu orang Quraisy yang terkemuka, terhormat dan salah satu tokohnya. Sebelum
muncul Islam, kemuliaan dan kehormatan di kalangan Quraisy berada di tangan
sepuluh orang dari sepuluh klan atau marga.

Al-Abbas bin Abd al-Muththalib dari Bani Hasyim, ia pada
masa Jahiliyah memegang jabatan sebagai orang yang bertugas menyediakan
kebutuhan air bagi jamaah haji, dan tugas ini tetap ia pegang dalam Islam.

Abu Sufyan bin Harb dari Bani Umayyah, ia adalah orang yang
memegang panji Quraisy al-‘Uqab, ia adalah orang yang ditunjuk sebagai pemimpin
jika kaum Quraisy tidak menemukan satu kata menyangkut siapa yang akan
memimpin.

Al-Harits bin Amir dari Bani Naufal, ia adalah orang yang
memegang jabatan ar-Rifadah, yaitu mengumpulkan iuran dari kaum Quraisy untuk
selanjutnya digunakan untuk membantu orang-orang yang tidak memiliki bekal.

Utsman bin Thalhah bin Zam’ah bin al-Aswad dari Bani Asad.
Ia adalah orang yang selalu dimintai pendapat, pandangan dan pertimbangan.
Tiada suatu urusan pun yang hendak diputuskan, melainkan terlebih dahulu selalu
diajukan kepadanya. Jika ia menyetujuinya, maka akan dilaksanakan, namun jika
ia tidak menyetujuinya, maka ia memberikan pilihan. Ia memiliki beberapa orang
dekat yang menjadi pembantunya.

Abu Bakar ash-Shiddiq dari Bani Taim, ia adalah orang yang
memegang jabatan mengurusi al-Asynaq, yaitu diyat dan denda. Jika ia mengambil
alih suatu beban tanggungan diyat atau denda, lalu ia meminta bantuan kepada
kaum Quraisy untuk ikut menanggungnya, maka mereka mempercayainya dan
meluluskan pengambil alihan itu. Namun jika orang lain selain Abu Bakar yang
mengambil alih, maka mereka tidak mau membantu.

Khalid bin al-Walid dari Bani Makhzum. Ia adalah orang yang
memegang jabatan mengurusi al-Qubbah dan al-`A’innah. Adapun al-Qubbah, adalah
tenda yang mereka dirikan sebagai tempat mengumpulkan berbagai perbekalan untuk
menyiapkan pasukan. Sedangkan al-`A’innah adalah, tali kendali yang digunakan
untuk kuda kaum Quraisy dalam pertempuran.

Umar bin al-Khathab dari Bani ’Adi, ia adalah orang yang
memegang jabatan mengurusi masalah as-Sifarah (pendelegasian, sebagai duta atau
utusan untuk melakukan pembicaraan ketika terjadi konflik) pada masa Jahiliyah.

Shafwan bin Umayyah dari Bani Jumah, ia adalah orang yang
bertugas mengurusi masalah al-Azlam (alat berbentuk seperti lidi atau anak
panah yang ditaruh di dalam Ka’bah dan digunakan untuk mengundi nasib dan
meminta putusan ketika hendak melakukan suatu hal).

Al-Harits bin Qais dari Bani Sahm, ia adalah orang yang
menangani masalah hukumah (peradilan) dan bertugas mengumpulkan harta mereka
yang dipersembahkan untuk tuhan-tuhan mereka.

Dalam masyarakat Jahiliyah, Abu Bakar ash-Shiddiq termasuk
salah satu orang terkemuka, terhormat, terpandang dan terbaik. Mereka biasa
meminta bantuan kepadanya menyangkut apa yang menimpa mereka. Di Makkah, Abu
Bakar ash-Shiddiq memberikan jamuan dalam bentuk yang tidak pernah dilakukan
oleh siapa pun.

Abu Bakar ash-Shiddiq dikenal dengan sejumlah hal yang di
antaranya adalah:

  • Ilmu pengetahuan tentang nasab.

Abu Bakar ash-Shiddiq termasuk salah satu
ahli nasab dan pakar tentang berita-berita bangsa Arab. Dalam hal ini, ia
memiliki catatan pengalaman dan kapabilitas yang cukup besar, hingga menjadikan
dirinya master atau guru bagi banyak pakar nasab seperti Uqail bin Abu Thalib
dan yang lainnya.

Abu Bakar ash-Shiddiq memiliki sebuah
keistimewaan yang membuat dirinya disukai banyak orang Arab, yaitu ia tidak
pernah mencela nasab siapa pun dan tidak suka menyebutkan aib, cacat,
kekurangan dan kejelekan orang lain. Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang
paling ahli dan paling paham tentang nasab Quraisy berikut baik buruknya. Dalam
hal ini, Aisyah meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Abu
Bakar adalah orang Quraisy yang paling ahli dan paling paham tentang nasab
Quraisy.

Pada masa Jahiliyah, Abu Bakar ash-Shiddiq
adalah seorang saudagar. Ia masuk ke Bushra dari negeri Syam untuk berniaga. Ia
terbiasa malang melintang menjelajahi negeri-negeri yang ada. Ia memiliki modal
sebesar empat puluh ribu dirham. Pada masa Jahiliyah, ia adalah sosok yang
dikenal sangat dermawan.

  • Familiar, menarik, bersahabat dan disukai banyak
    orang.

Ibnu Ishaq dalam as-Sirah menuturkan, bahwa
mereka sangat menyukai Abu Bakar ash-Shiddiq dan senang kepadanya. Mereka
mengakui bahwa ia adalah sosok yang memiliki keutamaan yang agung dan akhlak
yang mulia. Mereka biasa datang kepadanya, merasa nyaman, akrab dan “sreg”
dengannya, karena pengetahuannya, perniagaannya dan sikapnya yang familiar dan
bersahabat.

Ibnu ad-Daghinah berkata kepada Abu Bakar
ash-Shiddiq ketika bertemu dengannya pada saat ia dalam perjalanan hendak
berhijrah, “Sungguh Anda adalah orang yang menghiasi klan, gemar memberikan
pertolongan ketika terjadi musibah, memberi bantuan kepada orang yang tidak
berpunya dan gemar berbuat kebajikan.”

Ibnu Hajar memberikan komentar terhadap
perkataan Ibnu ad-Daghinah dengan mengatakan, bahwa di antara catatan keutamaan
Abu Bakar ash-Shiddiq adalah, bahwa Ibnu ad-Daghinah yang merupakan pimpinan
kabilah al-Qarah ketika Abu Bakar ash-Shiddiq mengembalikan kepadanya jaminan
perlindungan yang sebelumnya ia berikan kepadanya di Makkah, maka ia
mendeskripsikan Abu Bakar ash-Shiddiq dengan sifat-sifat yang sama seperti yang
digunakan oleh Khadijah ketika mendeskripsikan Rasulullah ketika beliau pertama
kali secara resmi diangkat sebagai Rasul. Ini adalah sebuah pujian yang luar
biasa bagi Abu Bakar ash-Shiddiq. Karena sifat-sifat Rasulullah sejak dini
adalah sifat-sifat yang paling sempurna.

  • Tidak pernah sedikit pun menenggak minuman keras
    pada masa Jahiliyah.

Abu Bakar ash-Shiddiq termasuk orang yang
paling menjaga kesucian diri pada masa Jahiliyah, sampai-sampai ia mengharamkan
minuman keras atas dirinya sendiri sebelum Islam.

Dalam hal ini, Aisyah menuturkan, bahwa Abu
Bakar ash-Shiddiq mengharamkan minuman keras atas dirinya sendiri. Maka, ia pun
tidak pernah menenggak minuman keras, baik pada masa Jahiliyah apalagi pada
masa Islam. Ceritanya adalah, bahwa pada suatu ketika Abu Bakar ash-Shiddiq
lewat di dekat seorang laki-laki mabuk yang memegangi kotoran dan
mendekatkannya ke mulutnya, lalu ketika mencium baunya, maka ia pun
menjauhkannya. Melihat hal itu, Abu Bakar ash-Shiddiq pun berucap, “Orang ini
tidak tahu apa yang sedang ia perbuat.”

Dalam sebuah riwayat Aisyah disebutkan,
bahwasanya Abu Bakar ash-Shiddiq dan Utsman bin Affan meninggalkan minum khamar
pada masa Jahiliyah.

Ada orang yang bertanya kepada Abu Bakar
ash-Shiddiq, “Apakah Anda menenggak minuman keras pada masa Jahiliyah?” Lalu
Abu Bakar ash-Shiddiq menjawab, “A’udzi billah!” Lalu dikatakan kepadanya,
“Kenapa?” Lalu ia berkata, “Aku memelihara kehormatanku dan menjaga martabat
dan muru`ahku. Karena orang yang minum khamar, maka ia adalah orang yang
menyia-nyiakan dan mengabaikan kehormatan, martabat, dan murua`ahnya.”

  • Tidak pernah sujud kepada berhala.

Abu Bakar ash-Shiddiq sama sekali tidak
pernah sujud kepada berhala. Abu Bakar ash-Shiddiq berkata di tengah-tengah
sekumpulan para sahabat, “Aku sama sekali tidak pernah sujud kepada berhala.
Ceritanya adalah, ketika aku mulai menginjak akil baligh, ayahku Abu Quhafah
mengajakku ke sebuah bilik yang di dalamnya terdapat berhala, lalu ia berkata
kepadaku, “Ini adalah tuhan-tuhan kamu yang luhur dan mulia.” Lalu ia pun
beranjak pergi dan meninggalkanku di sana sendiri. Lalu aku pun mendekati
berhala itu dan berkata, “Aku lapar, tolong beri aku makan,” namun berhala itu
tidak menjawab. Lalu aku kembali berkata, “Aku butuh pakaian, tolong beri aku
pakaian,” namun lagi-lagi berhala itu tidak menjawab. Lalu aku pun melemparkan
sebongkah batu ke atas berhala itu, hingga roboh.”

Demikianlah, akhlaknya yang terpuji,
akalnya yang cerdas dan cemerlang serta fitrahnya yang lurus, normal, dan sehat
menjadikan dirinya sosok yang anti pati terhadap setiap hal yang mencederai muru`ah
dan mengurangi kehormatan dari perbuatan-perbuatan dan moral masyarakat
Jahiliyah yang berlawanan dengan fitrah yang lurus dan sehat serta bertentangan
dengan akal yang waras dan kedewasaan. Karena itu, tidak aneh jika sosok yang
akhlaknya seperti itu langsung bergabung dengan parade dakwah kebenaran dan
langsung menempati posisi terdepan.

Setelah keislamannya, Abu Bakar ash-Shiddiq
pun menjadi sosok terbaik setelah Rasulullah. Dalam hal ini, beliau bersabda,
“Orang-orang terbaik dari kalian pada masa Jahiliyah menjadi orang-orang
terbaik kalian dalam Islam jika mereka paham dan mengerti.

Ustadz Rafiq al-’Azhm memberikan catatan
tentang potret kehidupan Abu Bakar ash-Shiddiq pada masa Jahiliyah seperti
berikut, “Sungguh seseorang yang lahir dan tumbuh di tengah lingkungan
paganisme yang dipenuhi berhala dan arca-arca di mana tidak ada agama yang
menjadi pengekang dan pengontrol dan tidak pula syariat yang menjadi
pembimbing, penuntun, dan pemandu jiwa, namun ia tetap memiliki keutamaan
seperti itu, tetap memiliki idealisme dan kekokohan dalam memegang teguh ’iffah
dan muru`ah, maka sungguh sudah sepantasnya orang seperti itu menerima Islam
dengan sepenuh hati, menjadi orang yang pertama beriman kepada sang penunjuk
dan pembimbing para hamba, bergegas masuk Islam untuk membuat orang-orang yang
sombong, angkuh, dan ’inad (keras kepala) menjadi geram dan terhina, menjadi
orang yang menyiapkan, membuka dan memuluskan jalan mendapat petunjuk dan panduan
dengan agama Allah yang lurus yang mencerabut akar-akar perbuatan tercela dan
hina dari jiwa orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan panduan dengan petunjuk
dan tuntunan agama-Nya serta yang memegang teguh tali agama-Nya yang kokoh.

Betapa mulianya Abu Bakar ash-Shiddiq,
karena ia adalah sosok yang memuat stok melimpah nilai-nilai yang luhur, akhlak
terpuji, watak dan karakter yang mulia dalam masyarakat Quraisy sebelum Islam.
Penduduk Makkah memberikan kesaksian dan testimoni tentang keunggulannya atas
yang lain dalam dunia akhlak, nilai-nilai dan keteladanan.

Tidak diketahui ada satu orang pun dari kaum Quraisy yang mencela Abu Bakar ash-Shiddiq, menilai negatif dirinya, memiliki pandangan miring tentang dirinya, melecehkannya dan menghina dirinya, sebagaimana yang mereka perbuat terhadap orang-orang Mukmin yang lemah. Di mata mereka, Abu Bakar ash-Shiddiq tidak memiliki aib dan cacat kecuali keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Perlu bantuan? Chat disini aja!